Penyuluh Pertanian Di tuntut Adaptif, Teknologis dan Solusi bagi Petani
Inspirasikalbar,PONTIANAK — Tantangan sektor pertanian Kalimantan Barat semakin kompleks. Perubahan iklim, karhutla dan kabut asap, fluktuasi harga, persoalan akses pasar hingga tuntutan peningkatan daya saing membuat peran penyuluh pertanian tidak lagi cukup sebatas menyampaikan program pemerintah kepada petani.
Pesan itu disampaikan Ketua HKTI Provinsi Kalimantan Barat saat pengukuhan Pengurus Dewan Pengurus Wilayah Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kalbar masa bakti 2026-2031.
Ia menegaskan, penyuluh harus mampu beradaptasi dengan perubahan dan memahami persoalan nyata yang dihadapi petani. Penyuluh dituntut meningkatkan kompetensi, menguasai teknologi informasi serta bekerja secara profesional.
“Never give up, pantang menyerah. Dalam situasi apa pun, kita harus meningkatkan kompetensi, mengadopsi teknologi informasi dan terus berkarya secara profesional,” tegasnya.
Menurutnya, pengukuhan pengurus Perhiptani bukan sekadar pergantian atau penguatan struktur organisasi. Momentum tersebut harus menjadi peneguhan amanah agar penyuluh semakin aktif hadir di tengah petani.
Penyuluh, kata dia, memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah dan kondisi riil di lapangan. Karena itu, penyuluh harus mampu menerjemahkan kebijakan menjadi solusi yang benar-benar dapat dirasakan petani.
“Penyuluh tidak hanya menyampaikan pengetahuan dan teknologi, tetapi juga menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi petani,” ujarnya.
Ia menyebut sektor pertanian memiliki posisi penting dalam perekonomian Kalimantan Barat. Pada triwulan II 2026, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan memberikan kontribusi sebesar 20,96 persen terhadap struktur ekonomi daerah.
Besarnya kontribusi tersebut, menurutnya, harus diikuti dengan perubahan cara pandang terhadap pembangunan pertanian. Orientasi pembangunan tidak boleh berhenti pada peningkatan produksi.
“Pertanian tidak cukup hanya meningkatkan produksi. Kita harus mendorong produktivitas, efisiensi, nilai tambah, akses pasar serta kesehatan petani,” katanya.
Ia mendorong sektor pertanian Kalbar bergerak menuju sistem yang lebih modern dengan memanfaatkan teknologi, inovasi, data dan hilirisasi. Dengan demikian, petani tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi mampu memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari hasil pertanian.
Di sisi lain, tantangan pertanian ke depan dinilai semakin berat. Karhutla dan kabut asap yang terjadi saat ini menjadi salah satu gambaran nyata dampak perubahan lingkungan yang dapat mengganggu aktivitas dan produktivitas masyarakat.
Selain itu, petani juga menghadapi ketidakpastian harga, perubahan kebutuhan pangan dan persaingan pasar yang semakin terbuka.
Karena itu, ia menilai pembangunan pertanian membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan penyuluh, HKTI, kelompok tani, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, lembaga penelitian dan masyarakat.
“Tantangan pertanian tidak mungkin dihadapi sendiri-sendiri. Kita harus membangun kolaborasi yang kuat,” tegasnya.
Ia berharap Perhiptani Kalbar mampu menjadi kekuatan strategis dalam memperkuat kapasitas penyuluh sekaligus mendorong perubahan nyata di tingkat petani.
Rencana pelaksanaan Jambore Perhiptani di Kalimantan Barat juga diharapkan menjadi momentum untuk mempertemukan penyuluh dan kelompok tani, bertukar inovasi serta membangun model pertanian yang dapat menjadi contoh bagi daerah lain.
Bagi Kalimantan Barat, penguatan penyuluh dinilai bukan sekadar agenda organisasi, tetapi bagian penting dari upaya membangun pertanian yang lebih produktif, modern dan memiliki daya saing.
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini










