Ngampar Bide, Penanda Sakral Awal Naik Dango di Pontianak
InspirasiKalbar, Pontianak – Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak membuka rangkaian Naik Dango ke-3 melalui ritual adat Ngampar Bide di Rumah Radangk Pontianak, Jumat (17/4/2026) pagi. Prosesi tersebut menjadi penanda awal perayaan budaya tahunan yang berlangsung pada 20 hingga 25 April 2026.
Suasana khidmat menyelimuti Rumah Radangk saat pengurus DAD Kota Pontianak menjalankan tahapan ritual. Prosesi dipimpin penyangahatn Erdi, yang akrab disapa Pak Gori, melalui dua tahapan utama yakni nyanggahant mantak dan masak.
Erdi menjelaskan, Ngampar Bide memiliki makna penting dalam tradisi pertanian masyarakat Dayak, khususnya pada proses pascapanen padi. Bide berfungsi sebagai alat merontokkan bulir padi dari tangkai sekaligus sarana pemilahan kualitas hasil panen. Selain itu, bide juga berfungsi sebagai alas penjemuran agar proses pengeringan berlangsung merata.
“Bide digunakan untuk merontokkan bulir padi sekaligus memilih kualitasnya. Selain itu, bide juga menjadi alas penjemuran supaya padi kering merata,” ujar Erdi.
Ia menambahkan, Ngampar Bide tidak hanya berkaitan dengan aktivitas teknis pertanian, tetapi juga mengandung makna spiritual. Ritual tersebut menjadi ungkapan syukur masyarakat Dayak kepada Jubata atas hasil panen yang diperoleh selama satu tahun.
“Hasil panen seperti padi, jagung, dan timun menjadi simbol kesejahteraan petani. Semua hasil itu kemudian disimpan dalam dango sebagai persiapan musim tanam berikutnya,” kata Erdi.
Menurutnya, proses pengolahan padi hingga penyimpanan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian. Padi yang telah dipanen melalui proses penjemuran dan penumbukan sebelum masuk ke dalam lumbung agar tetap terjaga kualitasnya.
Dalam pelaksanaan ritual, masyarakat juga menghadirkan berbagai sajian adat seperti lemang, cucur, dan beras pulut. Sajian tersebut menjadi bagian dari simbol kebersamaan dalam tradisi masyarakat Dayak.
Ketua Panitia Naik Dango ke-3 DAD Kota Pontianak, Vandektrus Derek, menyampaikan bahwa Ngampar Bide menjadi bagian awal yang memiliki makna permohonan restu sebelum seluruh rangkaian kegiatan berlangsung.
“Hari ini pelaksanaan Ngampar Bide sebagai bentuk permohonan restu kepada Jubata sekaligus pembukaan awal kegiatan Naik Dango,” ujar Vandektrus.
Ia menyebutkan, rangkaian kegiatan selanjutnya meliputi misa syukur, upacara adat Ngalanjukatn, seminar hak masyarakat adat, serta karnaval budaya multi-etnis. Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 21 April dengan kehadiran tamu dari Sarawak, Malaysia.
Selain kegiatan budaya, pelaksanaan Naik Dango juga melibatkan pelaku usaha lokal yang berpartisipasi selama rangkaian acara berlangsung.
Ngampar Bide dalam rangkaian Naik Dango mencerminkan keterkaitan antara tradisi pertanian, nilai spiritual, dan kehidupan sosial masyarakat Dayak. Ritual tersebut menjadi simbol awal yang menandai dimulainya seluruh rangkaian kegiatan adat sekaligus menjaga kesinambungan tradisi.
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini








