11 Februari 2026

Vihara Tua Sungai Kakap Jadi Simbol Toleransi, Sujiwo: Pengembangan vihara sebagai wisata religi.

10-OPEN-698498749 (1)

Inspirasikalbar, Kubu Raya— Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menyiapkan Vihara Tri Dharma Hian Tian Siang Tie di Desa Sungai Kakap sebagai wisata religi dan budaya, tidak hanya karena nilai sejarahnya, tetapi juga sebagai simbol toleransi dan kehidupan multikultural yang telah terjaga selama puluhan tahun.

Vihara yang di kenal sebagai salah satu kelenteng tertua di kawasan pesisir Kubu Raya ini berdiri seiring berkembangnya komunitas Tionghoa Sungai Kakap, yang sejak masa lampau menetap dan berdagang di sepanjang jalur sungai. Sungai Kakap sendiri di kenal sebagai kawasan persinggahan dan perdagangan, tempat berbagai etnis hidup berdampingan, termasuk Melayu, Tionghoa, dan Dayak.

Selain sebagai tempat ibadah umat Tri Dharma, vihara ini sejak dahulu menjadi ruang sosial dan budaya, tempat masyarakat berkumpul saat perayaan keagamaan seperti Imlek dan Cap Go Meh. Dalam praktiknya, kegiatan keagamaan di vihara kerap melibatkan masyarakat lintas agama dan etnis, mencerminkan harmoni sosial yang masih terjaga hingga kini.

Bupati Kubu Raya Sujiwo mengatakan, nilai sejarah dan toleransi itulah yang menjadi dasar pengembangan vihara sebagai wisata religi. “Kelenteng ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi bagian dari sejarah panjang Sungai Kakap dan bukti hidupnya toleransi antarumat beragama,” ujarnya.

Pemkab Kubu Raya kini fokus menata kawasan sekitar vihara yang di nilai masih semrawut. Penataan meliputi perapian kios dan ruko, pembongkaran teras bangunan yang tidak tertata, serta penataan ulang pedagang. Pemerintah memastikan pedagang terdampak akan di fasilitasi kios baru secara gratis.

Selain itu, bantuan Rp50 juta di salurkan untuk pembangunan vihara, serta anggaran sekitar Rp200 juta di alokasikan untuk peningkatan akses jalan dan pemasangan conblok. Penghijauan kawasan juga di rencanakan untuk memperkuat kesan religius dan budaya.

Sujiwo berharap, pengembangan vihara ini dapat menjadi ruang edukasi sejarah dan toleransi, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. “Ini bisa menjadi wisata religi yang tidak hanya indah, tetapi juga mengajarkan nilai kebersamaan dan multikultur,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *