Kain “Sakral” Tak Boleh Disentuh

Lari-lari kecil dan gelak tawa riang mendadak lenyap setiap kali langkah kaki menyusuri lorong belakang rumah tua Ibu. Di sudut kamar paling ujung, di atas lemari kayu jati berukir yang baunya khas perpaduan minyak kayu cendana dan kapur barus, terdapat sebuah peti kayu kehitaman dengan kunci kuningan yang menggantung.
Di dalam peti itulah tersimpan gulungan kain. Bukan sembarang kain, melainkan selembar tenun tradisional dengan ragi dan pola geometris yang tak pernah utuh terlihat. Bagi Arga, sejak ia masih berusia lima tahun hingga kini menginjak bangku SMA, kain itu adalah misteri terbesar di rumah mereka. Pasalnya, hanya ada satu aturan mutlak di rumah yang diulang Ibu seperti mantra saban bulan: “Jangan pernah sentuh kain itu. Jangankan memegang, membuka peti itu pun kamu tidak boleh, Arga.”
Bagi anak laki-laki dengan rasa ingin tahu yang membuncah, larangan adalah undangan tersembunyi. Setiap kali Ibu pergi ke pasar atau mengajar memasak di balai desa, Arga sering berjinjit di depan pintu kamar yang renggang. Ia menatap peti kayu itu dari kejauhan, membayangkan benda ajaib apa yang tersimpan di dalamnya sampai-sampai jemari tangannya sendiri diharamkan untuk sekadar mengusap tepinya.
Rahasia di Atas Lemari Tua
Kesempatan itu akhirnya datang pada suatu siang di penghujung musim hujan. Ibu harus pergi ke kota sebelah untuk melayat kerabat yang meninggal dunia dan baru akan kembali esok harinya. Rumah tua itu mendadak sepi, hanya diselimuti suara gemercik sisa air hujan yang menetes dari talang seng.
Arga berdiri di tengah kamar Ibu. Jantungnya berdegup kencang, antara rasa takut ketahuan dan dorongan rasa penasaran yang sudah mengendap belasan tahun. Ia menggeser kursi kayu perlahan agar tidak menimbulkan suara decit di atas lantai semen. Dengan hati-hati, ia memanjat. Tangannya yang sedikit gemetar menjangkau kunci kuningan di atas lemari. Kunci itu ternyata tidak benar-benar terkunci rapat; hanya disandarkan pada engselnya yang sudah sedikit aus.
Dengan napas tertahan, Arga mengangkat penutup peti kayu yang terasa berat. Aroma kapur barus bersahutan dengan wangi benang tua langsung menyeruak memenuhi udara. Di dalamnya, dibungkus rapi dengan kain kain putih tipis yang melindunginya dari debu, terbaring gulungan tenun itu. Arga menelan ludah. Ia ingat larangan Ibu. Namun, jemarinya seolah memiliki kemauannya sendiri. Perlahan, ujung jarinya menyentuh permukaan tenun tersebut. Kasar. Sedikit kaku, namun terasa hangat.
Warna dasarnya adalah nila gelap yang memudar di beberapa bagian, dihiasi motif garis-garis merah bata, kuning kunyit, dan benang putih benang kapas yang mulai menguning dimakan usia. Tidak ada kilau benang emas yang mewah seperti kain-kain pesta modern. Kain ini bersahaja, namun memancarkan wibawa yang membuat Arga menahan napas.
Saat Arga memegangnya lebih erat, ia menyadari sesuatu. Di salah satu sudut bawah kain, pola tenunannya tampak tidak rapi. Ada gulungan benang merah yang terputus, lalu dilanjutkan dengan ikatan simpul kasar yang tampak canggung. Motif garis di area itu terlihat agak miring, seolah-olah penenunnya mendadak kehilangan fokus atau jemarinya gemetar saat melintaskan teropong benang.
“Apa yang kamu lakukan, Arga?” Suara itu tidak keras, namun cukup untuk membuat Arga meloncat kaget hingga kursi yang dipijaknya berderit tajam.
Ibu berdiri di ambang pintu kamar. Tas travel kecil masih menggantung di bahunya. Tubuh Ibu membatu, matanya tertuju lurus pada jemari Arga yang masih memegang ujung kain tenun tersebut. Arga buru-buru menarik tangannya seolah kain itu baru saja berubah menjadi bara api yang membakar kulitnya.
“I-Ibu… kok sudah pulang?” bisik Arga gagap. Wajahnya pucat pasi. Ia bersiap menerima amarah besar yang selama ini ia bayangkan jika melanggar pantangan tersebut. Namun, amarah yang ditunggu-tunggu itu tidak pernah datang. Ibu tidak berteriak. Beliau hanya menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terasa begitu berat dan sarat akan beban masa lalu. Ibu berjalan mendekat, menaruh tasnya di atas kasur, lalu berdiri di samping Arga yang masih terpaku di atas kursi kayu.
“Turunlah,” kata Ibu pelan.
Arga melangkah turun dengan kepala tertunduk dalam-dalam. “Maaf, Bu. Arga cuma penasaran. Arga tidak bermaksud merusak kain Ibu. Ibu tidak langsung menjawab. Beliau meraih kain putih pembalut, lalu mengangkat gulungan tenun itu dari dalam peti dengan kedua tangannya begitu lembut, seolah-olah sedang mengangkat seorang bayi yang sedang tertidur lelap. Ibu duduk di tepi ranjang, merentangkan kain tersebut di atas pangkuannya.
“Ibu tidak marah kamu menyentuhnya hari ini, Arga,” ujar Ibu sambil menatap benang-benang tua di pangkuannya. “Ibu cuma takut… kamu menyentuhnya tanpa tahu apa yang ada di dalamnya.” Ibu mengusap permukaan tenun yang kasar itu dengan punggung jarinya. Pandangannya menerawang menembus dinding kamar.
“Kain ini dinamakan Kain Sisa Napas oleh nenekmu,” mulai Ibu bercerita. Suaranya mengalir tenang, menyatu dengan suara rinai hujan di luar. “Dipintal dan ditenun sendiri oleh Nenek sewaktu beliau masih muda, di sebuah desa kecil di kaki gunung.”
Arga memberanikan diri duduk di lantai kayu di depan lutut Ibu. Ia mendengarkan tanpa berani memotong.
“Zaman dulu, tenun bukan sekadar pakaian atau barang pajangan,” lanjut Ibu. “Tenun adalah doa yang diikat benang demi benang. Setiap kali seorang perempuan menenun untuk keluarganya, ia menyelipkan harapan: agar suaminya selamat saat melaut atau beradang, agar anak-anaknya terlindung dari kemalangan.” Ibu lalu mengarahkan telunjuknya ke bagian kain yang motifnya tampak rusak dan bersimpul kasar—bagian yang tadi sempat diamati oleh Arga.
“Kamu lihat bagian benang yang kusut ini?” tanya Ibu.
Arga mengangguk cepat. “Kenapa tenunannya tidak rapi di sebelah situ, Bu?”
Ibu tersenyum tipis, sebuah senyuman muram yang mengundang sembilu. “Kain ini ditenun Nenek saat sedang mengandung pamanmu, Mas Bagus. Waktu itu, desa kita diserang wabah penyakit dan kelaparan hebat. Kakekmu harus pergi mencari bantuan ke kota dan tidak pernah kembali lagi.” Napas Ibu terdengar sedikit tertahan.
“Nenek terus menenun kain ini setiap malam di bawah remang lampu minyak, sambil menunggu Kakek pulang. Nenek percaya, kalau kain ini selesai sebelum Kakek kembali, kain ini bisa dipakai untuk menyambutnya. Tapi di tengah malam saat menenun bagian ini, kabar buruk itu datang. Kakekmu dikabarkan meninggal di perjalanan.”
Arga terpaku. Matanya menatap benang merah yang terputus di kain itu.
“Saat mendengar kabar itu, tangan Nenek gemetar hebat. Teropong tenunnya jatuh, dan benang merah ini terputus,” bisik Ibu. “Nenek menangis semalaman di atas alat tenun kayu. Air matanya menetes meresap ke dalam benang-benang benang kapas ini. Ketika Nenek mencoba menyambungnya kembali keesokan harinya dengan jemari yang gemetar, simpulnya jadi kasar dan pola garisnya miring. Nenek tidak pernah membetulkannya lagi. Beliau biarkan simpul cacat itu tetap ada di sana.”
Arga memandangi tenun itu dengan sudut pandang yang kini sepenuhnya berbeda. Benda yang tadinya ia kira sekadar kain kuno berdebu, tiba-tiba menjelma menjadi rekaman duka dan ketabahan seorang perempuan yang belum pernah ia temui.
“Lalu… kenapa Arga tidak pernah boleh menyentuhnya, Bu?” tanya Arga lirih.
Ibu menatap Arga, matanya berbinar basah disorot lampu kamar yang temaram.
“Karena bagi Nenekmu, dan kemudian bagi Ibu, kain ini menyimpan kesedihan yang terlalu tajam. Nenek memesankan agar kain ini jangan sering dipegang atau dimainkan oleh anak-anak, bukan karena kain ini keramat atau takhayul, Arga. Nenek cuma tidak ingin keturunan-keturunannya mewarisi rasa sakit dan rasa kehilangan yang tertanam di benang-benangnya.” Ibu meraba jemari Arga, menyatukan tangan anak bujangnya itu di atas hamparan tenun tua tersebut.
“Ibu menyimpan kain ini di dalam peti bukan untuk disembunyikan karena benci, tapi untuk menjaga kenangan itu. Ibu ingin kamu tumbuh tanpa perlu menanggung beratnya kesedihan masa lalu. Tapi Ibu lupa… kamu bukan anak kecil lagi. Kamu berhak tahu dari mana darah dan ketabahan keluargamu berasal.”
Sensasi dingin pada kain itu kini terasa hangat di telapak tangan Arga. Ketika ia menyentuh simpul benang yang kasar itu sekali lagi, ia tidak lagi merasa asing. Ada rasa hormat yang mendalam merayap di dadanya. Di balik kesempurnaan motif geometris kain tenun tradisional yang sering ia lihat di toko-toko suvenir, ternyata ada kain-kain seperti ini—kain yang tidak sempurna, kain yang cacat karena duka, namun justru memiliki jiwa yang paling jujur. Kain ini bukan sekadar barang antik; kain ini adalah lembaran sejarah keluarganya yang ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan benang, keringat, dan air mata.
Ibu membantunya melipat kembali tenun tersebut dengan perlahan. Garis-garis lipatannya ditaati sesuai dengan bekas lipatan puluhan tahun lalu. Kain putih tipis kembali dibalutkan melingkupi tenun nila tersebut, menyelimutinya dari bising dunia luar. Ibu memasukkan kembali kain itu ke dalam peti kayu kehitaman di atas lemari. Kali ini, Ibu tidak menguncinya rapat-rapat dengan wajah tegang. Beliau hanya menutupnya perlahan, lalu menepuk bahu Arga dengan lembut.
“Sekarang kamu sudah tahu ceritanya,” kata Ibu sambil tersenyum hangat. “Nanti, kalau kamu sudah punya anak dan cucu, ceritakan juga pada mereka. Bahwa keluarga kita pernah melewati masa-masa yang sangat sulit, tapi kita tidak pernah benar-benar hancur. Kita cuma menyimpul kembali benang yang terputus, lalu melanjutkan tenunan hidup.” Arga mengangguk mantap. Ia membantu Ibu merapikan kembali kursi kayu ke sudut kamar.
Sore itu, hujan di luar rumah perlahan mulai mereda, menyisakan bau tanah basah yang menyegarkan udara. Arga berjalan keluar dari kamar Ibu dengan perasaan yang jauh berbeda dari saat ia masuk tadi. Rasa penasaran childish-nya telah berganti menjadi rasa bangga yang tenang.
Peti kayu di atas lemari itu masih berada di sana, tetap kehitaman dan sunyi. Kain di dalamnya mungkin tetap tidak akan sering disentuh oleh jemari siapa pun. Namun kini Arga mengerti, bukan karena kain itu terlarang, melainkan karena ada doa-doa tua dan rasa hormat mendalam yang sedang beristirahat dengan tenang di dalamnya. (Jihan Syaswina Aprilia)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini




