Kamar Segagah Kotak Sapu

InspirasiKalbar, Cerbung Bab 2 – Perjalanan dari stasiun MAR depo kargo menuju flat tempat tinggal Mbok Jum di area Care Kok terasa jauh lebih panjang dari perkiraan Rani. Apalagi koper merah tua miliknya yang rodanya lepas satu itu terus-terusan berbunyi “sret-sret-sret” saat diseret di atas trotoar. Suaranya bising sekali, mengalahkan hiruk-pikuk klakson bus tingkat dan hilir mudik warga lokal Negeri Lap Kong yang berlari mengejar detik.
“Mbok, pelan-pelan toh,” keluh Rani sambil mengusap peluh yang menetes di pelipisnya. Kaki cewek berumur dua puluhan itu rasanya mau copot. “Koperku makin miring ini, lama-lama rodanya halus semua sampai menyisakan piringan besi.”
Mbok Jum yang jalan melenggang santai di depannya memutar badan, lalu mengibaskan tangan ke udara dengan gaya serba tahu. “Halah, Ran! Kamu ini baru melangkah beberapa meter saja sudah mengeluh. Di Negeri Lap Kong ini, kaki itu modal utama! Negeri Batako ini memang begini, jalannya serba cepat dan tak kenal ampun. Kalau kamu jalannya meliuk-liuk kayak siput kena air sabun, bisa-bisa kamu ditabrak orang-orang dari Negeri Aetheria atau Negeri Eldoria yang pada buru-buru berangkat kerja!”
“Iya, tapi kan koperku beban hidupnya berat, Mbok…” Rani menghentikan kalimatnya begitu matanya menengadah mendongak. Di hadapan mereka, berdiri sebuah bangunan jangkung yang seolah tak memiliki ujung.
Gedung itu tinggi sekali sampai puncaknya menembus awan tipis sore hari. Dinding luarnya dipenuhi jemuran pakaian berbagai warna yang bergelantungan memamerkan kain, serta deretan unit pendingin ruangan yang tak henti-hentinya meneteskan air ke trotoar.
“Nah, sampai juga kita di kompleks permukiman Care Kok!” Mbok Jum menepuk salah satu pilar beton gedung dengan bangga, seolah gedung itu milik nenek moyangnya sendiri. “Ayo masuk, kamar Mbok ada di lantai lima belas.”
“Lantai lima belas, Mbok?” Rani menelan ludah yang terasa seret di tenggorokan. “Lifnya jalan, kan? Nggak perlu panjat tangga darurat?”
“Ya jalan toh! Kamu pikir ini rumah di kampung yang kalau mau naik ke lantai dua harus manjat pohon kelapa dulu?” seloroh Mbok Jum sambil melangkah masuk ke dalam lobi gedung yang sempit dan berbau minyak angin.
Begitu pintu lif terbuka di lantai lima belas, Mbok Jum menuntun Rani menyusuri lorong sempit yang remang-remang. Suara televisi dari balik pintu kamar yang tertutup rapat bersahutan—ada yang menayangkan berita bahasa lokal yang sengau, ada juga suara musik khas Negeri Valoria yang rancak dan mendayu-dayu.
Mbok Jum berhenti tepat di depan sebuah pintu besi bernomor 1508. Ia mengeluarkan seikat kunci yang tebal dari dalam kantong celananya, memutarnya dua kali hingga terdengar bunyi klik, lalu mendorong pintu hingga terbuka.
Kriet…
Rani melangkah masuk, lalu mendadak membeku di depan pintu. Matanya membelalak, mengamati sekeliling ruangan yang hanya diterangi satu bohlam kuning redup.
“Mbok… ini kamarnya?” tanya Rani berbisik, takut salah dengar atau salah masuk gudang.
“Iya! Gimana? Nyaman, kan? Serba ada dan praktis!” Mbok Jum meletakkan tas jinjingnya di atas kasur lipat dengan penuh kebanggaan.
Rani menatap ruangan itu tanpa kedip. Luasnya benar-benar cuma seukuran kotak sepatu giant. Di dalam ruangan super irit itu, terdapat satu ranjang tingkat besi yang agak berkarat, lemari plastik tiga susun, dan satu meja lipat yang menempel di dinding. Kalau koper merah milik Rani ditaruh secara melintang di lantai, tidak ada lagi ruang untuk melangkah apalagi menari.
“Mbok… ini kalau saya mau selonjoran pas tidur, kakinya harus ditaruh di mana?” ujar Rani dengan wajah sangat polos.
“Oalah, Ran, Ran,” Mbok Jum tertawa terkekeh-kekeh sampai perutnya naik turun. “Di Negeri Batako ini, tanah itu harganya lebih mahal dari emas murni milik bangsawan Negeri Celestia! Kamar segagah kotak sepatu begini saja sewanya tiap bulan sudah bisa buat beli kambing dua ekor yang gemuk di kampung halamanmu. Kamu harus bersyukur, ini masih mending ada jendelanya walau cuma seukuran talenan!”
“Tapi Mbok, ini tempat tidurnya sempit banget. Kalau saya mimpi buruk terus berguling ke samping, bisa langsung nyungsep terjun bebas ke lantai!”
“Ya makanya kalau tidur itu berdoa dulu, jangan mimpi dikejar hantu atau monster dari Negeri Drakenor!” Mbok Jum berkacak pinggang. “Wis ta lah, taruh kopermu di pojokan dekat bawah ranjang. Ran, kalau kopermu sudah rusak parah buang saja. Nanti pas gajian atau mau cuti beli baru. Supaya kamarmu tidak sesak, sesesak isi dompetku. Sekarang kamu mandi dulu biar segar, terus kita masak mi instan rasa kari.”
Rani menurut pasrah. Ia memiringkan kopernya agar bisa diselipkan di bawah kasur besi bagian bawah, sebelum di buang. Karena keterbatasan ruang, separuh badan koper itu masih sedikit terdorong keluar mencuat ke lorong depan pintu.
“Oia Mbok, tadi pas di stasiun MAR, saya bingung deh,” Rani membuka percakapan lagi sambil membuka tas kecilnya untuk mengambil handuk. “Kenapa nama-nama jalur keretanya aneh banget ya? Ada Cing Moi, King King, terus Katel…”
“Lho, itu kan nama-nama daerah penting dan legendaris di Negeri Lap Kong, Nduk!” sahut Mbok Jum dari arah dapur mini yang ukurannya menyatu dengan lorong pintu masuk. “Cing Moi itu tempat transit kalau orang mau menuju ke bandara Internasional, King King itu stasiun raksasa tempat orang-orang pindah jalur kereta, nah kalau Katel itu pusat bisnis paling sibuk dan mentereng! Orang-orang kaya dari Negeri Zephyria sama Negeri Lumina yang pakai jas klimis pada kumpulnya di Katel semua.”
“Ooo… gitu,” Rani manggut-manggut mencoba mencerna geografi negeri asing ini. “Terus kalau Mbak Sri, adiknya Mbok Jum yang tadi itu, memangnya sudah lama kerja jadi staf di MAR?”
“Sudah delapan tahun!” suara Mbok Jum terdengar bangga dari balik kompor listrik yang berdesis. “Dia itu dulu jalurnya lurus, ikutan tes resmi petugas stasiun. Makanya dia paham betul seluk-beluk jalur kereta dari Katel sampai Care Kok. Cuma ya gitu, sifat jailnya kagak hilang-hilang dari zaman masih ngompol di kampung sampai punya anak enam.”
“Sifat jail gimana, Mbok?” Rani mendekati Mbok Jum yang sedang menyeduh dua mangkuk mi instan yang uapnya membumbung harum.
“Ya kayak tadi itu!” Mbok Jum menunjuk dengan sendok kayu. “Dia sengaja gak ngasih tahu Mbok kalau kita salah naik kereta ke depo kargo, soalnya dia mau ngerjain Mbok sekalian ngambil oleh-oleh keripik tempe! Coba kalau kita gak ketemu dia di sana, bisa-bisa kita nyasar terus berjalan sampai ke batas wilayah Negeri Eldoria!”
“Tapi kan Mbok Jum sendiri yang tadi sok tahu ngajak main terobos masuk ke dalam kereta…” gumam Rani pelan sekali, hampir tak terdengar.
“Apa, Ran? Kamu ngomong apa tadi? Muka kamu kok berkerut gitu?” Mbok Jum melotot curiga sambil memegang piring.
“Eh, enggak, Mbok! Saya bilang, aroma mi instan buatan Mbok Jum harumnya sampai menembus tulang rusuk! Seakan aku mau di lamar CEO.” kilah Rani cepat dengan senyum paling manis yang bisa ia ukir.
Mbok Jum menyerahkan satu mangkuk mi instan hangat ke tangan Rani. Mereka berdua akhirnya duduk bersila di lantai—satu-satunya area kosong berukuran satu meter persegi yang tersisa di kamar itu.
“Dengerin Mbok ya, Ran,” kata Mbok Jum serius sambil menyeruput kuah mi-nya yang pedas gurih. “Besok kamu kan mulai dijemput sama petugas agen buat diantar ke rumah majikan baru. Di Lap Kong ini, yang penting kamu rajin, gesit, dan jangan penakut. Warga Negeri Batako ini kelihatannya memang galak, nada bicaranya tinggi seperti orang mengajak bertengkar, dan geraknya serba cepat. Tapi aslinya, kalau kita bekerja jujur dan pinter ambil hati, mereka bisa sangat baik dan royal.”
Rani memandangi mangkuk mi di tangannya, lalu menatap ke luar jendela kecil di dinding. Di balik kaca yang agak berdebu itu, pendar lampu warna-warni dari ratusan gedung jangkung Negeri Lap Kong menyala indah menghiasi kegelapan malam. Kota ini begitu asing, begitu padat, namun menyimpan sejuta harapan untuk keluarganya.
“Iya, Mbok. Rani bakal berusaha keras. Biar bisa kirim uang buat Ibu sama bayar sekolah Adik di kampung,”” sahut Rani dengan mata berbinar penuh tekad.
“Nah, gitu dong! Itu baru ponakan kesayangannya Mbok Jum!” seru Mbok Jum gembira. “Wis, cepat habiskan mi-mu. Habis ini kita langsung tidur. Besok pagi-pagi kita harus naik bus menuju daerah pemukiman mewah.”
Malam semakin larut. Suara kebisingan lalu lintas kota Lap Kong perlahan menyusut menjadi dengung tipis. Rani merayap naik ke ranjang tingkat bagian atas melalui tangga besi kecil, sementara Mbok Jum tidur di ranjang bawah. Kasur busa yang tipis terasa agak keras menekan punggung Rani, tapi rasa lelah akibat perjalanan jauh membuat matanya perlahan-lahan terasa berat.
Brak! Krek… krek… krek…
Tiba-tiba di tengah malam yang dingin, Rani terbangun gara-gara mendengar suara aneh dari arah lorong luar kamar. Suaranya seperti langkah berat yang diseret, diselingi bunyi gesekan besi beradu yang sangat nyaring.
“Mbok… Mbooook Jum…” bisik Rani panik dari atas ranjang. “Bangun, Mbok!”
“Hmmm… ada apa toh, Ran? Masih jam dua malam ini…” suara Mbok Jum terdengar serak dan malas dari balik selimut.
“Itu di luar pintu ada suara aneh, Mbok! Kayak ada orang atau makhluk yang nyeret sesuatu di lorong!” Rani memberanikan diri mengintip dari tepi ranjangnya.
“Halah, paling tetangga sebelah baru pulang lembur kerja dari daerah Katel,” gumam Mbok Jum santai sambil membalikkan badan membelakangi dinding.
BRAK BRAK BRAK!
Pintu kamar mereka mendadak digedor dari luar dengan sangat keras. Suara gedorannya bukan seperti ketukan tangan manusia, melainkan hantaman benda tumpul yang amat tebal.
“Mbok! Pintu diketok kencang banget!” jerit Rani pelan sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetaran.
Mbok Jum langsung terduduk kaget dari tempat tidurnya. “Lho? Siapa malam-malam begini gedor pintu kamar orang tanpa permisi?”
Mbok Jum menyalakan lampu kamar yang menyilaukan mata. Dengan langkah perlahan dan penuh rasa curiga, ia mendekati pintu besi, sementara Rani turun dari ranjang atas dan berlindung di balik punggung Mbok Jum sambil memegang erat-erat gagang sapu plastik sebagai senjata darurat.
“Siapa di luar?!” teriak Mbok Jum dalam bahasa lokal Lap Kong dengan nada paling galak yang ia miliki.
Tidak ada jawaban suara manusia. Yang ada hanyalah suara cakar besi yang menggaruk-garuk permukaan luar pintu. Sreet… sreet… sreet…
Mbok Jum memberanikan diri mendekatkan matanya ke lubang kecil pengintip di tengah pintu besi. Rani memperhatikan perubahan raut wajah Mbok Jum—pipi yang tadinya kemerahan mendadak berubah pucat pasi seperti kertas. Matanya membelalak lebar seolah mau melompat keluar.
“Mbok? Kenapa, Mbok? Ada monster hantu dari Negeri Drakenor ya di luar?” bisik Rani gemetaran, makin erat memeluk gagang sapu.
Mbok Jum perlahan memutar badannya, menatap Rani dengan pandangan kosong. Keringat dingin mulai menetes menyusuri pelipisnya.
“Ran…” suara Mbok Jum bergetar hebat bagai dawai gitar yang dipetik kencang.
“Apa, Mbok?! Jangan bikin takut dong!”
“Itu… di luar bukan hantu atau monster…”
“Terus siapa, Mbok?!”
“Itu… robot pembersih sampah otomatis ukuran raksasa milik pengelola gedung… tapi kayaknya mesinnya korsleting!
“Walah asem tenan, ternyata robotnya eror. Tak kira hantu atau monster.”
“Ya, sudah kamu tidur lagi saja, Mbok tak telfon petugas keamanan. Biar segera di amankan itu robot. Kalau perlu di buang sekalian.”
“Setuju, Mbok. Aku tak tidur lagi ya, Mbok. Siapa tahu aku mimpi CEO kaya raya, ganteng pisan. Hehehe”
Petugas keamanan naik ke lantai lima belas tempat dimana Mbok Jum dan Rani tinggal. Tapi, petugas menaruh sedikit kecurigaan di lorong apartemen tersebut. Karena, ada bercak darah, dan jejak kaki yang berukuran kecil. Kemudian CCTV nya juga mati, padahal masih baru. Petugas keamanan mencoba mengetuk pintu salah satu penghuni apartement itu. Ternyata ditemukan sebuah sosok yang membuat bulu kuduk merinding. (Siti Nurhayati)
Bersambung….
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini

