Dari Botol ke Cangkir: Ketika Gen Z Memilih Hidup Dengan Kopi

InspirasiKalbar,Lifestyle-Menjelang sore, sebuah kedai kopi mulai dipenuhi anak muda. Ada yang datang membawa laptop, ada yang mengobrol bersama teman, dan ada pula yang hanya duduk menikmati secangkir kopi. Bagi mereka, nongkrong tidak harus selalu identik dengan pesta atau minuman beralkohol. Secangkir kopi pun cukup untuk membuat sebuah pertemuan terasa menyenangkan.
Pemandangan seperti ini menjadi bagian dari perubahan gaya hidup anak muda, khususnya Generasi Z. Di berbagai negara, terdapat tanda-tanda bahwa sebagian anak muda mulai mengurangi konsumsi alkohol. Minuman non-alkohol pun semakin mendapat tempat dalam kehidupan sosial mereka.
Di Amerika Serikat, misalnya, survei Monitoring the Future yang didanai National Institute on Drug Abuse (NIDA) menunjukkan penggunaan alkohol di kalangan remaja terus berada pada level rendah. Pada 2024, sebanyak 26,1 persen siswa kelas 10 dan 41,7 persen siswa kelas 12 melaporkan mengonsumsi alkohol dalam 12 bulan terakhir. Angka tersebut turun dibandingkan 2023, masing-masing dari 30,6 persen dan 45,7 persen.
Penurunan tersebut sebenarnya bukan fenomena yang baru muncul. Kajian terhadap berbagai survei di Amerika Serikat juga menemukan bahwa konsumsi alkohol anak muda telah mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir. Data Monitoring the Future menunjukkan konsumsi alkohol dalam sebulan terakhir pada kelompok usia 19–20 tahun turun dari 59,1 persen pada 2000 menjadi 45,6 persen pada 2019.
Perubahan tersebut juga terlihat pada pilihan individu. Forbes, mengutip survei terhadap 1.000 anggota Gen Z, melaporkan sekitar 21 persen responden tidak mengonsumsi alkohol dan 39 persen hanya meminumnya sesekali. Kekhawatiran terhadap kesehatan dan kesehatan mental serta kurangnya ketertarikan terhadap alkohol menjadi beberapa alasan yang disebutkan responden.
Bukan berarti Gen Z sepenuhnya meninggalkan alkohol. Sebagian masih mengonsumsinya, tetapi cara mereka memandang minuman beralkohol tampaknya mulai berubah. Kantar menyebut adanya gerakan sober curious, yaitu kecenderungan untuk mengurangi konsumsi alkohol atau lebih berhati-hati dalam memilih kapan harus minum. Alasan yang ditemukan antara lain kekhawatiran kehilangan kendali, biaya, dampak fisik setelah minum, serta perhatian terhadap kesehatan.
Ketika alkohol mulai dikurangi, pilihan minuman untuk bersosialisasi pun menjadi semakin beragam. Dalam State of Beverages Trend Report 2025 dari Keurig Dr Pepper, 61 persen Gen Z berusia 21 tahun ke atas yang disurvei mengatakan mereka memilih minuman non-alkohol ketika berkumpul bersama teman.
Di sinilah kopi menemukan tempatnya. Kopi memang tidak bisa disebut sebagai pengganti langsung alkohol, tetapi budaya minum kopi menawarkan sesuatu yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial anak muda: tempat untuk berkumpul.
Coffee shop bukan lagi sekadar tempat membeli minuman. Bagi banyak anak muda, tempat tersebut bisa menjadi ruang untuk mengerjakan tugas, menyelesaikan pekerjaan, bertemu teman, berdiskusi, atau sekadar mencari suasana baru. Kopi akhirnya menjadi bagian dari pengalaman sosial, bukan hanya minuman untuk menghilangkan kantuk.
Menariknya, perubahan kebiasaan minum juga tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Jepang, yang selama bertahun-tahun dikenal memiliki budaya minum bersama rekan kerja, juga mengalami perubahan pola konsumsi alkohol. Data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang menunjukkan persentase kebiasaan minum secara rutin pada pria turun dari 51,5 persen pada 1989 menjadi 33,9 persen pada 2019.
Fenomena ini menunjukkan bahwa cara anak muda menikmati waktu bersama sedang mengalami perubahan. Bersenang-senang tidak selalu harus melibatkan alkohol. Bagi sebagian Gen Z, mengobrol sambil minum kopi, bekerja dari coffee shop, atau sekadar menikmati waktu bersama teman sudah cukup menjadi bentuk hiburan.
Pada akhirnya, cerita tentang “dari botol ke cangkir” bukan berarti semua anak muda kini anti terhadap alkohol. Lebih tepat jika fenomena ini dilihat sebagai semakin banyaknya pilihan dalam menjalani kehidupan sosial.
Kopi mungkin tidak benar-benar menggantikan miras. Namun, di tengah kesadaran terhadap kesehatan, kebutuhan untuk tetap produktif, dan keinginan untuk memiliki kendali atas diri sendiri, secangkir kopi menawarkan satu hal yang sederhana: tetap bisa berkumpul dan bersenang-senang tanpa harus kehilangan kendali.(Jihan Syaswina Aprilia)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini



