24 Februari 2026

Orang Tua dan Guru SD 10 Pal Sembilan Keluhkan Porsi Rapel MBG

df3439b9-b894-46d0-ad07-5a97f37cd549

Menu MBG rapel 3 hari SDN 10 desa Pal

Inspirasikalbar, Kubu Raya  –Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang di gadang-gadang menjadi solusi pemenuhan gizi siswa justru memunculkan keluhan di lapangan.

Di salah satu sekolah dasar di wilayah Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, orang tua dan guru mulai mempertanyakan porsi makanan yang di bagikan secara rapel selama Ramadan.

Sejumlah orang tua murid dan guru di SD 10 Sungai Kakap mengeluhkan menu serta porsi paket MBG yang di nilai tidak mencukupi kebutuhan siswa.

Keluhan ini mencuat setelah paket makanan yang di terima siswa di sebut-sebut merupakan pembagian untuk beberapa hari sekaligus, namun dengan porsi yang tidak logika.

Salah seorang guru yang enggan di sebutkan namanya mengungkapkan, persoalan mulai menjadi pembicaraan bersama pihak pengantar menu MBG ke Sekolah.

Saat itu, terjadi perbedaan penjelasan terkait jumlah porsi ayam yang di bagikan kepada siswa.

“Awalnya di bilang itu untuk dua hari. Tapi kemudian di jelaskan bahwa paket itu sebenarnya untuk tiga hari. Banyak yang mengira ayamnya dua potong, ternyata satu paha di potong dua untuk di bagikan,” ujarnya.

Porsi tidak Sesuai dengan anggaran

Menurutnya, kondisi tersebut membuat siswa menerima porsi yang jauh dari harapan. Dalam satu paket, siswa hanya mendapatkan sebagian paha kecil ayam, siomay, serta satu besar butir dan telur puyuh tanpa tambahan kuah atau pelengkap lainnya.

“Anak-anak jadi bingung. Makan dengan lauk seperti itu terasa kurang. Tidak ada kuah, tidak ada buah, bahkan susu juga tidak ada,” katanya.

Keluhan serupa juga di sampaikan Nana orang tua murid. Ia menilai program yang seharusnya membantu kebutuhan gizi anak justru tidak sesuai dengan yang di harapkan, terutama ketika makanan di bagikan secara rapel untuk beberapa hari.

“ bagaimana mau di anggap begizi, roti terbuat dari tepung, siomay dari tepung, susu tidak ada, apa yang di dapat gizinya,” ujar Nana kesal.

Menurutnya, jika paket tersebut memang di peruntukkan untuk beberapa hari sekaligus, maka seharusnya porsi yang di berikan lebih jelas dan mencukupi. Mereka khawatir tujuan utama program untuk meningkatkan asupan gizi siswa tidak tercapai.

“ Cari untung nya gila gilaan SPPG nya, mereka zolim sama murid, menu kaya gitu mah untuk kasi anak pemilik MBG nya aja,” tegasnya.

Selain soal porsi, persoalan anggaran juga menjadi perhatian. Informasi yang di terima pihak sekolah di sebut berbeda dengan yang beredar di masyarakat.

Untuk siswa kelas rendah di sebut sekitar Rp8 ribu per anak, sedangkan kelas atas sekitar Rp10 ribu per anak.

“Yang kami dengar sebelumnya Rp15 ribu per anak. Tapi di lapangan tidak seperti itu. Ini yang membuat guru dan orang tua bertanya-tanya,” ujar guru tersebut.

Perbincangan mengenai pelaksanaan MBG di wilayah Kubu Raya belakangan memang ramai di grup komunikasi sekolah maupun media sosial.

Sejumlah pihak berharap pemerintah daerah serta pihak penyedia program dapat melakukan evaluasi menyeluruh.

Guru dan orang tua menilai transparansi anggaran, kualitas menu, serta pengawasan distribusi perlu di perjelas agar pelaksanaan program MBG benar-benar memberikan manfaat bagi siswa, bukan justru menimbulkan polemik di lingkungan sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *