Suara di Balik Pohon

InspirasiKalbar,Cerpen–Liburan kuliah semester ini telah tiba, saaatnya Dara pulang ke kampung halaman menengok Emaknya yang tinggal seorang diri. Dara sudah tidak sabar berjumpa dengan Emak dan membawakan makanan kesukaannya yaitu tape goreng.
“Kamu jadi pulang jam berapa Ra?”
“Besok pagi sih, soalnya tiket kereta api malam ini sudah terjual semua. Masih tersisa untuk besok pagi sekitar jam 4 an lah.”
“Kamu sendiri jadi pulang kapan? Calon suamimu jadi jemput ta?’
“Tidak jadi, dia akan tugas ke Balikpapan selama 2 bulan.”
“Ya sudah, kamu hati-hati kalau pulang sendiri. Jangan kepicut pria sebelah ya?”
Malam telah tiba dengan alunan suara jangkrik dan katak yang saling beradu dengan sengitnya. Hujan di sore hari telah membasahi tanah. Cahaya lampu malam di sudut kota rasanya berat untuk di tinggalkan. Tapi, apa daya takdir telah membuat pilihan untuk dipilih. Walaupun langkah terasa berat untuk meninggalkan kenangan yang sudah 3 tahun terukir disini. Semua akan datang dan pergi silih berganti seiring waktu berjalan.
Alarm Dara telah berbunyi dengan nyaring, hingga suaranya membangunkan ayam jantan untuk berkokok. Subuh telah tiba dan hari baru siap untuk dilalui. Barang-barang yang perlu di bawa mudik sudah tertata rapi dalam koper ukuran sedang. Rasanya seperti orang mau minggat saja dengan barang bawaan segitu banyaknya. Mau dibuang juga sayang, apalagi kalau di simpan bikin kost jadi sesak nafas.
Mata Dara terbelalak melihat orangutan yang sedang terbaring di pinggir jalan. Tak ada seorang pun yang lewat di sekitar situ. Hatinya bergemuruh untuk mendekat tapi ada rasa takut yang ikut menghinggapinya. Akhirnya, dia menelepon Pamannya untuk menjemput di terminal bus. Jarak terminal dengan orangutan yang terbaring tersebut sekitar 100 meter.
***
“Ayo kita usir orangutan ini dari kampung sekarang juga.”
“Jangan Pak Joko. Kasihan dia, kakinya sedang terluka.”
“Kalau tidak di usir tanaman di kebun akan rusak dan buah-buahan akan habis dimakannya.”
“ Kenapa Bapak tega padanya, dia juga makhluk hidup seperti kita.”
“Sudahlah jangan ikut campur urusan orang dewasa, kamu tidak mengerti apa yang sedang kami rasakan di musim kemarau yang panjang ini. Kamu lihat hutan pada gundul, dan sudah 1 tahun tidak turun hujan, tanaman warga juga ikut mati.” Dara merasa sedih dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menjaga orangutan yang tak tahu harus tinggal dimana. Warga kampung juga tak mau dia tinggal terlalu lama di sana. Dara pulang dengan tangis yang membasahi pipinya. Emak yang melihatnya jadi di buat bertanya-tanya tentang kondisi anak semata wayangnya itu.
“Kamu kenapa, Ndok? Kok matamu sampai sembab gitu?”
“Aku sedih Mak lihat orangutan yang mau di usir warga kampung. Padahal dia lagi butuh tempat tinggal dan kakinya terluka. Jalannya saja sampai pincang. Apakah warga kampung kita sudah tidak punya hati nurani ya Mak?”
“Hust! Jangan bicara sembarangan ya? Bisa-bisa kamu nanti yang akan di amuk warga sekitar.”
“Aku mau menolong orangutan tapi aku tidak tahu harus menghubungi siapa dan dimana? Apakah Emak punya kenalan orang pintar?”
“ Orang pintar apa Nduk? Maksudmu dukun ta? Jangan pergi ke dukun Nduk, tidak baik itu. sama saja kamu berbuat syrik itu?”
“Emak bicara apa sih? Maksudku orang pintar itu bukan dukun tapi orang yang bekerja di pemerintahan atau yang punya kuasa di negeri ini.”
“Ouwalah gitu ta Nduk? Alhamdulillah gusti, anakkku masih waras pikirane.”
Dara dan Emak saling tertawa terbahak-bahak di teras rumah sambil membungkus kripik sukun yang akan dititipkan di warung-warung. Emak walaupun masih muda dan sebagai seorang dosen, dia tak malu untuk berjualan. Bahkan dia tak malu di panggil dengan sebutan “Emak” yang artinya sama dengan Ibu, mama, atau panggilan lainnya. Baginya panggilan Emak itu terasa lebih enak di dengar dan gurih seperti kripik dagangannya.
***
“Kebakaran, kebakaran, kebakaran.”
“Ada kebakaran dimana Pak?’
“Itu hutan kampung sebelah. Katanya ada orang yang lagi foto pernikahan dengan menyalakan api unggun.”
“Gila tuh orang buat api unggun di siang bolong kayak gini. Apalagi ini musim kemarau. Apa dia bukan warga sini ya, Pak?”
“Aku tidak tahu itu warga sini apa bukan. Pak Lurah dan Bapak Polisi sedang menuju TKP untuk memastikan tidak ada korban dan satwa bisa diselamatkan.”
“Baiklah kalau gitu Pak. Semoga semua aman dan tidak ada korban jiwa.”
Dara mencoba menghubungi petugas hutan supaya tidak ada satwa yang terbunuh. Selain itu, dia juga mengajak warga sekitar untuk membuat jalur aman. Warga sangat ber-antusias dengan ajakannya. Dari para pemuda-pemudinya sampai orangtua semuanya ikut terlibat dan saling gotong-royong. Bahkan anak kecil ikut teriak-teriak sambil memukul kentongan.
Asap hutan sudah mulai mengepul dan berwarna hitam di langit-langit. Warga semakin panik dan khawatir kalau si jago merah akan melahap rumahnya. Mobil pemadam kebakaran juga belum sampai di titik lokasi. Warga hanya bisa saling gotong-royong memadamkan api dengan air dan peralatan seadanya. Suara gemuruh satwa dalam hutan juga saling bersahut-sahutan. Seakan-akan meminta tolong kepada warga untuk segera mengamankan rumahnya.
2 jam bukanlah waktu singkat untuk memadamkan si jago merah yang ganas membara. Seolah alam sedang marah pada penghuninya. Tapi apa daya kita yang merusaknya dengan tangan sendiri. Rasanya seperti ditampar dengan keras oleh Ibu Pertiwi. Mau menyesal pun tak ada gunanya. Semua sudah menjadi bubur dan ke depan semoga bisa jadi pelajaran untuk kita semua.
“Alhamdulillah ya api sudah mulai padam. Tapi aku sedih melihat hutan yang sekarang.”
“Apa daya semua sudah jadi suratan takdir. Semoga anak cucu kita bisa melihat hutan yang ijo royo-royo, gemah-ripah, dan loh jinawi.”
“Aamiin. Semoga Tuhan tak akan marah lagi pada kita di dunia ini.”
Para petugas kebakaran masih ada yang masuk kedalam hutan dan kebun-kebun warga untuk memastikan api benar-benar padam dan tak tersisa sedikitpun. Hari mulai gelap dan warga masih belum bisa tenang untuk beristirahat apalagi tidur. Poskampling pun jadi ramai dan tak seperti hari-hari kemarin. Pak RT membagi ronda malam ini menjadi 3 sift sekali untuk saling bergantian. Masing-masing sift berdurasi 3 jam dan 8 orang yang jaga. Sift pertama, di mulai dari Pukul 20.00-23.00, sift kedua, Pukul 23.00-02.00, dan yang terakhir sift ketiga, Pukul 02.00-05.00.
Warga merasa tidak keberatan dengan perubahan jadwal tersebut. Karena, itu adalah salah satu cara untuk menebus dosanya atas kebakaran hutan tadi siang. Pelaku yang menyalakan api unggun telah diamankan oleh pihak berwajib sebelum di amuk warga. Mereka adalah sepasang pengantin dari kota yang ingin mengabadikan moment indahnya. Tapi, apa yang telah mereka lakukan itu meninggalkan duka yang mendalam bagi kampung oranglain.
***
Kejadian kebakaran hutan mendapat perhatian dari Pemerintah dan para penggiat pencinta hewan serta alam dari luar wilayah tersebut. Pemerintah wilayah tersebut segera menurunkan para petugas untuk melakukan survei dengan tujuan membuat rencana reboisasi maupun lainnya. Warga sekitar juga turut dilibatkan dalam kegiatan ini. Supaya semua berjalan dengan lancar dan transparan. Karena, oknum yang akan melakukan kecurangan bisa diminimalisir sedini mungkin.
Warga menyadari pentingnya melindungi koridor hutan. Karena, di sana tidak hanya tumbuh satwa tetapi juga bahan makanan, dan obat-obatan untuk warga sekitar. Hutan yang seharusnya jadi tempat tumbuh kembang makhluk hidup kini telah menjadi tempat yang menakutkan untuk bertumbuh dan berkembang biak. Tangan-tangan jahil yang telah merusaknya kini hanya bisa gigit jari dan diam jadi penonton.
“Kamu mau jadi apa kalau sudah besar, Ndok?”
“Aku mau jadi Presiden Mak. Karena, aku akan memberantas para koruptor dan tangan-tangan jahil yang merusak alam.”
“Aamiin. Semoga di ijabahi Gusti Allah. Jadi Presiden itu tidak mudah, karena harus jadi teladan dan pemimpin yang berbudi luhur. Jangan sampai jadi Presiden yang menyengsarakan warganya.”
“Ya, Mak. Kondisi ekonomi sekarang semakin lama semakin memprihatinkan. Apalagi generasi muda yang semakin terpengaruh oleh dunia digital dan modernisasi kaum barat.”
“Emak mau, kamu bisa jaga diri dan jangan sampai kamu terlibat dengan orang-orang yang tak tahu berterima kasih pada Tuhan dan alam.”
“Ya, Mak. Akan slalu ku ingat nasihatmu.”
***
Sebagian orangutan sudah di evakuasi dan dibawa ke tempat rehabilitasi. Dara berjanji dalam hati untuk ikut menjaga hutan dan terlibat dengan gerakan pemerintah dalam rangka “Reboisasi Hutan”. Supaya Ibu Pertiwi tak marah lagi pada kami semua. Langit pagi menyisipkan secercah harapan di balik jelaga yang sempat memadamkan senyum kampung halaman. Dara berdiri di ambang pintu rumah kayu emaknya, menghirup udara segar yang perlahan menggantikan aroma sangit sisa kebakaran kemarin. Di genggamannya, selembar formulir pendaftaran relawan konservasi dari dinas lingkungan hidup telah terisi rapi. Langkah kecilnya kini tidak lagi diliputi keraguan atau rasa takut.
“Mak, aku pamit sebentar ke posko reboisasi. Hari ini penanaman bibit pohon pertama dimulai,” pamit Dara sambil mencium punggung tangan wanita yang sangat dicintainya itu. Emak tersenyum penuh kebanggaan, mengusap lembut bahu putri semata wayangnya. “Berangkatlah, Nduk. Biar tanah ini kembali hijau, biar satwa-satwa itu punya rumah yang aman lagi. Jangan lupa bawakan kripik sukun ini untuk para petugas di sana.”
Di lokasi penanaman, suasana tampak begitu riuh oleh semangat gotong-royong. Pak Joko dan para warga yang dulunya skeptis kini bahu-membahu menanam bibit mahoni dan beringin bersama para petugas pemadam serta penggiat alam. Kesadaran baru telah tumbuh dari sisa-sisa abu kehancuran. Dara melangkah menuju area koridor hutan, tempat di mana ia pertama kali melihat orangutan terluka itu.
Kini, area tersebut telah ditandai sebagai zona konservasi yang dilindungi. Sambil menancapkan bibit pohon kecil ke dalam tanah yang basah, Dara membisikkan doa tulus untuk Ibu Pertiwi. Ia tahu bahwa perjalanan memulihkan ekosistem ini butuh waktu bertahun-tahun, namun benih kepedulian telah tertanam kuat di hati setiap warga.
Malamnya, alunan suara jangkrik kembali terdengar sahut-menyahut, menyanyikan simfoni kedamaian yang sempat hilang. Dara duduk di teras bersama Emak, menikmati hangatnya tape goreng kesukaannya. Di bawah naungan langit malam yang tenang, Dara makin mantap menatap masa depannya. Tekadnya telah bulat untuk terus belajar, menjaga alam, dan menjadi bagian dari perubahan demi masa depan bumi yang lebih baik. (Siti Nurhayati)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini







