Inspirasi Kalbar
Beranda Berita Ngampar Bide, Jejak Sunyi Syukur Dayak di Rumah Radangk

Ngampar Bide, Jejak Sunyi Syukur Dayak di Rumah Radangk

Foto Ritual ngampar bide

Daftar isi:

[Sembunyikan] [Tampilkan]

    Inspirasikalbar, Pontianak – Fajar baru saja menyapu langit Pontianak ketika langkah-langkah perlahan mulai memenuhi halaman Rumah Radangk, Jumat pagi, 17 April 2026.

    Di bawah atap rumah panjang khas Dayak itu, suasana hening terasa berbeda—lebih dalam, lebih sarat makna. Hari itu, bukan sekadar pembukaan sebuah festival, melainkan awal dari perjalanan spiritual yang telah diwariskan turun-temurun: Naik Dango ke-3.

    Di tengah ruangan, tikar bide di gelar. Anyaman sederhana itu menjadi pusat perhatian, seolah menyimpan cerita panjang tentang kehidupan, kerja keras, dan harapan masyarakat Dayak.

    Ritual Ngampar Bide pun di mulai, di pimpin oleh penyangahatn, Erdi, yang akrab di sapa Pak Gori. Dengan gerak yang tenang dan penuh keyakinan, ia memandu setiap tahapan ritual—nyanggahant, mantak, hingga masak—yang di jalankan dengan khidmat.

    Tak ada hiruk-pikuk. Hanya suara lirih doa dan gesekan alat-alat tradisional yang mengisi ruang. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta, yang dalam kepercayaan Dayak di kenal sebagai Jubata.

    Ritual Ungkapan Syukur

    Bagi masyarakat Dayak, Naik Dango bukan sekadar perayaan. Ia adalah ungkapan syukur atas hasil panen yang telah di lewati selama setahun.

    Padi, jagung, timun, dan hasil bumi lainnya bukan hanya komoditas, melainkan simbol kehidupan. Setelah di panen, padi di jemur, di tumbuk, lalu di simpan dalam dango lumbung padi sebagai bekal untuk masa depan.

    “Padi yang baik harus di jaga, supaya bisa jadi benih untuk tahun berikutnya,” tutur Erdi pelan, seakan menegaskan bahwa tradisi ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga keberlanjutan hidup.

    Ngampar Bide sendiri memiliki makna yang lebih dari sekadar proses merontokkan padi. Anyaman bide menjadi alas yang menghubungkan kerja manusia dengan hasil alam.

    Di situlah bulir padi dipisahkan, di pilih, dan di hargai. Sebuah proses sederhana yang mencerminkan ketelitian, kesabaran, dan rasa hormat terhadap alam.

    Di sudut lain, tampak tersaji lemang, cucur, dan beras pulut. Aroma khas makanan tradisional itu menguar, menghadirkan kehangatan yang menyatu dengan suasana sakral.

    Hidangan ini bukan hanya untuk di nikmati, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

    Ketua Panitia Naik Dango ke-3, Vandektrus Derek, menyebut ritual ini sebagai pintu awal dari rangkaian panjang kegiatan budaya. Namun lebih dari itu, ia adalah permohonan restu.

    “Hari ini kita memulai dengan Ngampar Bide, memohon berkat kepada Jubata agar seluruh rangkaian berjalan lancar,” ujarnya.

    Rangkaian kegiatan

    Rangkaian kegiatan akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan dari ritual adat hingga seminar, dari karnaval budaya multi etnis hingga perlombaan tradisional.

    Puncaknya akan di gelar pada 21 April, saat Naik Dango resmi di buka dan tamu dari berbagai daerah, termasuk Sarawak, Malaysia, turut hadir.

    Namun, di balik gemerlap agenda itu, esensi sejatinya tetap berpijak pada nilai yang sama: menjaga warisan leluhur.

    Lebih dari 60 pelaku UMKM turut ambil bagian, menghadirkan denyut ekonomi rakyat yang berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Di malam hari, hiburan tradisional seperti jonggan dan penampilan artis Dayak akan menghidupkan suasana, menjadikan Naik Dango bukan hanya milik satu kelompok, tetapi ruang pertemuan lintas budaya.

    Di kota yang terus tumbuh dan berubah, ritual Ngampar Bide menjadi pengingat yang lembut namun tegas: bahwa modernitas tidak harus menghapus akar tradisi. Justru di situlah identitas dijaga.

    Saat matahari mulai meninggi, ritual pun usai. Namun maknanya tetap tinggal pada bide yang tergelar, pada doa yang terucap, dan pada harapan yang disimpan di setiap bulir padi.

    Naik Dango kembali di mulai. Dan bersama itu, cerita tentang syukur, alam, dan kebersamaan kembali di tuturkan, dari generasi ke generasi.

    Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

    Klik Disini
    Bagikan:

    Iklan