Inspirasi Kalbar
Beranda Budaya Mendaki dari Tangga ke Tangga Menuju Tian Tan Buddha Lantau

Mendaki dari Tangga ke Tangga Menuju Tian Tan Buddha Lantau

InspirasiKalbar, Hong Kong – Langkah kaki gemetar itu akhirnya terhenti di anak tangga ke-268. Di puncak podium teratai tiga tingkat yang megah, angin perbukitan Pulau Lantau berembus dingin, menyapu keringat yang menetes di dahi. Tepat di hadapan, berdiri sesosok perunggu raksasa berukuran 34 meter dengan bobot lebih dari 250 ton. Patung Tian Tan Buddha—atau yang lebih populer disapa Big Buddha—duduk bersila penuh keagungan. Dari ketinggian Bukit Muk Yue ini, riuk-riuk perkotaan Hong Kong yang bising seolah pudar, tergantikan oleh hamparan panorama hijau, birunya Laut Tiongkok Selatan, dan keheningan yang melingkupi sanubari.

Namun, keajaiban perjalanan menuju sang Buddha sejatinya tidak dimulai di tangga pertama. Petualangan ini berawal dari tempat yang jauh lebih rendah, sebuah kawasan di pesisir utara Pulau Lantau yaitu Tung Chung. Bagi sebagian besar pelancong, Tung Chung mungkin dikenal sebagai kawasan pemukiman padat dengan gedung-gedung apartemen menjulang tinggi, serta surga belanja (outlet) bermerek. Namun, bagi mereka yang hendak berziarah atau sekadar melarikan diri dari riuk pikuk pusat kota Hong Kong, Tung Chung adalah tempat yang cocok untuk dikunjungi buat berlibur dan melepas penat.

Di sinilah Stasiun Kereta MTR Tung Chung bertemu dengan Terminal Kereta Gantung Ngong Ping 360. Dua dunia berseberangan berkumpul di satu titik: kecanggihan infrastruktur modern dan ketenangan alam pegunungan yang sakral. Perjalanan sepanjang 5,7 kilometer yang menghubungkan Tung Chung dengan Dataran Tinggi Ngong Ping merupakan salah satu pengalaman menaiki kereta gantung (bi-cable) terpanjang dan paling spektakuler di Asia. Dan kata “360” dalam namanya bukanlah sekadar embel-embel pemasaran. Itu adalah ungkapan yang akan memberikan sebuah pengalaman pandang tanpa batas—sebuah bentangan lanskap 360 derajat yang merentang dari lanskap perkotaan hingga puncak-puncak bukit yang diselimuti kabut.

Kabut tipis menyelimuti Teluk Tung Chung saat kabin gantung perlahan bergerak meninggalkan stasiun. Untuk mereka yang cukup berani, memilih kabin “Crystal Cabin”—kabin dengan lantai kaca transparan—memberikan sensasi tersendiri. Di bawah telapak kaki, laut yang membiru perlahan berganti menjadi pepohonan lebat Taman Nasional Lantau Utara. Rasa deg-degan bercampur takjub hadir bersamaan saat tubuh melayang ratusan meter di udara.

Dari dalam kabin yang bergerak mulus selama kurang lebih 25 menit, mata dimanjakan oleh pemandangan alam yang luar biasa. Di sebelah kiri, terlihat megahnya Bandara Internasional Hong Kong, dengan pesawat-pesawat yang lepas landas dan mendarat bagaikan mainan kecil. Tampak pula garis panjang Jembatan Hong Kong-Zhuhai-Macau yang membelah lautan seperti naga putih raksasa. Namun, seiring kabin menanjak melewati stasiun belokan di lereng gunung, pemandangan buatan manusia itu perlahan menghilang. Alam mengambil alih skenario. Bukit-bukit hijau yang bergelombang, jalur trek pendakian yang meliuk-liuk kecil di bawah, serta udara pegunungan yang segar mulai menyapa.

Lalu, di antara celah bukit dan kabut tipis yang menyingkap perlahan, sosok itu mulai kelihatan. Dari kejauhan, Patung Buddha Tian Tan tampak anggun, duduk tenang di puncak gunung. Sebuah siluet hitam berlatar langit biru yang seketika menghadirkan rasa tenang bagi siapa pun yang memandangnya.

Kereta gantung perlahan mendarat di Terminal Ngong Ping. Begitu melangkah keluar, pengunjung tidak langsung dihadapkan pada patung utama, melainkan disambut oleh Desa Ngong Ping (Ngong Ping Village). Desa berarsitektur tradisional Tionghoa ini dirancang dengan sangat apik. Toko-toko souvenir, kedai teh aromatik, dan kedai makanan lokal berjejer rapi di sepanjang jalan beratap genteng hitam. Wangi dupa yang terbakar mengayun pelan di udara, bercampur dengan aroma kue camilan manis khas lokal.

Meskipun desa ini dipenuhi wisatawan dari berbagai penjuru dunia, suasana religius tetap terasa kental. Burung-burung merpati terbang bebas di antara gapura berukir, dan di beberapa sudut, sapi-sapi liar—yang dihormati dan dibiarkan hidup bebas di Pulau Lantau—tampak santai berjalan di antara para pengunjung. Desa ini menjadi area jeda yang sempurna; tempat membilas keletihan fisik sebelum memulai ziarah yang sesungguhnya.

Keluar dari area desa, sebuah gerbang pualam putih yang megah berdiri kokoh, menandai jalan masuk menuju area spiritual Tian Tan. Di ujung jalan setapak yang rata, tangga batu menjulang tinggi, seolah menjadi jembatan yang menghubungkan bumi dan langit. 268 anak tangga, angka itu mungkin terdengar menggentarkan bagi sebagian orang. Namun, dalam filosofi Buddhis, setiap pijakan tangga bukan sekadar usaha fisik, melainkan simbol pembersihan diri dari beban-beban duniawi. Setiap langkah adalah proses refleksi.

Anak tangga pertama terasa ringan. Anak tangga ke-50 mulai menuntut napas yang lebih teratur. Di anak tangga ke-100, lutut mulai terasa pegal. Namun, anehnya, makin tinggi Anda melangkah, rasa lelah itu berganti dengan semangat yang membuncah. Di sepanjang kiri dan kanan tangga, pemandangan bukit-bukit hijau makin memanjakan mata. Ketika akhirnya menjejakkan kaki di anak tangga terakhir, rasa lelah itu hilang seketika.

Tiba di puncak pendakian, Tian Tan Buddha berdiri begitu perkasa di atas tahta teratai. Tangan kanannya terangkat dengan telapak menghadap ke luar—sebuah gestur (Abhaya Mudra) yang melambangkan penghapusan rasa takut dan pemberian kedamaian. Sementara tangan kirinya terbuka melintang di pangkuan, melambangkan kemurahan hati (Varada Mudra). Uniknya, tidak seperti kebanyakan patung Buddha di Asia yang menghadap ke selatan, Tian Tan Buddha menghadap ke utara—menatap lurus ke arah Beijing, ibu kota Tiongkok, sebagai simbol perlindungan dan kedamaian bagi tanah airnya.

Mengintari dasar patung, terdapat enam patung perunggu lebih kecil yang dikenal sebagai “Enam Deva Pengabdi” (The Offering of the Six Devas). Patung-patung ini digambarkan sedang mempersembahkan bunga, kemenyan, pelita, salep, buah, dan musik kepada Buddha. Masing-masing barang bawaan tersebut melambangkan enam kebajikan utama dalam ajaran Buddha: kemurahan hati, moralitas, kesabaran, semangat, meditasi, dan kebijaksanaan.

Banyak wisatawan yang tidak tahu bahwa struktur di bawah patung perunggu raksasa ini memiliki tiga lantai ruangan museum internal. Di dalam kompleks dasar podium Tian Tan ini, tersimpan berbagai artefak seni Buddhis yang bernilai tinggi, lukisan-lukisan kaligrafi yang elok, serta sebuah lonceng perunggu besar yang dirancang untuk berbunyi 108 kali sehari—menyimbolkan pelepasan dari 108 penderitaan manusia. Namun, permata utama dari bagian dalam patung ini berada di lantai teratas: penyimpanan Relik Tulang Sang Buddha (Buddha’s Bone Relic). Di ruangan ber-AC yang senyap ini, suasana sakral terasa begitu tebal. Para peziarah menundukkan kepala dalam doa, menyerap kedamaian dalam keheningan yang syahdu.

Dari pelataran teratas puncak tempat Buddha bersemayam, berdiri mengitari sudut mana pun menyajikan panorama tanpa batas. Ke mana pun mata memandang, ada keindahan alam yang tak terlukiskan. Di satu sisi, kompleks Biara Po Lin—biara bersejarah yang berdiri sejak awal abad ke-20—tampak megah dengan atap emas dan ukiran naga merahnya yang kontras di antara rindangnya pepohonan. Di sisi lain, deretan pegunungan Lantau membentang membelah pulau, diselingi jurang-jurang terjal dan jalan setapak kecil yang sering dilalui para pendaki. Jauh di garis horison, Samudra Tiongkok Selatan membentang luas, memantulkan siluet kapal-kapal kargo besar yang bergerak lambat. Roda-roda perkotaan modern Hong Kong terasa sangat jauh dari sini, terpisahkan oleh jarak dan ketinggian.

Sensasi berada di puncak ini bukan hanya tentang memandang keindahan visual 360 derajat. Ini adalah momen perspektif: menyadari betapa kecilnya kita di tengah luasnya semesta, namun di saat yang sama, merasakan kedamaian yang begitu besar di dalam dada. Matahari mulai bergeser ke barat, memancarkan sinar keemasan yang menimpa permukaan perunggu patung Big Buddha, membuatnya berkilau indah seperti mahakarya emas yang hidup. Waktu untuk melangkah turun telah tiba.

Menuruni 268 anak tangga terasa jauh lebih mudah. Langkah kaki kini terasa lebih ringan. Sebelum kembali ke terminal kereta gantung, banyak pengunjung yang menyempatkan diri mampir ke Biara Po Lin untuk mencicipi hidangan vegetarian khas yang disajikan di sana—sebuah penutup kuliner yang sempurna, sehat, dan menenangkan. Saat masuk kembali ke dalam kabin Ngong Ping 360 untuk perjalanan meluncur pulang menuju Tung Chung, pemandangan yang sama tersaji kembali, namun dengan nuansa yang berbeda. Sinar senja yang kemerahan memantul di permukaan laut dan kaca-kaca gedung pencakar langit Tung Chung yang makin mendekat.

Perjalanan dari Tung Chung menuju Tian Tan Buddha bukan sekadar perjalanan liburan biasa. Ini adalah lintasan yang menghubungkan kebisingan dunia modern dengan ketenangan spiritual alam pegunungan. Sebuah perjalanan pendek yang menyegarkan pikiran dan jiwa, meninggalkan kenangan manis tentang senyum sang Buddha perunggu yang terus memancarkan kedamaian dari atas puncak pulau. (Siti Nurhayati)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
https://mancingjitu.com/