Inspirasi Kalbar
Beranda Lifestyle Apa Penyebab Bulan Tampak Merah? Menelusuri Pengaruh Asap dan Partikel Atmosfer

Apa Penyebab Bulan Tampak Merah? Menelusuri Pengaruh Asap dan Partikel Atmosfer

Ilustrasi

InspirasiKalbar, Sains — Bulan yang tampak kemerahan di langit dapat menjadi pemandangan yang menarik perhatian, terlebih ketika fenomena tersebut muncul di tengah kondisi udara yang diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan. Di Kalimantan, persoalan tersebut kembali menjadi perhatian sepanjang Agustus 2026 ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan peningkatan titik panas serta penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah.

Apakah asap kebakaran dapat membuat Bulan terlihat lebih merah?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Warna kemerahan pada Bulan dapat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang dilalui cahaya sebelum mencapai mata pengamat. Namun, warna merah pada Bulan juga dapat terjadi karena fenomena astronomi lain, terutama ketika terjadi gerhana Bulan. Karena itu, kemunculan Bulan berwarna merah tidak dapat langsung dijadikan bukti bahwa penyebabnya adalah kabut asap.

Salah satu penelitian yang dapat membantu menjelaskan hubungan antara asap dan kondisi atmosfer adalah penelitian Yosef Haryanto Mbuu dan Soni Darmawan yang diterbitkan pada 2023 dengan judul Estimasi Aerosol Optical Depth (AOD) Secara Time Series Menggunakan Citra Satelit MODIS (Studi Kasus: Pulau Kalimantan).

Penelitian tersebut menggunakan citra satelit MODIS untuk mengamati Aerosol Optical Depth (AOD) di Pulau Kalimantan selama 2012–2021. AOD digunakan untuk menggambarkan keberadaan aerosol di atmosfer. Aerosol sendiri dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk aktivitas industri dan kebakaran hutan. Penelitian tersebut menemukan adanya variasi konsentrasi aerosol di Kalimantan, dengan nilai rata-rata tertinggi selama periode penelitian terjadi pada 2015.

Asap bukan sekadar “kabut”

Aerosol merupakan partikel sangat kecil yang berada di atmosfer. Ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan, proses pembakaran biomassa menghasilkan berbagai partikulat yang kemudian dapat berada di udara dan terbawa oleh pergerakan atmosfer.

Partikel tersebut berperan dalam proses interaksi cahaya dengan atmosfer. Cahaya yang datang dari benda langit seperti Bulan harus melewati atmosfer Bumi sebelum mencapai pengamat. Karena itu, kondisi atmosfer dapat memengaruhi bagaimana warna dan tingkat kecerahan benda langit tersebut terlihat.

BMKG menggunakan AOD sebagai salah satu indikator untuk memprediksi sebaran partikulat kabut asap. Menurut layanan informasi kualitas udara BMKG, semakin tinggi nilai AOD, semakin besar potensi partikulat kabut asap tersebar di suatu wilayah.

Artinya, keberadaan aerosol memang memiliki hubungan dengan kondisi optik atmosfer. Tetapi hal tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa setiap Bulan yang tampak merah disebabkan oleh asap.

Kalimantan kembali menghadapi kepungan asap

Hubungan tersebut menjadi menarik untuk diamati karena kondisi atmosfer Kalimantan pada Agustus 2026 memang sedang menghadapi persoalan karhutla.

Pada 31 Agustus 2026, Kementerian Kehutanan melaporkan sebanyak 946 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, Kalimantan Barat menyumbang 455 titik dan Kalimantan Tengah 308 titik. Kalimantan Selatan tercatat 18 titik. Data tersebut berasal dari sistem SiPongi yang memanfaatkan data satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Kementerian Kehutanan juga menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi titik panas dari penginderaan satelit dan tidak selalu berarti kebakaran sehingga tetap membutuhkan verifikasi lapangan.

Sehari sebelumnya, kondisi hotspot secara keseluruhan bahkan lebih tinggi. Pada 29 Agustus 2026, SiPongi mencatat 20.378 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, sedang, dan rendah secara nasional. Jumlah tersebut meningkat dari 18.092 titik pada 28 Agustus dan 14.788 titik pada 27 Agustus.

Dampak asap juga mulai terasa secara langsung. Di Kalimantan Barat, kabut asap mengganggu operasional Bandara Internasional Supadio. Pada 31 Agustus, sebanyak sepuluh penerbangan mengalami penyesuaian jadwal akibat penurunan jarak pandang. Pihak bandara menyebut jarak pandang telah berfluktuasi selama sepekan terakhir akibat kabut asap karhutla.

Sementara itu, BMKG Kalimantan Selatan mencatat konsentrasi PM2.5 di wilayah tersebut sempat mengalami lonjakan. Pada 19 Agustus 2026, konsentrasi tertinggi yang tercatat mencapai 412,80 µg/m³ pada pukul 05.00 WITA, masuk kategori berbahaya.

Data tersebut menunjukkan bahwa Agustus 2026 memang menjadi periode dengan aktivitas kebakaran dan keberadaan partikulat yang signifikan di sejumlah wilayah Kalimantan. Penelitian tentang AOD juga menunjukkan bahwa aerosol dapat diukur keberadaannya di atmosfer Kalimantan menggunakan data satelit.

Namun, menghubungkan kondisi tersebut secara langsung dengan Bulan merah membutuhkan data tambahan.

Misalnya, diperlukan data AOD pada waktu dan lokasi yang sama dengan ketika Bulan terlihat merah, data PM2.5, kondisi kelembapan, arah angin, posisi Bulan, serta informasi apakah pada saat tersebut sedang terjadi gerhana Bulan.

Dengan kata lain, bulan merah dapat menjadi petunjuk visual adanya kondisi atmosfer tertentu, tetapi bukan alat untuk mengukur kualitas udara.

Fenomena yang sama juga berlaku pada Matahari. Dalam kondisi tertentu, asap yang berada cukup tinggi di atmosfer dapat membuat Matahari terlihat merah. Namun, warna merah tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa konsentrasi PM2.5 di permukaan sedang tinggi. Faktor seperti ketinggian lapisan asap, kelembapan, awan, posisi Matahari, dan kondisi angin turut memengaruhi tampilan yang terlihat dari permukaan Bumi.

Karena itu, apabila masyarakat melihat Bulan tampak merah ketika kabut asap sedang menyelimuti wilayahnya, fenomena tersebut menarik untuk diamati, tetapi tidak seharusnya langsung disimpulkan sebagai “Bulan merah akibat asap”.

Di tengah karhutla Kalimantan pada Agustus 2026, yang lebih penting justru adalah melihat data kualitas udara dan sebaran partikulat dari lembaga resmi. Warna langit dan benda langit dapat memberikan gambaran visual tentang kondisi atmosfer, tetapi pengukuran kualitas udara tetap membutuhkan instrumen dan data ilmiah.

Fenomena Bulan merah pada akhirnya bukan hanya persoalan warna. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana cahaya, atmosfer, aerosol, dan kebakaran hutan saling berinteraksi sekaligus mengingatkan bahwa asap yang memenuhi langit merupakan persoalan lingkungan yang dampaknya jauh lebih nyata daripada sekadar mengubah pemandangan malam. (Rida Ulkibria)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
mancingjitu