Mengingat Tradisi Dayak Kanayatn, Arti Balala’ di Tengah Karhutla?
Daftar isi:

InspirasiKalbar, Landak – Hujan yang biasanya menjadi bagian dari keseharian masyarakat Kalimantan Barat terasa semakin ditunggu pada Agustus 2026. Di sejumlah wilayah, langit yang lama tidak menurunkan hujan kini justru dipenuhi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat harus berhadapan dengan udara yang kabur, jarak pandang yang menurun, serta aktivitas luar ruangan yang terganggu. Di tengah situasi itu, muncul kembali pertanyaan mengenai sebuah tradisi masyarakat Dayak Kanayatn yang memiliki konsep berbeda dalam memandang hubungan manusia dengan alam: Balala’.
Balala’ merupakan tradisi adat yang mengajarkan masyarakat untuk berhenti dari berbagai aktivitas selama masa tertentu. Dalam pelaksanaannya, masyarakat mematuhi sejumlah pantangan dan membatasi aktivitas di luar rumah. Bagi masyarakat yang menjalankannya, Balala’ bukan sekadar hari libur, melainkan bagian dari ritual yang berkaitan dengan hubungan manusia, alam, leluhur, dan Jubata.
Lalu, ketika Kalimantan Barat sedang menghadapi kemarau panjang dan kepungan asap, apakah tradisi yang mengajarkan manusia untuk “berhenti” tersebut masih memiliki relevansi?
Hujan yang tak kunjung datang
Kemarau bukanlah sesuatu yang asing bagi Kalimantan Barat. Namun, kondisi pada 2026 membuat sejumlah wilayah harus menghadapi periode kering yang cukup panjang.
Pada awal Agustus, BMKG Kalimantan Barat mengeluarkan peringatan mengenai kondisi kekeringan. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kayong Utara, yang dilaporkan telah mengalami 33 hari tanpa hujan. Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Memasuki pertengahan hingga akhir Agustus, persoalan belum sepenuhnya berakhir.
Pada 21 Agustus, BMKG menyatakan bahwa kondisi cuaca Kalimantan Barat belum menunjukkan peluang hujan yang signifikan. Beberapa wilayah seperti Kubu Raya bagian selatan, Kayong Utara, dan Ketapang disebut memiliki peluang hujan yang sangat rendah. Angin yang cukup kencang di wilayah pesisir barat juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai dalam penyebaran kebakaran dan asap.
Kondisi kering tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas karhutla.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa pada 29 Agustus 2026 terdapat 6.526 hotspot di Kalimantan Barat dengan berbagai tingkat kepercayaan, meningkat dibandingkan 3.384 titik pada hari sebelumnya. Secara nasional, jumlah hotspot pada hari yang sama mencapai 20.378 titik. Asap kemudian menjadi persoalan tersendiri.
Pada 29 Agustus, BMKG Kalimantan Barat melaporkan kondisi Pontianak yang berkabut asap dengan jarak pandang sekitar satu kilometer. Citra satelit Himawari-9 juga menunjukkan adanya sebaran asap di Kalimantan Barat. Bahkan, asap dari wilayah Kalbar terdeteksi bergerak hingga menuju Sarawak, Malaysia. Dengan kata lain, persoalan yang terjadi bukan hanya mengenai api yang membakar lahan.
Ada rantai panjang yang mengikutinya:
kemarau panjang > lahan mengering > risiko kebakaran meningkat > karhutla > asap > kualitas udara dan aktivitas masyarakat terganggu.
Balala’: dimana masyarakat diminta berhenti
Jauh sebelum istilah seperti krisis iklim, kualitas udara, atau mitigasi bencana dikenal luas, masyarakat adat telah memiliki cara sendiri dalam mengatur hubungan manusia dengan alam. Salah satunya adalah Balala’ pada masyarakat Dayak Kanayatn.
Penelitian Atika Mia Anggrianti dan Donatianus BSE yang diterbitkan pada 2023 dalam Balale’: Jurnal Antropologi membahas Balala’ Tahutn, sebuah tradisi masyarakat Dayak Kanayatn yang berkaitan dengan permohonan perlindungan dan keselamatan kepada Jubata serta leluhur. Penelitian tersebut melihat Balala’ bukan hanya sebagai aktivitas seremonial, tetapi sebagai tradisi yang memiliki makna sosial dan simbolik bagi masyarakat yang menjalankannya.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat menjalani masa pantang dengan menghentikan atau membatasi aktivitas tertentu. Kehidupan sehari-hari yang biasanya ramai dapat berubah menjadi lebih tenang karena masyarakat mematuhi aturan adat selama ritual berlangsung.
Penelitian mengenai sejarah dan prosesi Balala’ juga menunjukkan adanya berbagai larangan terhadap aktivitas manusia selama masa pantang, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan hutan, kebun, tumbuhan, dan hewan. Konsep tersebut menjadi menarik ketika ditempatkan dalam konteks Kalimantan Barat hari ini.
Sebab, di tengah karhutla, masyarakat modern justru sedang berhadapan dengan konsekuensi dari aktivitas manusia terhadap lingkungan: pembukaan lahan, pengelolaan lahan yang tidak tepat, kebakaran, serta kondisi iklim yang membuat lingkungan semakin kering. Balala’ menawarkan sebuah gagasan sederhana: “ada waktunya manusia berhenti”.
Apakah Balala’ bisa menjadi solusi asap?
Jika yang dimaksud adalah apakah Balala’ dapat memadamkan api atau menghilangkan kabut asap, jawabannya tentu tidak. Tidak ada bukti ilmiah bahwa menghentikan aktivitas masyarakat selama 24 jam dapat memadamkan kebakaran hutan atau membuat asap menghilang. Karhutla tetap membutuhkan penanganan langsung. Pemerintah perlu melakukan pemantauan hotspot, pemadaman, patroli, pendinginan, penegakan hukum, serta berbagai tindakan pencegahan.
Hal tersebut juga terlihat dari respons pemerintah sepanjang Agustus. Kementerian Kehutanan bersama berbagai unsur terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, pendinginan, dan pemantauan lokasi yang berpotensi terbakar kembali. Balala’ juga tidak seharusnya dipaksakan sebagai solusi kesehatan masyarakat.
Ketika kualitas udara buruk, masyarakat tetap membutuhkan perlindungan berbasis kesehatan: mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai, memantau kualitas udara, dan mengikuti anjuran lembaga kesehatan serta pemerintah. Namun, ada hal lain yang bisa dipelajari dari Balala’.
Bukan menghentikan asap, tetapi menghentikan sejenak aktivitas manusia
Balala’ dapat dilihat sebagai bentuk kearifan lokal yang mengingatkan manusia bahwa alam bukan sekadar tempat untuk mengambil sumber daya. Ada batas. Ada waktu ketika manusia harus berhenti bekerja, berhenti mengambil dari alam, dan memberi ruang bagi lingkungan untuk “beristirahat”.Dalam konteks karhutla, prinsip tersebut menjadi relevan sebagai bahan refleksi. Ketika masyarakat Kalimantan Barat harus menunggu hujan selama berminggu-minggu sementara asap semakin tebal, pertanyaan mengenai hubungan manusia dengan alam menjadi semakin penting.
Apakah manusia hanya perlu memikirkan bagaimana memadamkan api setelah kebakaran terjadi? Atau seharusnya juga memikirkan bagaimana mencegah kondisi tersebut sejak awal? Di sinilah Balala’ dapat memiliki relevansi sosial. Bukan sebagai pengganti teknologi. Bukan sebagai pengganti pemadam kebakaran.Bukan pula sebagai cara mistis untuk mendatangkan hujan. Melainkan sebagai pengingat mengenai batas aktivitas manusia terhadap alam.
Tradisi dan ilmu pengetahuan bisa berjalan berdampingan
Menjadikan Balala’ relevan dengan persoalan karhutla tidak berarti harus mempertentangkan tradisi dengan ilmu pengetahuan.Keduanya dapat ditempatkan pada wilayah yang berbeda. Teknologi membantu manusia mendeteksi hotspot, mengukur kualitas udara, memantau pergerakan asap, dan memprediksi cuaca. BMKG sendiri pada akhir Agustus masih memperingatkan bahwa kondisi kemarau dan risiko karhutla meningkat di berbagai wilayah Indonesia, meskipun peluang hujan lokal tetap ada.
Sementara itu, kearifan lokal dapat memberikan perspektif mengenai bagaimana manusia seharusnya memperlakukan lingkungannya. Dengan cara tersebut, Balala’ tidak perlu dipaksa menjadi “solusi” atas kabut asap. Ia bisa menjadi ruang refleksi. Ketika masyarakat diminta berhenti selama satu hari, pertanyaan yang lebih besar justru dapat muncul: mengapa alam sampai berada dalam kondisi yang membuat manusia harus berhenti?
Perlukah Balala’ dilakukan?
Tidak ada dasar ilmiah untuk menyatakan bahwa Balala’ perlu dilakukan agar asap hilang atau hujan turun. Namun, jika pertanyaannya adalah apakah nilai yang terkandung dalam Balala’ masih relevan ketika Kalimantan Barat menghadapi kemarau panjang dan karhutla, jawabannya layak untuk dipertimbangkan. Terlebih, Balala’ bukan tradisi yang hanya hidup dalam catatan sejarah.
Penelitian terbaru mengenai pelestarian tradisi tersebut menunjukkan bahwa Balala’ masih menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat Dayak Kanayatn. Mungkin yang perlu dilakukan bukanlah meminta Balala’ menjadi jawaban atas persoalan karhutla.Sebaliknya, masyarakat modern dapat belajar dari pertanyaan yang dibawa tradisi tersebut:
Di tengah Kalimantan Barat yang menunggu hujan, langit yang tertutup asap, dan ribuan hotspot yang terdeteksi, pertanyaan itu terasa semakin relevan. Sebab, ketika hujan belum juga datang dan api terus menyala, memadamkan kebakaran memang menjadi kebutuhan mendesak. Tetapi mencegah agar manusia tidak terus membawa alam menuju kondisi yang sama mungkin merupakan pekerjaan yang jauh lebih panjang. (Rida Ulkibria)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini










