Hiruk Pikuk Pesta Rakyat Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hongkong

InspirasiKalbar,Hong Kong–Sejak jarum jam berputar menyentuh angka tujuh pagi, udara musim panas di kawasan Causeway Bay sudah terasa hangat dan lembap. Namun, hiruk-pikuk kehidupan di sekitar Victoria Park tampak jauh lebih riuh dari hari Minggu biasanya. Gelombang manusia berbusana merah-putih, pakaian adat Nusantara, hingga kaos komunitas bergerak mengalir keluar dari pintu keluar MTR Station Causeway Bay dan Tin Hau. Mereka melangkah dengan penuh gembira dan antusias menuju lapangan terbuka Victoria Park—taman kota seluas 19 hektar yang hari itu bertransformasi sepenuhnya menjadi panggung megah perayaan Pesta Rakyat memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi ratusan ribu Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang mengadu nasib di Hong Kong, julukan “negeri beton” bukanlah isapan jempol. Kota metropolitan ini didominasi oleh gedung pencakar langit yang tinggi menjulang, lorong-lorong jalan yang sempit, dan ritme kerja super cepat yang kerap memeras tenaga serta emosi. Selama enam hari dalam seminggu, sebagian besar dari mereka menghabiskan waktu di dalam ruang-ruang apartemen bertingkat, mengurus rumah tangga, merawat lansia, atau menjaga anak-anak. Namun pada hari Minggu, 30 Agustus 2026 ini, suasana serba kaku itu mencair. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong menggelar perhelatan akbar yang menjadi ruang bernapas, wadah silaturahmi, sekaligus ajang pelepasan rindu bagi warga Indonesia di perantauan.
Victoria Park bukan sekadar taman kota biasa; bagi komunitas PMI, tempat ini adalah jantung dari “libur hari Minggu.” Di sinilah tempat mereka bertemu teman sedaerah, berbagi bekal makanan, dan curhat kehidupan di pekerjaan. Sejak panggung utama didirikan oleh panitia KJRI bersama berbagai organisasi relawan di area lapangan rumput utama, atmosfer semarak langsung terasa.
Tepat pukul 09.00 waktu Hong Kong, acara resmi dibuka. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” berkumandang nyaring melalui pengeras suara, hingga memotong keheningan pagi di antara himpitan gedung-gedung yang tinggi. Pengunjung yang memadati area lapangan seketika berdiri tegak. Jemari mereka menempel di dada, dan suara nyanyian serentak dari para PMI terdengar membahana, menciptakan getaran emosional yang amat kuat. Tidak sedikit di antara pengunjung yang meneteskan air mata haru saat bait-bait lagu kebangsaan dinyanyikan di negeri orang.
Usai upacara pembukaan dan sambutan hangat dari pihak KJRI serta tokoh masyarakat migran, panggung utama langsung diisi oleh parade pertunjukan seni dan budaya. Penampilan pertama dibuka oleh kelompok musik angklung yang dibawakan oleh gabungan organisasi PMI dari wilayah New Territories dan Kowloon. Dentang bambu yang beradu harmonis membawakan lagu-lagu daerah seperti “Gundul-Gundul Pacul”, “Manuk Dadali”, hingga lagu pop nasionalis. Suara merdu angklung bergelombang di udara terbuka, disambut tepuk tangan riuh dan sorak-sorai para penonton yang memadati barisan depan panggung.
Pesta Rakyat 2026 di Victoria Park benar-benar menjadi ajang pembuktian betapa tingginya kreativitas dan kepedulian para pekerja migran terhadap kelestarian budaya bangsa. Meski di tengah kesibukan kerja yang padat dan waktu latihan yang sangat terbatas—biasanya hanya memanfaatkan waktu libur di taman-taman kota, bawah jembatan—penampilan yang disuguhkan tampak begitu profesional dan memukau.
Silih bergantian, panggung utama menampilkan deretan tarian tradisional dari berbagai pelosok Nusantara. Para penari menari dengan gerak gemulai nan anggun, dibalut busana adat berwarna-warni yang mencolok di bawah terik sinar matahari akhir Agustus. Tak kalah memukau penampilam mereka hingga membuat warga lokal Hong Kong dan wisatawan asing yang sengaja berhenti untuk menyaksikan pertunjukan.
Tak hanya seni tradisional, panggung Pesta Rakyat juga memberi ruang bagi ekspresi anak muda melalui penampilan “modern dance”, dan pertunjukan musik akustik. Beberapa grup band yang digawangi oleh para PMI membawakan lagu-lagu hits Indonesia masa kini yang memicu aksi “sing-along” massal. Lapangan Victoria Park mendadak berubah menjadi konser musik luar ruangan yang nyaman. Pengunjung melambaikan tangan, melompat kecil, dan mengabadikan setiap momen menggunakan kamera ponsel mereka untuk diunggah ke media sosial atau dikirimkan kepada keluarga di tanah air.
Kemeriahan Pesta Rakyat tidak hanya berpusat di panggung utama. Di sisi barat lapangan Victoria Park, panitia telah menyiapkan arena khusus untuk pertandingan dan perlombaan tradisional khas 17 Agustusan. Di sinilah tawa dan keseruan pecah tanpa henti dari pagi hingga sore hari. Perlombaan dimulai dengan lomba makan kerupuk yang selalu menjadi favorit. Puluhan kerupuk putih diikat pada tali yang dibentangkan di arena. Peserta yang terdiri dari para PMI—beberapa di antaranya masih mengenakan pakaian adat—harus berlomba menghabiskan kerupuk dengan tangan terikat di belakang tubuh. Sorak-sorai penonton pecah saat para peserta berjuang menggigit kerupuk yang berayun ditiup angin panas musim panas. Gelak tawa makin kencang tatkala wajah para peserta belepotan remah kerupuk.
Selanjutnya, lomba memasukkan pulpen ke dalam botol menyajikan keseruan yang tak kalah sengit. Dengan ikatan tali di pinggang, para peserta harus menjaga keseimbangan dan konsentrasi tinggi untuk memasukkan pulpen yang tergantung di belakang tubuh mereka ke dalam mulut botol kaca. Pekikan semangat dari teman-teman seperjuangan saling bersahutan menyemangati rekan mereka yang bertanding. Salah satu mata lomba yang paling menyedot perhatian pengunjung adalah lomba menari berpasangan dengan balon di dahi. Dua orang peserta harus menjepit balon di antara jidat mereka sambil terus bergoyang mengikuti irama musik dangdut yang energik dari pengeras suara. Pasangan yang gagal menjaga balon agar tidak jatuh atau meletus langsung dinyatakan gugur. Keriuhan, langkah kaki yang energik, dan ekspresi lucu para peserta menjadi hiburan segar yang sanggup mengocok perut penonton yang mengepung arena perlombaan.
“Sudah lima tahun saya tidak pulang ke Jawa Timur saat Agustus,” tutur Erna, salah satu peserta lomba yang berhasil menyabet juara kedua lomba makan kerupuk. “Ikut lomba di Victoria Park ini rasanya seperti dilempar kembali ke masa kecil di kampung. Semua stres kerjaan seminggu hilang seketika saat bisa tertawa lepas bersama kawan-kawan.”
Di sudut lain Victoria Park, deretan tenda bazar berbaris rapi membentuk deretan yang menarik perhatian. Bagi pengunjung yang merindukan cita rasa masakan rumah, area bazar kuliner adalah surga dunia. Puluhan stan menyediakan beragam olahan kuliner khas Indonesia yang dikelola oleh para pengusaha dari Indonesia yang sudah menjadi resident di Hong Kong. Aroma gurih bakwan jagung yang membuat perut berteriak untuk segera di isi, harum bumbu rendang daging, gurihnya soto ayam, hingga kesegaran es cendol dan es teler menyengat indera penciuman siapa pun yang melintas. Pengunjung bersabar mengantre panjang di depan stan-stan makanan favorit mereka. Di bawah rindangnya pohon-pohon taman, kelompok-kelompok kecil PMI duduk bersila di atas tikar plastik yang dibawa dari rumah, menikmati hidangan Nusantara sembari bertukar cerita tentang pengalaman kerja minggu ini.
Selain bazar makanan dan permainan, bazar Pesta Rakyat 2026 juga menyediakan area konsultasi dan layanan publik. Pihak KJRI Hong Kong membuka stan pelayanan dokumen keimigrasian, legalisasi, dan konseling ketenagakerjaan secara gratis. Beberapa lembaga keuangan, penyedia jasa pengiriman uang (remittance), dan organisasi bantuan hukum migran turut mendirikan stan untuk memberikan edukasi finansial dan perlindungan hukum bagi para PMI. Keberadaan ruang konsultasi ini menjadi nilai tambah yang sangat bermanfaat, mengingat sulitnya PMI mencari waktu luang di hari kerja untuk mengurus administrasi keimigrasian atau berkonsultasi mengenai hak-hak ketenagakerjaan mereka.
Di balik keriuhan dan kegembiraan para pengunjung yang memadati Victoria Park, terdapat tantangan besar yang harus dihadapi panitia dan peserta: kebersihan dan kelestarian lingkungan taman. Sebagai salah satu ruang terbuka hijau terpenting di Hong Kong, Victoria Park tunduk pada aturan tata kota dan kebersihan yang sangat ketat. Pembuangan sampah sembarangan dapat berakibat denda finansial yang berat serta merusak citra komunitas Indonesia di mata masyarakat dan pemerintah setempat.
Sadar akan hal tersebut, Pesta Rakyat 2026 dirancang dengan mengedepankan prinsip kesadaran lingkungan. Panitia bekerja sama dengan beberapa komunitas relawan lingkungan PMI untuk mendirikan stasiun pemilahan sampah (recycling station) di sepuluh titik strategis di sekeliling area acara. Di setiap titik, disediakan tempat sampah terpisah untuk limbah organik sisa makanan, botol plastik, kaleng minuman, dan kertas. Para relawan berpakaian rompi hijau tampak sigap berjalan mengitari area taman. Mereka tak hanya mengawasi, tetapi juga aktif mengedukasi pengunjung agar membuang sampah pada tempat yang benar. Selain itu, beberapa stan bazar minuman menyediakan fasilitas isi ulang air (water refill) bagi pengunjung yang membawa botol minum sendiri, guna meminimalisasi penggunaan botol plastik sekali pakai di tengah panasnya cuaca musim panas.
Menjelang sore hari saat acara mendekati penghujung, panitia mengumumkan gerakan “Pungut Sampah Bersama”. Selama 15 menit sebelum acara ditutup, seluruh pengunjung diajak untuk berdiri dan memungut sisa-sisa sampah di sekitar tempat mereka duduk atau berdiri. Aksi kebersihan massal ini disambut antusias oleh para PMI. Dengan kebersamaan yang kompak, lapangan rumput Victoria Park kembali bersih dan rapi hanya dalam hitungan menit.
Saat jarum jam menunjukkan pukul 17.00 waktu Hong Kong, Pesta Rakyat 2026 di Victoria Park resmi ditutup. Satu per satu pengunjung mulai melangkah meninggalkan area taman. Wajah-wajah mereka tampak lelah oleh terik matahari yang sudah beraktivitas seharian tanpa cemberut. Tetapi binar kebahagiaan dan kepuasan terpancar jelas dari mata mereka. Ponsel mereka kini dipenuhi oleh ratusan foto dan video kenangan—momen saat bersorak mendukung teman lomba, tawa saat makan bersama di atas tikar, atau foto berlatar panggung budaya.
Pesta Rakyat di Victoria Park pada 30 Agustus 2026 bukan sekadar agenda tahunan kalender peringatan kemerdekaan. Acara ini di adakan lagi setelah sekian lama tidak di adakan karena pandemi Covid-19 tahun 2019. Kemeriahan acara ini adalah bukti ketangguhan, persaudaraan, dan kecintaan yang tak pernah padam dari para Pekerja Migran Indonesia (PMI) terhadap tanah airnya. Di tengah bentangan gedung-gedung beton yang dingin dan asing, Victoria Park hari itu telah menjadi rumah hangat yang menyatukan hati, memulihkan energi, dan menegaskan kembali identitas mereka sebagai pahlawan devisa bangsa yang bermartabat.(Siti Nurhayati)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini






