Herman Hofi: Satgas Pangan Jangan Sekadar Catat Harga

Pengamat kebijakan publik Herman Hofi Munawar kritik kinerja Satgas Pangan. (Foto/IK)
InspirasiKalbar, Pontianak – Pengamat kebijakan publik Herman Hofi Munawar melontarkan kritik tajam terhadap kinerja Satgas Pangan yang ia nilai belum menyentuh akar persoalan distribusi sembako.
Ia menilai pola kerja Satgas selama ini lebih banyak menyoroti harga pada tingkat pengecer, tanpa membedah struktur distribusi yang memicu gejolak harga di pasar.
Menurut Herman, langkah tersebut terkesan seremonial dan belum menunjukkan keseriusan pengawasan pangan secara menyeluruh.
“Lucu cara kerja Satgas Pangan. Mereka turun ramai-ramai ke pasar pakai seragam, tanya harga, lalu selesai. Itu cenderung seremonial dan pencitraan,” tegasnya, Kamis (26/2).
Herman menekankan, Satgas Pangan harus melakukan kontrol ketat terhadap sembilan bahan pokok melalui pendekatan terarah dan berbasis data.
Baca Juga: https://inspirasikalbar.com/kasus-perusakan-sawit-850-batang-oleh-anggota-dprd-bengkayang-minta-tahan/
Ia meminta Satgas memegang data rinci tentang sumber komoditas, termasuk persentase pasokan yang berasal dari luar Pulau Kalimantan dan kontribusi hasil petani lokal.
“Satgas harus tahu berapa persen komoditas berasal dari luar Kalimantan dan berapa persen hasil petani lokal. Tanpa data itu, pengawasan tidak punya arah,” ujarnya.
Herman juga menyoroti pentingnya pengawasan sejak pintu masuk distribusi. Ia meminta Satgas memulai kontrol dari pelabuhan dan jalur ekspedisi, lalu melacak alur barang hingga ke gudang-gudang besar.
“Kalau mau serius, mulai dari pintu masuk. Lacak alur barang dari pelabuhan sampai gudang. Jangan hanya berhenti di pasar,” katanya.
Ia mendorong pengecekan rutin terhadap kapasitas dan isi gudang secara senyap guna mencegah praktik penahanan stok yang memicu kelangkaan semu.
Baca Juga: https://inspirasikalbar.com/lintas-etnis-pontianak-perkuat-toleransi-lewat-naik-dango-ke-3/
Menurutnya, lonjakan harga sering kali muncul akibat permainan pada level distribusi, bukan semata-mata karena faktor pasar.
“Kalau harga di pasar tinggi, Satgas harus bisa telusuri di titik mana terjadi lonjakan tidak wajar dalam rantai distribusi. Itu tugas utama mereka,” tegas Herman.
Ia menambahkan, kunjungan ke pasar seharusnya berfungsi sebagai alat konfirmasi data dari hulu ke hilir, bukan tujuan akhir pengawasan.
Herman mengingatkan, kehadiran aparat secara terbuka dan beramai-ramai justru memberi ruang bagi para distributor atau pemain besar untuk bersiap dan mengatur skema mereka.
“Pengawasan harus tajam dan terukur. Satgas perlu jelas soal output dan intermediate outcome. Tanpa itu, pengawasan hanya ramai di permukaan,” pungkasnya.
