Inspirasi Kalbar
Beranda Berita Ketika Kritik Sosial Dibuat Lucu, Kenapa Komedi Lebih Mudah Menyentil Realitas?

Ketika Kritik Sosial Dibuat Lucu, Kenapa Komedi Lebih Mudah Menyentil Realitas?

Dok. Film Ketok Mejik/@filmketokmejik/official poster

InspirasiKalbar, Lifestyle – Bagaimana jadinya kalau masalah utang, tekanan ekonomi, dan pengusaha serakah tidak dibahas dengan suasana serius, tetapi lewat tiga komika, bengkel, dan sebuah palu sakti? Jawabannya bisa ditemukan dalam Ketok Mejik. Film garapan Yogi S. Calam ini tayang di bioskop Indonesia sejak 13 Agustus 2026. Menggabungkan drama, komedi, dan fantasi, Ketok Mejik mengikuti kisah Ben (Ananta Rispo), seorang pria yang terlilit utang dan tiba-tiba mewarisi sebuah bengkel dari kakeknya. Bersama dua sahabatnya, Saged (Dodit Mulyanto) dan Made (Tarra Budiman), serta Unung (Arief Didu), Ben berusaha mempertahankan bengkel tersebut dari berbagai masalah, termasuk ancaman pengusaha yang ingin mengambil alih.

Cerita tersebut sebenarnya punya bahan yang cukup serius. Utang, pinjaman online, kesulitan ekonomi, hingga perjuangan mempertahankan usaha bukanlah persoalan yang asing bagi masyarakat. Namun, Ketok Mejik memilih untuk tidak membawanya dengan wajah murung. Film ini justru mengemasnya dengan tingkah konyol para karakter dan konsep palu sakti yang membuat ceritanya semakin absurd.

Justru di situlah film ini terasa menarik. Kehadiran Ananta Rispo, Dodit Mulyanto, dan Tarra Budiman membuat komedinya banyak bertumpu pada interaksi antarkarakter. Tarra bahkan mengaku sulit menahan tawa ketika beradu akting dengan Rispo dan Dodit karena keduanya terbiasa mengolah keresahan sehari-hari menjadi bahan komedi.

Humornya bukan sekadar tempelan agar film terasa lucu. Ada persoalan nyata yang menjadi sumbernya. Ketika kesulitan ekonomi dan persoalan utang ditempatkan dalam situasi yang absurd, penonton bisa melihat masalah tersebut dari sudut yang berbeda. Lalu, mengapa kritik sosial sering terasa lebih mudah diterima ketika dibungkus dengan humor?

Dalam komunikasi, kritik yang terlalu langsung terkadang membuat seseorang buru-buru memasang pertahanan. Ketika merasa sedang dinasihati atau diserang, perhatian audiens bisa bergeser dari isi pesan menjadi keinginan untuk membantahnya.

Humor memberikan jalan yang lebih santai. Alih-alih mengatakan secara langsung bahwa suatu kondisi sosial itu buruk, komedi bisa menunjukkannya melalui karakter, dialog, atau situasi yang mengundang tawa. Penonton mungkin datang untuk mencari hiburan, tetapi tanpa sadar mereka juga sedang melihat persoalan yang sebenarnya cukup serius.

Karena itu, kita bisa tertawa melihat karakter yang terlilit utang, tetapi di balik tawanya tetap ada gambaran tentang bagaimana seseorang berusaha keluar dari tekanan ekonomi. Dalam Ketok Mejik, hal tersebut terlihat dari persoalan pinjaman dan perjuangan Ben mempertahankan bengkelnya. Film ini memang tidak mencoba memberikan kuliah tentang masalah finansial. Kritiknya diselipkan ke dalam perjalanan karakter dan konflik yang mereka hadapi.

Cara seperti ini membuat kritik terasa tidak menggurui. Penonton tidak dipaksa untuk menerima sebuah pesan. Mereka cukup mengikuti cerita, tertawa, dan kemudian mungkin mulai menyadari bahwa beberapa persoalan yang muncul di layar ternyata tidak jauh berbeda dengan kehidupan nyata.

Namun, humor bukan senjata ajaib. Kalau unsur lucunya terlalu dominan, pesan sosial justru bisa tenggelam. Penonton mungkin hanya mengingat adegan paling kocak tanpa menangkap persoalan yang ingin disampaikan. Sebaliknya, jika humor dan cerita berjalan seimbang, komedi dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan isu yang lebih serius.

Di sinilah Ketok Mejik punya daya tariknya. Film ini memang tidak sepenuhnya sempurna. Perpaduan drama, fantasi, dan komedi membuat ceritanya terkadang terasa ramai. Tetapi keberaniannya mencampurkan persoalan ekonomi dengan konsep yang absurd membuat film ini punya warna tersendiri. Pada akhirnya, Ketok Mejik bukan cuma tentang bengkel dan palu sakti. Di balik kekonyolannya, film ini memperlihatkan bagaimana persoalan tentang utang, pekerjaan, keserakahan, dan perjuangan hidup dapat dikemas menjadi sesuatu yang menghibur. Mungkin memang tidak semua kritik harus disampaikan dengan wajah serius.

Kadang kita perlu tertawa terlebih dahulu sebelum menyadari bahwa sesuatu yang sedang kita tertawakan ternyata adalah masalah yang benar-benar ada di sekitar kita. Dan kalau setelah keluar dari bioskop kita sampai berpikir, “Loh, kok ini mirip kehidupan nyata?”, mungkin di situlah komedinya berhasil melakukan pekerjaan yang lebih serius daripada sekadar membuat kita ngakak. (Rida Ulkibria)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
mancingjitu