26 Februari 2026

Nenek Korban Bongkar Tekanan Psikis Korban Kekerasan Seksual

Calling_20251230_094036_0000

Foto : Ilustrasi

Inspirasikalbar, Pontianak – Nenek korban kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, berinisial R, mengungkapkan kondisi korban serta dinamika keluarga pasca mencuatnya kasus dugaan persetubuhan yang di lakukan oleh kakek dan paman korban.

R menegaskan bahwa korban tidak tinggal menumpang di rumah pelaku, melainkan membangun rumah sendiri di atas tanah milik pelaku, dengan posisi berada di bagian belakang rumah pelaku.

“Rumahnya itu bukan menumpang di rumah pelaku, tapi di tanah pelaku. Dia bangun rumah sendiri, posisinya di belakang rumah pelaku, dua-duanya,” ujar R saat diwawancarai.

Ia mengaku sempat menanyakan langsung kepada korban terkait adanya ancaman dari pelaku. Berdasarkan pengakuan korban, tidak ada ancaman fisik, namun terdapat tekanan secara psikis.

“Saya tanya, apakah mbah pernah ngancam. Katanya nggak ada ancaman fisik, tapi ancamannya itu mau di usir sama orang tuanya,” ungkapnya.

Atas peristiwa yang menimpa cucunya, R menegaskan pihak keluarga korban menolak segala bentuk penyelesaian damai dan meminta proses hukum berjalan hingga tuntas.

“Harapan saya dan keluarga, ini harus di selesaikan betul-betul. Orang itu harus di hukum seberat-beratnya. Kami tidak ada toleransi, tidak ada damai,” tegasnya.

Adanya Perbedaan Sikap Antar keluarga

R juga mengungkapkan adanya perbedaan sikap di internal keluarga, terutama antara keluarga korban dan keluarga terduga pelaku.

“Kalau dari keluarga korban, jelas kami tidak terima. Kami sedih melihat anak ini,” katanya.

Menurut R, korban di kenal sebagai anak yang ceria dan aktif, bahkan sehari-hari lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya.

“Anaknya itu ceria, humble, banyak bicara. Hari-harinya makan dan tidur di rumah saya. Anak-anak saya ada tiga, semuanya perempuan, dan mereka sangat dekat dengan korban,” ujarnya.

Sementara itu, keluarga terduga pelaku di sebut masih menyangkal tuduhan tersebut. Mereka beralasan bahwa di lingkungan rumah korban banyak anak laki-laki yang merupakan teman ayah korban.

“Kalau keluarga pelaku tetap tidak terima. Alasannya di rumah korban banyak anak cowok, kawan bapaknya. Tapi menurut saya itu tidak mungkin,” kata R.

Ia menegaskan keyakinannya bahwa korban tidak berbohong, mengingat beratnya peristiwa yang di alami serta konsistensi keterangan korban.

“Ini bukan masalah kecil. Anak ini sekolah, dia tahu apa yang dia bicarakan. Saya tanya berkali-kali, dan yang dis ebut hanya dua orang itu saja. Tidak ada yang lain,” pungkas R.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *