30 November 2025

Liga Gala Karya 2025 di Jakarta Tuai Kekecewaan, Panitia Dinilai Langgar Aturan dan Tak Profesional

Liga Sepakbola

Peserta Liga Gala Karya 2025 di Jakarta kecewa karena Panitia diduga melanggar aturan dan tidak Professional. (Foto/InspirasiKalbar)

InspirasiKalbar, Jakarta – Gelaran Liga Sepakbola Karyawan (Gala Karya) 2025 di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, pada 5–12 Oktober 2025, menuai kritik tajam dari sejumlah tim peserta.

Tim Bank Kalbar, Beakuda Sambas, Manokwari Selatan, hingga RPL Banten menyuarakan kekecewaannya terhadap keputusan panitia yang di nilai tidak konsisten dan tidak profesional dalam menjalankan aturan pertandingan.

Turnamen yang di gagas oleh Yayasan Gala Karya Indonesia ini sejatinya menjadi ajang silaturahmi dan kompetisi bergengsi antar-karyawan dari berbagai perusahaan serta instansi di seluruh Indonesia.

Ketum ESI Sulsel, Harap Olahraga Esport Berkembang

Sebanyak 16 tim dengan total 480 peserta, terdiri dari pemain dan ofisial, ambil bagian dalam turnamen yang di gadang sebagai ajang prestisius tingkat nasional tersebut.

Namun, semangat sportivitas dan profesionalisme yang seharusnya menjadi ruh kompetisi, justru dinilai tercoreng oleh sikap panitia yang di anggap plin-plan dan melanggar tata tertib pertandingan.

Kekecewaan para peserta memuncak setelah panitia mengubah sistem pertandingan secara tiba-tiba.
Dalam technical meeting yang digelar pada Sabtu, 4 Oktober 2025, panitia telah menetapkan sistem setengah kompetisi, di mana tim juara grup akan langsung melaju ke babak semifinal dan selanjutnya ke final.

Hadiah Utama Sepeda Motor Peserta Police Women Run Ramai

Namun kenyataannya, setelah babak penyisihan grup berakhir, panitia justru menambah babak perdelapan final, mengikuti desakan dari beberapa tim runner-up grup.

Keputusan ini dianggap mencederai prinsip keadilan dan sportivitas yang menjadi dasar penyelenggaraan turnamen.

“Aturannya sudah jelas sejak awal. Tapi setelah pertandingan berjalan, tiba-tiba diubah hanya karena tekanan dari tim runner-up. Ini jelas tidak profesional,” ungkap sejumlah pelatih dari tim peserta, termasuk perwakilan Bank Kalbar dan Beakuda Sambas.

Tetap Berlaga Walau Tidak Mendapat Dukungan dari Pemerintah

Menurut mereka, keputusan panitia itu bukan hanya merusak sistem pertandingan, tetapi juga menghilangkan semangat fair play yang menjadi ciri utama turnamen nasional.

Pelatih dan manajemen tim peserta menilai, keputusan sepihak panitia bisa membuka ruang bagi dugaan permainan tidak sehat di balik layar.

“Kami mencurigai ada kepentingan tertentu. Tim kami sudah keluar sebagai juara grup dan berhak ke semifinal, tapi tiba-tiba status itu di ubah. Ini menimbulkan tanda tanya besar,” ujar salah satu pelatih yang enggan di sebutkan namanya.

Mereka mendesak agar pihak berwenang dan penyelenggara nasional Gala Karya Indonesia melakukan evaluasi terhadap kinerja panitia lokal.

Bupati Harapkan Lahir Petinju Handal di Ketapang

“Kalau di biarkan, ajang sebesar ini akan kehilangan kredibilitas. Kami berharap evaluasi menyeluruh di lakukan agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

Bukan hanya soal teknis, peserta juga mengeluhkan kerugian material akibat keputusan sepihak panitia.
Tim-tim peserta, seperti Bank Kalbar, telah mengeluarkan biaya besar untuk memberangkatkan 21 orang, termasuk pemain dan ofisial, dari Kalimantan ke Jakarta.

“Kami datang jauh-jauh dengan biaya mandiri. Tapi begitu tiba di sini, aturan malah di ubah seenaknya. Tim yang seharusnya lolos malah di paksa main lagi. Ini sangat mengecewakan,” kata salah satu manajer tim.

Daud Yordan vs Hernan Leandro Carrizo rebutkan IBA World Super Lightweight

Kekecewaan itu juga di sampaikan oleh sejumlah pemain yang merasa perjuangan mereka di lapangan sia-sia karena keputusan panitia yang tidak berpihak pada aturan.

“Turnamen ini seharusnya profesional karena berskala nasional. Tapi faktanya, malah seperti liga kampung. Sangat di sayangkan,” ucap salah satu pemain Bank Kalbar.

Para pelatih dan peserta berharap, Gala Karya Indonesia sebagai penyelenggara pusat mengambil langkah tegas terhadap panitia pelaksana 2025.

Mereka menilai, kejujuran dan konsistensi dalam menjalankan aturan harus menjadi prioritas dalam setiap penyelenggaraan event olahraga, apalagi yang membawa nama besar instansi dan perusahaan nasional.

Aset Melesat, Laba Naik – Bank Kalbar Terus Jadi Andalan Daerah

“Kami bukan hanya bermain bola, tapi membawa nama baik perusahaan dan daerah. Kalau aturan bisa di ubah sesuka hati, di mana lagi kami mencari keadilan dalam olahraga karyawan?” tutur salah satu pelatih asal Kalimantan.

Meski kecewa, tim-tim peserta seperti Bank Kalbar menyatakan tetap menjunjung tinggi semangat sportivitas dan berharap Gala Karya ke depan bisa di kelola lebih profesional, transparan, dan berintegritas.

Dengan sorotan tajam terhadap penyelenggaraan tahun ini, Liga Sepakbola Karyawan Gala Karya 2025 di Jakarta menjadi pelajaran penting bagi dunia olahraga karyawan di Indonesia, bahwa profesionalisme dan keadilan bukan sekadar jargon, melainkan nyawa bagi setiap kompetisi yang ingin di hormati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *