23 Januari 2026

Harga Bitcoin Jatuh Tajam di Tengah Gejolak Sentimen Global

file_00000000f2f871fa9bc5836c1a3421bd

Ilustrasi Bitcoin

Inspirasikalbar, Jakarta – Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami koreksi tajam dan membebani pasar kripto global pada akhir pekan ini. Pelemahan ini dipicu oleh tekanan sentimen makro, termasuk kekhawatiran perang tarif global dan pelarian investor dari aset berisiko, sehingga menyebabkan pasar digital turun signifikan.

Menurut data pasar, Bitcoin terpantau jatuh di bawah level US$92.000 bahkan sempat menyentuh sekitar US$90.000, menandai penurunan berkelanjutan yang telah berlangsung selama beberapa sesi perdagangan. Kekhawatiran meningkatnya perang dagang antara AS dan Uni Eropa turut memperburuk sentimen pasar, membuat investor mengalihkan modal ke aset yang lebih aman.

Fear & Greed Index menunjukkan sentimen pasar masih di zona ketakutan, mencerminkan kehati-hatian investor. Berbagai likuidasi besar dalam kontrak berjangka juga terjadi, dengan puluhan juta dolar posisi beli terhapus dalam waktu singkat.

Tidak hanya Bitcoin, mata uang kripto utama lain seperti Ethereum (ETH), Solana (SOL), dan XRP juga mencatat koreksi harga seiring turunnya kapitalisasi pasar kripto global dalam 24 jam terakhir.

Sementara itu, analis pasar menyatakan bahwa meskipun tekanan jangka pendek masih kuat, fundamental jangka panjang Bitcoin tetap di anggap kuat oleh beberapa pelaku industri. Pernyataan ini menyusul akumulasi besar-besaran Bitcoin oleh beberapa institusi selama minggu ini, yang menunjukkan kepercayaan terhadap aset tersebut meski terjadi volatilitas.

Strategis investor seperti SkyBridge Capital bahkan menyebut bahwa volatilitas pasar saat ini bisa menciptakan peluang masuk bagi investor jangka panjang, meskipun risiko tetap tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan ekonomi global.

Pasar kripto, di pimpin oleh Bitcoin, sedang menghadapi tekanan signifikan akibat sentimen global yang memburuk. Meski begitu, beberapa indikator fundamental dan aksi institusi menunjukkan bahwa potensi pemulihan tetap ada, terutama bagi investor jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *