Sri Rahayu: “Guru Harus Berkembang dan Meningkatkan Kualitas Diri”
“Untuk menjadi yang terbaik, untuk menjadi mutiara yang indah dan intan berkilau setiap orang melewati proses kehidupan yang akan mengubah diri sendiri menjadi bersinar dan bermanfaat bagi orang lain.” (Sri Rahayu Chandrawati).
Menurut Sri Rahayu Chandrawati, S.Pd.,M.Pd untuk menjadi dirinya yang sekarang, banyak proses yang telah dilalui. Suka duka dalam kehidupan telah membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dalam keluarga maupun karier. Seperti kata mutiara yang menjadi semangatnya, ia menilai proses kehidupan itu seperti mengasah mutiara dan intan menjadi indah dan berkilau.
Kopdes Merah Putih Siap Gerakkan Ekonomi Desa
Siapa Sri Rahayu Chandrawati?
Sri Rahayu sapaan akrabnya adalah seorang pengawas sekolah tingkat SMP di Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang. Ia seorang perempuan yang sudah melewati banyak waktu sebagai tenaga kependidikan di Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang. Pengabdiannya sebagai pengawas sekolah membawa Sri Rahayu berkeliling menyapa sekolah-sekolah dari kota hingga pedalaman. Tujuannya untuk memberikan pembinaan manajerial dan akademik bagi kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan.
Sebagai pengawas sekolah yang harus memberikan pembinaan kepada kepala sekolah dan guru tingkat SMP di Kabupaten Ketapang, Sri Rahayu seringkali turun ke lapangan. Banyak hal baik yang diterimanya selama bertugas. Masyarakat di hulu, kata dia, sangat menghargai dengan menyambut seperti keluarga. Bagi Sri Rahayu, tugas ke sekolah-sekolah di daerah hulu bukanlah persoalan dan kendala tapi membuatnya bahagia.
KKP Segel Tersus WHW AR Ketapang Diduga Ilegal
Tidak sekedar memberikan pembinaan, Sri Rahayu selalu memberikan motivasi kepada kepala sekolah dan guru untuk meningkatkan kualitas diri.
“Guru tidak hanya dituntut untuk memajukan murid tetapi harus meningkatkan kualitas diri dengan mengikuti pengembangan diri, berbagai praktik baik dan mengikuti kompetensi guru,” ungkap Sri Rahayu.
Menurutnya, untuk saat ini hampir 90 persen guru yang ada di Ketapang sudah memiliki sertifikasi guru. Bagi guru yang belum memiliki sertifikasi masih ada kesempatan untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Ia berharap kepala sekolah dan guru bisa menguasai 4 pilar kompetensi guru sesuai UU No 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen sehingga bisa menciptakan tenaga pendidik yang profesional.
“Empat kompetensi yang harus dimiliki seorang guru yaitu kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian, “ kata Sri Rahayu.
Sri Rahayu menjelaskan kompetensi profesional mewajibkan guru harus menguasai materi bidang studi yang diampu secara luas, mendalam dan komprehensif. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan mengelola pembelajaran dan memahami karakteristik peserta didik. Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik untuk berinteraksi, komunikasi dan adaptasi secara efektif dengan lingkungan. Kompetensi kepribadian yaitu kemampuan personal mencerminkan kepribadian stabil, arif, bijaksana sehingga bisa menjadi teladan bagi anak didik.
Jejak Karier Sri Rahayu
Sebelum menjadi pengawas sekolah tingkat SMP di Kabupaten Ketapang, Sri Rahayu memulai karier pada Tahun 1997 sebagai guru di SMPN 2 Tumbang Titi. Setelah lima tahun bertugas di Tumbang Titi, tepatnya Tahun 2002, Sri Rahayu pindah ke SMPN 3 Ketapang sebagai guru Bahasa Indonesia. Dua tahun kemudian, ia diangkat menjadi kepala sekolah di SMPN 3 Sukadana.
Karier Sri Rahayu terus melaju. Namun di tengah perjalanan kariernya yang terus menanjak, ia mendapat ujian kehilangan suami tercinta. Rasa kehilangan yang dalam dan mempertimbangkan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi tiga putra putrinya, Sri Rahayu akhirnya memutuskan pindah di Ketapang pada Tahun 2007. Kala itu bertepatan Sukadana dimekarkan menjadi Kabupaten Kayong Utara. Pindah di Ketapang dan mengabdi sebagai kepala sekolah di SMPN 3 Matan Hilir Selatan (MHS) bagi Sri Rahayu merupakan sebuah keputusan tepat.
Bhayangkara Presisi Tembus Semifinal AVC 2026 Usai Tundukkan Wakil Kazakhstan di Pontianak
Kesedihan tidak membuatnya berhenti. Bagi Sri Rahayu musibah yang dialami adalah cara Allah mengangkat derajatnya. Ia terus berjuang demi anak-anaknya yang kala itu masih kecil. Prinspinya, jika sukses dan punya finansial mencukupi kesehatan dan pendidikan anak akan terjamin.
Setelah enam tahun mengabdi sebagai guru maupun kepala sekolah, pada Tahun 2008, Sri Rahayu mencoba peruntungan mengikuti seleksi sebagai mahasiswa UPI Bandung untuk mengikuti program S2 yang dibiayai oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ketapang.
Usai menyelesaikan program pascasarjana yang ditempuh selama dua tahun, Sri Rahayu kembali mengikuti seleksi pengawas sekolah. Dewi keberuntungan kembali berpihak kepadanya, ia lulus dan menjabat sebagai pengawas sekolah hingga sekarang. Setelah jadi pengawas berbagai kegiatan yang diikuti antara lain menjadi narasumber berakitan pendidikan di tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Selain itu mengikuti berbagai ajang penulisan karya tulis, pengawas berprestasi di tingkat kabupaten provinsi, kabupaten dan nasional.
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini











