Inspirasi Kalbar
Beranda Berita Diduga Terdampak Kabut Asap Karhutla, Orang Utan Turun ke Pemukiman

Diduga Terdampak Kabut Asap Karhutla, Orang Utan Turun ke Pemukiman

Foto: Dok Istimewa

InspirasiKalbar, Ketapang — Seekor orang utan terlihat berada di area terbuka yang diduga merupakan kawasan permukiman atau perkebunan warga. Kemunculan satwa liar tersebut menarik perhatian masyarakat karena terjadi di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan.

Dalam video yang beredar di media sosial, seekor orang utan tampak tergeletak di sisi jalan dengan kondisi yang terlihat lemah. Di bagian belakang tampak kawasan pepohonan dan lahan terbuka. Berdasarkan keterangan yang tercantum pada video, rekaman tersebut bersumber dari akun Instagram @estien_anjas_mara_.

Belum dapat dipastikan lokasi persis maupun kondisi medis orang utan yang terekam dalam video tersebut. Namun, kemunculan orang utan di luar habitatnya menjadi perhatian karena satwa ini sangat bergantung pada hutan sebagai tempat mencari makanan dan berlindung.

Dugaan dampak karhutla terhadap satwa liar bukan tanpa alasan. Kondisi karhutla di Kalimantan pada akhir Agustus 2026 memang masih menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Kehutanan melaporkan hingga 30 Agustus terdapat 946 hotspot berkepercayaan tinggi secara nasional, dengan konsentrasi terbesar berada di Kalimantan Barat sebanyak 455 titik dan Kalimantan Tengah 308 titik. Pemerintah juga mencatat puluhan lokasi karhutla masih dalam proses pemadaman.

Kebakaran hutan tidak hanya mengancam manusia. Rusaknya vegetasi dan berkurangnya sumber makanan dapat membuat satwa liar keluar dari kawasan habitatnya untuk mencari tempat yang lebih aman dan sumber makanan baru.

Kondisi serupa juga terjadi pada orang utan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pada 30 Agustus 2026, seekor orang utan jantan dewasa bernama Sampurna ditemukan warga dalam kondisi sangat lemah di perkebunan sawit masyarakat Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara. Satwa tersebut diduga mengalami dampak paparan asap karhutla dan kemudian dievakuasi oleh tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Tim penyelamat menemukan Sampurna dalam kondisi mengalami gangguan pernapasan dan membutuhkan penanganan medis. Setelah mendapatkan oksigen dan cairan infus, orang utan tersebut dibawa ke pusat rehabilitasi untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat menjalar jauh ke dalam ekosistem. Ketika hutan terbakar atau dipenuhi asap, satwa yang berada di dalamnya menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kehilangan tempat tinggal, kekurangan makanan dan air, hingga gangguan kesehatan akibat asap.

Selain mengancam satwa, kabut asap juga telah berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Kementerian Kehutanan melaporkan kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan berada pada kategori mulai dari sedang hingga tidak sehat, bahkan sangat tidak sehat dan berbahaya di beberapa titik.

Gangguan jarak pandang juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah. Pada 31 Agustus 2026, kondisi berasap tercatat di Bandara Supadio Pontianak dengan jarak pandang sekitar 1,3 kilometer dan Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sekitar 1,5 kilometer.

Pemerintah bersama tim gabungan masih melakukan berbagai upaya penanganan, termasuk pemadaman dari darat, water bombing, patroli udara, pengecekan lapangan, serta operasi modifikasi cuaca. Puluhan helikopter juga dikerahkan untuk membantu penanganan karhutla di wilayah Kalimantan dan Sumatera.

Kemunculan orang utan di sekitar kawasan manusia seharusnya menjadi pengingat bahwa bencana ekologis tidak hanya berbicara tentang luas lahan yang terbakar. Ada ekosistem dan satwa yang ikut kehilangan ruang hidup akibat kerusakan hutan.

Orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan salah satu satwa yang sangat bergantung pada keberadaan hutan. Ketika habitatnya terganggu, satwa tersebut berpotensi berpindah ke kawasan perkebunan atau permukiman untuk bertahan hidup.

Karena itu, masyarakat yang menemukan orang utan atau satwa liar lainnya di sekitar permukiman diimbau tidak mendekati, mengejar, memberi makanan, atau mencoba menangkapnya sendiri. Masyarakat sebaiknya segera melaporkan keberadaan satwa kepada petugas konservasi atau instansi terkait agar proses penyelamatan dapat dilakukan dengan aman.

Sementara itu, pemerintah mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Penurunan jumlah titik panas dalam beberapa hari terakhir belum berarti ancaman karhutla telah berakhir karena sejumlah lokasi masih mengalami kebakaran dan asap.

Kemunculan orang utan di tengah kepungan asap menjadi gambaran nyata bahwa ketika hutan terbakar, bukan hanya manusia yang kehilangan ruang hidup satwa liar pun ikut menjadi korban. Karena itu, upaya memadamkan api perlu berjalan bersamaan dengan perlindungan habitat dan penyelamatan satwa terdampak.(Fahrodin)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
mancingjitu