Hilangnya Pelukan Ayah

Judul Buku : Ayah, ini arahnya ke mana, ya? Nama Penulis : Khoirul Trian Penerbit : Gradien Mediatama Tahun Terbit : 2024 Kota Terbit : Yogyakarta. Jumlah Halaman : 163 Halaman ISBN : 978-602-208-379-5 Genre : Self-Improvement
InspirasiKalbar, Resensi–Menjadi seorang anak yang tumbuh tanpa kehadiran utuh sosok ayah di sampingnya adalah sebuah perjalanan batin yang tidak mudah. Tumbuh besar dalam bayang-bayang ketidakpastian sering kali menyisakan ruang hampa yang dipenuhi rasa takut, cemas, dan khawatir berlebih. Tanpa figur panutan yang jelas, seorang anak sering kali kehilangan kompas untuk melangkah, bingung menentukan arah, dan merasa tidak memiliki garda terdepan tempat berlindung saat berada di titik terendah. Fenomena ini kian menyakitkan ketika secara fisik raga sang ayah berada di depan mata, namun secara emosional jiwanya tidak pernah benar-benar hadir dalam ruang tumbuh kembang sang anak.
Kondisi psikologis dan dinamika hubungan yang kompleks inilah yang dirangkum dengan sangat apik oleh Khoirul Trian dalam karyanya yang berjudul “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?”. Sebagai seorang penulis, Trian sangat piawai dalam merangkai tulisan-tulisan yang reflektif, puitis, namun tetap dekat dengan realitas kehidupan anak muda masa kini. Sejak membuka lembar pertama, pembaca seolah-olah diajak untuk menyelami sebuah lorong kehidupan yang penuh dengan kejujuran batin. Keheningan narasi yang dibangun begitu kuat hingga tanpa terasa air mata ikut mengalir di setiap peralihan halaman, menelusuri luka-luka tersirat yang mungkin selama ini enggan dipahami.
Buku ini secara mendalam mengisahkan pergolakan batin seorang anak yang merindukan sosok ayah sebagai tempat berteduh, kawan bercerita, dan penuntun dalam mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup. Di dalamnya, terselip kritik-kritik jujur dari sudut pandang anak atas ketidaksesuaian antara ekspektasi yang diimpikan dengan realitas figur ayah yang didapatkan. Namun, seiring berjalannya narasi, buku ini tidak berhenti pada pemujaan terhadap rasa sakit. Diceritakan bagaimana sang anak secara perlahan mulai mengalami proses pendewasaan spiritual dan emosional. Ia mulai menyadari sebuah fakta sederhana namun bermakna mendalam: bahwa ayahnya pun adalah seorang manusia biasa yang baru pertama kali menjalankan peran sebagai orang tua. Anak tersebut kemudian belajar memahami masa lalu, menelusuri luka masa kecil yang mungkin dipikul sang ayah, serta menerima segala keterbatasan yang dimiliki ayahnya dalam menahkodai sebuah keluarga.
Kehadiran buku ini juga menegaskan betapa pentingnya komunikasi dalam struktur keluarga. Komunikasi yang sehat merupakan fondasi utama bagi tumbuh kembang mental setiap anggota keluarga di dalam satu atap. Mencari identitas diri bukanlah perkara mudah, terlebih ketika seseorang harus kehilangan atau mengalami krisis figur ayah yang memegang peran sentral. Ada ungkapan populer yang menyatakan bahwa “cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya.” Namun, bagi mereka yang tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tersebut, ungkapan itu terasa begitu asing dan menyakitkan—seperti peribahasa pungguk merindukan bulan yang mengharapkan sesuatu yang mustahil untuk digapai.
Dari segi teknis penyampaian, Khoirul Trian menggunakan bahasa yang lugas namun kaya akan diksi puitis. Narasi yang disajikan bergaya naratif-reflektif, sehingga memberikan pengalaman membaca yang sangat personal, seolah-olah kita sedang membaca lembaran diari rahasia milik seseorang. Penulis sangat berhasil menciptakan suasana hening yang sarat akan makna, membuat pembaca larut dalam setiap rangkaian kata. Dari balik tiap paragrafnya, tergambar jelas tumpukan kerinduan dan pesan tersirat yang ingin disampaikan sang anak kepada ayahnya. Namun selama ini selalu terhalang oleh dinding gengsi, rasa takut, dan kecanggungan yang tumbuh mengakar.
Kelebihan Buku
Kekuatan utama dari buku ini terletak pada kemampuannya menyuarakan kegelisahan yang sangat relatable bagi banyak pembaca. Di luar sana, ada begitu banyak anak yang mengalami krisis serupa, dan buku ini hadir sebagai penawar rasa sepi yang menegaskan bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Selain itu, penulis tidak mengarahkan pembaca untuk membenci atau menghakimi orang tua, melainkan mengajak untuk melihat situasi dari sudut pandang yang lebih luas dan bijaksana.
Pengondisian tata letak teks serta selingan kutipan-kutipan (quotes) yang estetik membuat pengalaman membaca terasa mengalir ringan tanpa membuat kening berkerut. Semua gagasan rumit disajikan secara ringkas, menarik, dan sederhana. Salah satu fitur paling unik dan inovatif terletak pada bagian akhir bab, di mana terdapat lembar ilustrasi gambar yang disediakan khusus untuk diwarnai oleh pembaca. Bagian ini berfungsi sebagai media katarsis atau penyaluran emosi dan artikulasi perasaan yang selama ini terpendam.
Kekurangan Buku
Meskipun memiliki kedalaman emosional yang luar biasa, buku ini tidak luput dari beberapa catatan kecil. Pada bagian tertentu, pembaca mungkin akan menemukan narasi perenungan yang terasa sedikit berulang (repetitive) dalam menyampaikan pesan inti yang sama. Selain itu, eksplorasi alur pada latar belakang cerita atau konflik spesifik terasa kurang digali secara mendalam, karena porsi buku ini memang lebih didominasi oleh monolog batin dan perenungan subjektif ketimbang pembentukan plot naratif yang komprehensif.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Pada akhirnya, “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?” membawa pesan moral yang sangat kuat tentang penerimaan. Memaafkan segala keterbatasan dan ketidaksempurnaan orang tua adalah langkah awal yang mutlak diperlukan untuk menyembuhkan luka batin pada diri sendiri. Sebagai anak, kita memiliki keberanian dan hak penuh untuk memutus rantai luka intergenerasional tersebut agar kelak tidak diwariskan kepada anak-cucu kita di masa depan.
Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh kaum remaja hingga dewasa muda yang sedang berjuang memahami dinamika hubungan keluarga, belajar mengikhlaskan masa lalu, serta siapa saja yang sedang menempuh perjalanan panjang menyembuhkan diri sebagai seorang anak yang merindukan hangatnya arah dan sosok seorang ayah. (Siti Nurhayati)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini





