Masker Bedah dan Masker Kain Tak Cukup Lindungi dari Asap Karhutla, Ini Penjelasan Peneliti

InspirasiKalbar, Kesehatan – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar gangguan berupa udara berbau menyengat atau jarak pandang yang berkurang. Di balik kabut asap tersebut terdapat partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Salah satu yang paling dikhawatirkan adalah particulate matter berukuran 2,5 mikrometer atau PM2.5. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini mampu mencapai bagian dalam paru-paru dan menjadi salah satu komponen utama yang menyebabkan risiko kesehatan akibat paparan asap.
Dalam kondisi udara dipenuhi asap karhutla, masyarakat sering menggunakan masker kain atau masker bedah yang mudah ditemukan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis masker tersebut memiliki keterbatasan besar ketika digunakan untuk melindungi diri dari partikel asap.
Sebuah systematic review mengenai intervensi untuk mengurangi paparan polusi akibat kebakaran lahan yang diterbitkan pada 2025 membandingkan berbagai penelitian mengenai perlindungan pernapasan selama paparan landscape fire smoke. Hasil kajian tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang cukup jelas antara masker kain, masker bedah, dan respirator seperti N95 atau P2. Dalam salah satu penelitian yang ditinjau, faktor perlindungan terhadap asap kebakaran diperkirakan sekitar 0,33 untuk masker kain, 0,68 untuk masker bedah, dan 0,9 untuk respirator N95. Kajian tersebut juga menemukan bahwa masker P2/N95 dapat mengurangi paparan partikulat secara jauh lebih efektif dibandingkan masker biasa.
Masalah utama masker kain terletak pada kemampuan filtrasi dan celah di sekitar wajah. Kain yang digunakan pada masker sehari-hari tidak dirancang khusus untuk menyaring partikel halus seperti PM2.5. Penelitian yang membandingkan beberapa jenis masker terhadap partikel yang berkaitan dengan asap kebakaran menemukan bahwa efisiensi filtrasi masker kain jauh lebih rendah dibandingkan respirator. Dalam salah satu pengujian yang dirangkum dalam rapid review, filtrasi masker kain terhadap partikel PM1–15 hanya sekitar 8,9 persen, sementara masker bedah mencapai sekitar 81,3 persen dan respirator N95 sekitar 98,6 persen.
Meski demikian, angka tersebut tidak berarti masker bedah sama sekali tidak berguna. Masker bedah memiliki material yang dapat menyaring sebagian partikel, tetapi efektivitasnya ketika dipakai manusia sangat dipengaruhi oleh kebocoran udara dari sisi masker. Berbeda dengan respirator N95, masker bedah umumnya tidak dirancang untuk membentuk segel rapat di sekitar hidung, pipi, dan dagu. Akibatnya, sebagian udara yang dihirup dapat masuk melalui celah di sekitar masker tanpa melewati lapisan penyaring.
Hal tersebut juga terlihat dalam penelitian yang memodelkan manfaat berbagai jenis masker terhadap paparan polusi partikulat. Meskipun material masker bedah dapat memiliki efisiensi filtrasi yang tinggi terhadap partikel tertentu, perlindungan sebenarnya dapat turun secara signifikan ketika terdapat kebocoran di sekitar wajah. Penelitian tersebut memperkirakan bahwa masker bedah dapat memberikan manfaat kesehatan yang lebih rendah dibandingkan N95, sedangkan masker berbahan serat alami memberikan perlindungan yang jauh lebih terbatas.
Penelitian lain yang membandingkan perlindungan masker terhadap partikel asap kebakaran juga menunjukkan pola yang serupa. Partikel asap memiliki distribusi ukuran yang didominasi oleh partikel sangat kecil, termasuk partikel submikrometer. Pada ukuran tersebut, masker kain menunjukkan performa paling rendah, disusul masker bedah, sementara respirator memiliki kemampuan filtrasi paling tinggi. Penelitian ini menekankan bahwa jenis partikel asap dan tingkat kecocokan masker pada wajah sangat menentukan perlindungan yang diperoleh seseorang.
Temuan tersebut sejalan dengan panduan kesehatan terbaru dari National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Dalam penjelasan yang diperbarui pada 2025, NIOSH menyebutkan bahwa masker kain dan masker bedah tidak dirancang untuk menutup wajah secara rapat maupun menggunakan material filtrasi yang ditujukan untuk menyaring partikel asap berukuran sangat kecil. Karena itu, keduanya dapat memberikan perlindungan yang terbatas atau bahkan tidak memadai terhadap partikel kecil yang terdapat dalam asap.
Sebaliknya, respirator seperti N95 dirancang untuk membentuk segel yang lebih rapat pada wajah sekaligus menggunakan material penyaring partikulat. Ketika digunakan dengan benar dan memiliki ukuran yang sesuai, respirator N95 dapat mengurangi jumlah partikel PM2.5 yang terhirup secara signifikan. NIOSH bahkan menyebutkan bahwa respirator yang digunakan dengan benar dapat mengurangi paparan terhadap bahaya partikulat di udara secara jauh lebih besar dibandingkan masker biasa.
Temuan terbaru pada 2026 juga semakin memperjelas perbedaan tersebut. Sebuah tinjauan mengenai paparan asap kebakaran dan kesehatan pernapasan menyatakan bahwa masker kain memiliki kemampuan filtrasi PM2.5 yang minimal, sedangkan masker bedah hanya memberikan perlindungan moderat dan tidak cukup untuk menjadi perlindungan utama terhadap partikulat halus. Respirator seperti N95 atau P2 dinilai sebagai pilihan yang lebih efektif untuk mengurangi paparan PM2.5.
Namun, masker bukan satu-satunya cara untuk menghadapi kabut asap. Mengurangi waktu berada di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk tetap menjadi langkah penting. Masyarakat juga dapat mengurangi masuknya asap ke dalam rumah dengan menutup jendela dan pintu serta menggunakan penyaring udara dengan HEPA jika tersedia. CDC menempatkan penggunaan respirator yang terpasang dengan baik sebagai salah satu langkah perlindungan ketika seseorang memang harus berada di luar dalam kondisi berasap.
Dengan demikian, anggapan bahwa semua masker memberikan perlindungan yang sama terhadap asap karhutla adalah keliru. Masker kain memiliki kemampuan yang sangat terbatas, sementara masker bedah masih dapat menyaring sebagian partikulat tetapi perlindungannya berkurang akibat desain yang tidak kedap terhadap wajah. Keduanya sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti respirator ketika seseorang menghadapi paparan asap karhutla yang pekat.
Pada akhirnya, yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah seseorang menggunakan masker, tetapi jenis masker, kemampuan filtrasinya, serta seberapa rapat masker tersebut menempel pada wajah. Dalam situasi kabut asap dengan konsentrasi PM2.5 tinggi, respirator seperti N95 atau P2 yang digunakan dengan benar memberikan perlindungan yang jauh lebih baik dibandingkan masker kain maupun masker bedah. (Rida Ulkibria)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini






