Inspirasi Kalbar
Beranda Berita Sehari Tanpa Ponsel, Sanggupkah Kita?

Sehari Tanpa Ponsel, Sanggupkah Kita?

(Sumber foto : Nguyễn Tiến Thịnh from Pexels)

InspirasiKalbar,Lifestyle–Bayangkan sebuah pagi yang sedikit berbeda. Jam weker manual berdering nyaring di atas meja, menggantikan nada dering bawaan dari ponsel yang biasa berbunyi di dekat bantal. Refleks pertama tanganmu saat baru membuka mata biasanya adalah meraba-raba kasur, mencari benda persegi berukuran lima inci untuk melihat jam, membaca notifikasi pesan yang masuk semalaman, atau sekadar menggulir linimasa media sosial. Namun, pagi ini, benda itu tidak ada. Ponselmu mati total dan terkunci rapat di dalam laci meja.

Bagaimana perasaanmu saat membayangkannya? Apakah ada rasa tenang yang perlahan hadir, atau justru rasa cemas yang mendadak menyeruak di dada?

Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan saat ini, bayangan melewatkan satu hari penuh tanpa ponsel terasa seperti sebuah ujian ketahanan mental. Ponsel pintar telah bertransformasi dari sekadar alat komunikasi jarak jauh menjadi perpanjangan dari tubuh manusia itu sendiri. Benda kecil ini menyimpan segalanya: dari dompet digital, peta penunjuk jalan, hiburan harian, dokumen pekerjaan, hingga portal utama untuk berhubungan dengan dunia luar. Mengambil ponsel dari genggaman kita selama 24 jam rasanya seperti memotong separuh dari kelancaran hidup harian yang biasa kita jalani.

Namun, pertanyaan mendasarnya tetap ada dan makin relevan untuk kita renungkan bersama: di tengah kebiasaan yang serba serba cepat dan terkoneksi ini, sanggupkah kita benar-benar bertahan sehari saja tanpa menyentuh layar ponsel?

Ketika Benda Kecil Menguasai Jam Bangun Kita

Untuk memahami mengapa gagasan “sehari tanpa ponsel” terasa begitu berat, kita perlu melihat seberapa dalam benda ini telah masuk ke dalam denyut nadi kehidupan sehari-hari. Berdasarkan Laporan State of Mobile yang dirilis oleh platform analisis data aplikasi Data.ai, Indonesia berkali-kali menempati urutan teratas sebagai negara dengan durasi penggunaan ponsel (screen time) harian tertinggi di dunia. Rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu lebih dari 5 jam setiap harinya hanya untuk menatap layar ponsel.

Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Jika dikalkulasikan secara sederhana, waktu 5 jam sehari itu setara dengan lebih dari sepertiga dari total waktu bangun kita dalam 24 jam. Tanpa kita sadari, sebagian besar dari energi pikiran dan perhatian harian kita telah tersedot masuk ke dalam dunia digital yang ada di balik layar kaca tersebut.

Kehadiran ponsel telah menggeser banyak ritual fisik dalam hidup kita. Pagi hari yang dulu diisi dengan menyeduh kopi hangat sambil menatap dedaunan di teras rumah, kini berganti menjadi ritual mengusap layar sambil mengunyah sarapan. Percakapan langsung di meja makan sering kali diselingi denting dentang notifikasi yang minta segera dibalas. Bahkan, waktu istirahat malam yang seharusnya menjadi saat bagi tubuh untuk beristirahat penuh, sering kali terampas oleh kebiasaan mengulang-ulang guliran video pendek hingga larut malam.

Keberadaan fear of missing out (FOMO) atau rasa takut tertinggal informasi menjadi salah satu pendorong utama mengapa tangan kita begitu sulit berpisah dari ponsel. Kita merasa harus selalu standby untuk membalas pesan grup kantor, membaca gosip atau tren terbaru yang sedang ramai dibicarakan di media sosial, atau sekadar melihat apa yang sedang dilakukan oleh teman-teman kita lewat unggahan cerita harian mereka.

Pengalaman Mematikan Layar: Antara Cemas dan Melegakan

Menantang diri untuk berpisah dari ponsel selama seharian penuh tentu memberikan dinamika emosional yang beragam. Hal ini dirasakan langsung oleh Andrean Setya (26), seorang pekerja kreatif di kawasan Jakarta Selatan yang baru-baru ini mencoba melakukan eksperimen lepas dari ponsel selama 24 jam penuh di akhir pekan.

 “Jujur, tiga jam pertama itu rasanya tersiksa sekali. Tanganku refleks bolak-balik meraba saku celana setiap beberapa menit. Ada rasa cemas yang aneh, seperti takut ada panggilan darurat dari kantor atau ada berita penting yang kelewatan. Pikiran saya terus-menerus bertanya-tanya, ‘Ada yang nyariin saya enggak ya?’” cerita Andrean ketika menceritakan pengalaman awalnya.

Namun, dinamika batin tersebut perlahan mulai berubah ketika hari menginjak siang. Setelah berhasil melewati fase gelisah di jam-jam awal, Andrean mulai menyadari ada perubahan rasa yang cukup signifikan pada fokus dan tempo berpikirnya.

“Pas masuk siang dan sore, anehnya rasa cemas itu pelan-pelan hilang. Suasana ruangan rasanya jadi lebih tenang. Saya akhirnya bisa menyelesaikan baca satu buku tebal yang sudah nangkring berbulan-bulan di meja tanpa terdistraksi sama sekali. Saya juga baru sadar kalau sore hari di halaman belakang rumah itu ternyata enak banget buat duduk-duduk. Ternyata pikiran saya tidak secapek biasanya,” tambah Andrean.

Pengalaman yang dialami Andrean membuktikan satu hal: ketakutan kita akan kehilangan koneksi sering kali hanyalah ilusi yang diciptakan oleh kebiasaan pikiran kita sendiri. Begitu kita berhasil melewati benteng kecemasan awal tersebut, tubuh dan pikiran kita sebenarnya memiliki kemampuan alami untuk beradaptasi dan menikmati keheningan.

Dampak Nyata pada Kesehatan Fisik dan Mental

Keinginan untuk melepaskan diri sejenak dari layar gawai atau yang kini populer dengan istilah digital detox bukan sekadar tren gaya hidup keren-kerenan belakangan ini. Secara medis dan psikologis, dorongan ini berakar dari kebutuhan tubuh manusia yang mulai lelah akibat paparan stimulasi digital yang terus-menerus tanpa jeda.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dalam berbagai panduan edukasi kesehatannya kerap mengingatkan masyarakat mengenai bahaya paparan layar (screen time) yang berlebihan. Dari segi kesehatan fisik, menatap layar ponsel dalam durasi panjang dapat memicu gangguan Computer Vision Syndrome (CVS) yang ditandai dengan mata kering, pandangan kabur, hingga sakit kepala yang mengganggu. Selain itu, kebiasaan menunduk saat memegang ponsel dalam jangka panjang dapat merubah postur tubuh dan memicu nyeri kronis pada leher serta tulang belakang (text neck syndrome).

Dari sisi kesehatan mental, paparan notifikasi yang tak pernah berhenti memicu otak untuk berada dalam kondisi siaga secara terus-menerus (hyperarousal). Setiap notifikasi, suara denting, atau getaran kecil yang masuk merangsang pelepasan hormon dopamin secara instan di dalam otak, menciptakan pola ketergantungan yang mirip dengan adiksi. Akibatnya, rentang perhatian (attention span) manusia modern cenderung makin pendek, mudah merasa bosan, serta gampang terganggu ketika harus menyelesaikan tugas-tugas yang membutuhkan fokus mendalam.

Kondisi psikologis ini juga diamati langsung oleh para praktisi kesehatan di lapangan. Dr. Rian Hidayat, Sp.KJ, seorang psikiater yang banyak menangani masalah gaya hidup masyarakat perkotaan, menjelaskan bagaimana ketergantungan pada ponsel dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang secara bertahap.

“Tubuh dan otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk menerima rentetan stimulasi informasi visual dan audio sebanyak yang kita terima dari ponsel setiap harinya. Ketika seseorang terus-menerus terpapar notifikasi, sistem sarafnya bekerja ekstra keras tanpa ada kesempatan untuk beristirahat secara utuh. Dampaknya bisa berupa insomnia, rasa cemas yang tidak beralasan, hingga rasa lelah mental berlebihan (mental fatigue),” terang Dr. Rian. Dr. Rian menekankan bahwa melatih diri untuk libur menggunakan ponsel selama sehari memiliki dampak pemulihan yang sangat positif bagi sistem saraf manusia.

“Mengambil jeda sehari tanpa ponsel itu seperti memberikan tombol restart bagi otak kita. Saat kita mematikan notifikasi, kadar hormon stres dalam tubuh perlahan menurun. Kita memberikan kesempatan bagi sistem saraf untuk beristirahat dari bombardir informasi. Hasilnya, kualitas tidur membaik, emosi jadi lebih stabil, dan kita bisa kembali merasakan kepekaan terhadap lingkungan sekitar yang selama ini tertutup oleh layar kaca,” jelasnya lebih lanjut.

Menemukan Kembali Kehadiran yang Utuh

Salah satu hal paling berharga yang sering kali hilang ketika kita terlalu sibuk menatap ponsel adalah “kehadiran yang utuh” (mindfulness) dalam setiap momen yang kita jalani. Kita sering kali berada di suatu tempat secara fisik, tetapi pikiran kita melayang jauh berkelana di dalam linimasa media sosial.

Saat kita berkumpul di meja makan bersama keluarga, mata kita kerap kali curi-curi pandang ke arah layar yang menyala. Ketika sedang menghadiri acara penting atau berada di tempat wisata yang indah, fokus utama kita sering kali bergeser dari menikmati suasana menjadi sibuk mengabadikan momen demi konten unggahan. Kita sibuk mendokumentasikan hidup, sampai-sampai lupa bagaimana rasanya benar-benar menjalani hidup itu sendiri.

Menjalani satu hari tanpa ponsel memberikan kesempatan langka untuk mengembalikan kesadaran utuh tersebut. Tanpa ponsel di tangan, kita dipaksa untuk kembali berkomunikasi dengan cara-cara lama yang lebih manusiawi:

Mendengarkan dengan Sungguh-Sungguh: Kita bisa menatap mata lawan bicara saat mereka sedang bercerita, memperhatikan nada suara dan ekspresi wajah mereka tanpa terdistraksi oleh dering telepon atau getaran pesan.

  1. Menikmati Lingkungan Sekitar: Kita mulai menyadari hal-hal kecil di sekitar rumah yang selama ini luput dari perhatian—suara angin yang berembus di dedaunan, kicau burung di pagi hari, atau warna langit sore yang perlahan berubah saat matahari terbenam.
  2. Merasakan Ritme Lambat: Makanan yang kita santap terasa lebih lezat karena kita benar-benar mengunyahnya dengan sadar, bukan sambil mengusap layar ponsel di tangan kiri.

Kesederhanaan inilah yang sering kali dirindukan oleh banyak masyarakat perkotaan, namun sulit diwujudkan karena kita terlanjur menyerahkan waktu bebas kita kepada algoritma dunia digital.

Langkah Praktis Memulai Hari Tanpa Ponsel

Jika ide untuk langsung mematikan ponsel selama 24 jam penuh terasa terlalu ekstrem atau sulit dilakukan karena tuntutan pekerjaan di hari kerja, kita tidak perlu berkecil hati. Proses melatih diri ini bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang realistis dan konsisten di akhir pekan atau hari libur:

  1. Beri Tahu Orang Terdekat: Sebelum memulai hari tanpa ponsel, komunikasikan niatmu kepada keluarga, pasangan, atau rekan kerja terdekat. Berikan nomor kontak darurat alternatif (seperti nomor telepon rumah atau nomor teman yang sedang bersamamu) agar mereka tidak panik jika tidak bisa menghubungimu.
  2. Gunakan Alat Analog: Sediakan alternatif instrumen fisik untuk menggantikan fungsi dasar ponsel. Gunakan jam weker manual untuk bangun pagi, jam tangan untuk melihat waktu, serta buku catatan kecil dan pena untuk mencatat hal-hal penting.
  3. Pindahkan Ponsel dari Jangkauan: Jangan hanya menaruh ponsel dalam mode hening di atas meja, karena godaan untuk mengambilnya akan tetap besar. Matikan daya ponsel sepenuhnya dan simpan di dalam laci atau dalam tas yang sulit dijangkau.
  4. Siapkan Rencana Aktivitas Fisik: Isi waktu kosongmu dengan kegiatan-kegiatan manual yang menyenangkan. Kamu bisa membaca buku, merawat tanaman di halaman, memasak resep baru, merapikan isi lemari, atau sekadar berjalan kaki menyusuri lingkungan sekitar rumah.
  5. Mulai dari Skala Kecil: Jika 24 jam penuh terasa terlalu berat untuk tahap awal, mulailah dengan durasi yang lebih pendek terlebih dahulu. Misalnya, coba matikan ponsel selama 4 jam di hari Minggu pagi, lalu tingkatkan durasinya secara bertahap di minggu-minggu berikutnya.

Bukan Memusuhi Teknologi, Tapi Mengambil Alih Kendali

Pada akhirnya, gerakan sehari tanpa ponsel bukanlah sebuah kampanye untuk mengajak kita memusuhi teknologi atau kembali hidup di zaman purba tanpa peradaban modern. Ponsel pintar tetaplah sebuah alat yang sangat berguna, inovatif, dan telah banyak memudahkan urusan manusia modern dalam berbagai aspek kehidupan.

Namun, inti dari persoalan ini adalah tentang kendali. Apakah kita yang memegang kendali penuh atas penggunaan ponsel dalam hidup kita, ataukah justru ponsel dan algoritma di dalamnya yang telah mengambil alih kendali atas waktu, pikiran, dan emosi kita sehari-hari?

Menjalani sehari tanpa ponsel adalah sebuah latihan kesadaran yang menantang sekaligus membebaskan. Eksperimen sederhana ini mengingatkan kita bahwa dunia nyata di luar layar kaca ini masih sangat luas, indah, dan penuh dengan momen-momen berharga yang menunggu untuk kita rasakan secara langsung.

Jadi, kembali ke pertanyaan awal: sanggupkah kita menjalani sehari tanpa ponsel? Jawabannya tentu kembali kepada diri kita masing-masing. Tekan tombol power off itu sejenak, simpan ponselmu di dalam laci, angkat kepalamu, dan lihatlah betapa banyaknya kehidupan hangat yang siap kamu nikmati hari ini. (Jihan Syaswina Aprilia)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
mancingjitu