Pesan yang Tidak Pernah Kubaca

InspirasiKalbar,Lifestyle–Nama ku Aldi. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku benar-benar meletakkan ponsel tanpa merasa harus mengambilnya lagi. Mungkin saat tidur. Itu pun tidak benar-benar ditinggalkan. Ponsel selalu berada di dekat bantal, layarnya menghadap ke bawah, tetapi getarannya tetap bisa membuat tanganku bergerak mencari. Hari itu, untuk pertama kalinya, aku memutuskan untuk mematikannya. Bukan karena baterainya habis. Bukan juga karena ponselku rusak. Aku hanya lelah.
Pagi itu, aku duduk di tepi tempat tidur sambil menatap layar yang sejak tadi penuh dengan notifikasi. Grup kantor, pesan teman, promosi belanja, berita, video pendek, dan beberapa pesan yang sebenarnya tidak perlu kubuka saat itu juga. Jempolku bergerak membuka satu per satu. Lima menit berubah menjadi sepuluh menit, lalu tanpa sadar hampir satu jam berlalu. Aku menghela napas panjang.
“Kalau begini terus, kapan aku hidupnya?” Pertanyaan itu keluar begitu saja. Aku berdiri, memasukkan ponsel ke dalam laci meja, lalu menatapnya beberapa detik. Kemudian aku mematikannya. Rasanya aneh, seperti baru saja melakukan sesuatu yang salah.
Aku pergi ke dapur dan membuat sarapan. Tidak ada musik dari ponsel. Tidak ada suara notifikasi. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring dan kendaraan dari jalan depan rumah. Awalnya terasa sepi. Namun setelah beberapa menit, aku mulai terbiasa. Aku mencuci piring, merapikan kamar, dan menyapu lantai. Hal-hal sederhana yang biasanya kulakukan sambil sesekali memeriksa layar. Hari itu semuanya kulakukan tanpa ponsel. Menjelang siang, aku keluar membeli makan.
Di perjalanan, aku baru sadar bahwa selama ini aku hampir selalu berjalan sambil melihat layar. Entah membalas pesan, membaca berita, atau sekadar menggulir video yang sebenarnya tidak terlalu menarik. Hari itu aku melihat jalan. Aku melihat penjual gorengan di ujung gang. Aku melihat seorang anak kecil berlari mengejar layang-layang. Aku melihat seorang bapak tua duduk sendirian di depan warung. Aku bahkan baru sadar kalau di dekat rumahku ada pohon mangga yang sudah cukup besar.
“Selama ini aku lewat sini setiap hari,” gumamku. Ternyata aku tidak benar-benar melihat apa-apa. Siang berganti sore. Aku mulai membaca buku yang sudah berbulan-bulan tergeletak di meja. Baru beberapa halaman, aku merasa mengantuk dan akhirnya tertawa sendiri. Ternyata bukan bukunya yang membosankan. Aku saja yang sudah terlalu terbiasa dengan sesuatu yang bergerak cepat.
Sore itu, ibu pulang lebih awal. Ia melihatku duduk di ruang tamu tanpa ponsel. “Aldi, kamu sakit? Tumben tidak sibuk dengan ponselmu?” tanyanya penasaran.
“Enggak, Bu.” Jawabku sambil tertawa.
“Terus HP-mu mana?”
“Aku matikan.”
Ibu berhenti melepas sandal. “Kenapa?”
“Capek.”
Ibu hanya mengangguk, lalu duduk di sebelahku. Tanpa bertanya lagi. Untuk beberapa saat, kami tidak bicara. Biasanya kalau sedang bersama ibu, aku tetap sibuk dengan ponsel. Kadang aku menjawab pertanyaannya tanpa benar-benar mendengar. Kadang ibu bercerita, sementara mataku tetap tertuju pada layar. Hari itu berbeda.
Setelah jeda beberapa menit, Ibu mulai bercerita tentang tetangga sebelah yang anaknya baru pulang dari luar kota. Aku mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Ketika cerita itu ada yang lucu kami tertawa. “Aldi, kamu sekarang jarang cerita sama ibu. Ibu rindu mendengar celotehmu ketika bercerita,”kata ibu sambil memandangku.
Aku terdiam. “Memangnya dulu aku sering cerita?”
“Dulu kamu suka bercerita. Sekarang lebih banyak diam dan sibuk dengan ponselmu!” Aku menunduk. Ada sesuatu dalam kalimat sederhana itu yang membuat dadaku terasa sedikit sesak. Malamnya, aku makan bersama ibu tanpa ponsel di meja. Kami berbicara tentang makanan, pekerjaan, dan rencana akhir pekan. Percakapannya biasa saja, tetapi malam itu terasa berbeda. Aku baru sadar betapa banyak percakapan kecil yang mungkin sudah terlewat hanya karena aku merasa harus selalu melihat layar. Setelah makan, aku kembali ke kamar. Aku sempat ingin menyalakan ponsel. Tanganku bahkan sudah memegangnya, tetapi aku mengurungkan niat. “Besok saja.”Gumamku meyakinkan diri. Aku tidur lebih cepat, tidak begadang seperti biasanya.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, aku tidak terbangun tengah malam hanya untuk melihat layar. Keesokan paginya, aku menyalakan ponsel. Layar langsung dipenuhi notifikasi. Ada lebih dari seratus pesan. Aku mengernyit. Sebagian besar tidak penting. Aku mulai menghapus notifikasi satu per satu. Grup kantor, grup teman, promosi, media sosial, semuanya bercampur menjadi satu Sampai akhirnya aku menemukan satu pesan dari nomor yang tidak kusimpan.Pesan itu dikirim kemarin pagi, pukul 08.17.
Aku hampir menghapusnya seperti pesan lainnya. Namun entah kenapa, jariku berhenti. Aku membukanya.
“Assalamualaikum, Aldi. Ini nomor baru Bapak. Kalau kamu sempat, Bapak ingin bicara.”
Aku membaca pesan itu dua kali. “Bapak”. Aku menatap layar cukup lama. Hubunganku dengan bapak memang tidak terlalu dekat. Sejak orang tuaku bercerai beberapa tahun lalu, Bapak tinggal di kota lain. Kami masih sesekali berbicara, tetapi tidak pernah benar-benar sering. Dulu, sebenarnya bapak adalah orang yang cukup dekat denganku. Waktu kecil, setiap akhir pekan ia sering mengajakku membeli makanan di luar. Kadang kami hanya pergi ke warung dekat rumah, tetapi bagiku itu sudah seperti perjalanan penting.
Bapak juga orang yang pertama kali mengajariku naik sepeda. Ia berlari di belakang sambil memegang jok, lalu melepaskannya tanpa memberitahuku. Aku masih ingat bagaimana aku marah ketika tahu ternyata sejak tadi aku sudah bisa mengayuh sendiri. “Kalau Bapak bilang, nanti kamu takut,” katanya waktu itu.
Aku tidak tahu kapan hubungan kami mulai berubah. Setelah perceraian, semuanya terasa canggung. Bukan karena kami tidak saling menyayangi, tetapi karena jarak membuat percakapan semakin sedikit. Lama-lama, telepon yang dulu bisa berlangsung hampir satu jam berubah menjadi percakapan singkat, hanya beberapa menit.
“Aldi, kamu sudah makan?”
“Sudah, Pak.”
“Kerja bagaimana?”
“Baik.”
“Hati-hati.”
“Iya, Pak.”
Selesai.
Mungkin karena itulah aku tidak pernah benar-benar merasa ada sesuatu yang salah. Kami hanya terbiasa hidup dengan jarak. Aku kembali melihat pesan di layar. Aku membalas.
“Waalaikumsalam. Iya Pak. Ada apa?”
Tidak sampai semenit, balasan masuk.
“Bapak cuma mau dengar suara kamu, Al.”
Aku tersenyum kecil. Lalu aku menekan tombol panggil. Tidak diangkat. Aku mencoba lagi. Tetap tidak ada jawaban. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk.
“Bapak sedang di rumah sakit. Nanti kalau sudah bisa, Bapak telepon.”
Aku langsung berdiri. Rumah sakit?”
Aku menelepon lagi, tetapi tetap tidak diangkat. Tanganku mulai dingin. Aku segera menghubungi tante yang tinggal dekat dengan Bapak. Tidak lama kemudian, teleponku diangkat.
“Halo?”
“Tante, Bapak di rumah sakit?”
Suara tante terdengar pelan. “Iya, Al.”
“Kenapa?”
Tante diam sebentar. “Sudah beberapa hari sebenarnya.”
Aku duduk di tepi tempat tidur. “Kenapa aku enggak dikasih tahu?”
“Dia enggak mau bilang.”
Aku menggigit bibir. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba datang. Bukan karena aku tahu Bapak sakit dan tidak datang, tetapi karena aku baru menyadarinya setelah membaca satu pesan yang hampir saja kuhapus. Aku membuka kembali pesan Bapak. Satu pesan. Satu kalimat. “Bapak ingin bicara.” Aku membayangkan kalau kemarin aku tidak mematikan ponsel. Kalau pesan itu masuk saat aku sedang sibuk, mungkin aku akan membacanya sekilas. Mungkin aku akan berpikir, nanti saja balasnya. Mungkin aku akan lupa. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah kupikirkan. Bukan ponsel yang membuat kita jauh. Kadang kita sendiri yang terlalu sibuk dengan ponsel sampai tidak menyadari siapa yang sedang mencoba mendekat.
Siang itu aku pergi ke rumah sakit. Begitu masuk ke kamar, aku mencium bau obat yang khas. Suara roda tempat tidur sesekali terdengar dari lorong, bercampur dengan langkah perawat dan suara orang berbicara pelan. Bapak terlihat lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya. Ketika aku masuk, ia sedang tidur. Wajahnya tampak lelah. Ada selang infus di tangannya yang membuatku kembali sadar bahwa beberapa hari terakhir ternyata ia melewati sesuatu yang tidak kuketahui. Aku duduk di kursi sebelah ranjang. Beberapa menit kemudian, matanya terbuka.
Ia melihatku dan tersenyum. “Kamu datang, Al.”
Aku mengangguk. “Iya.”
Bapak mencoba duduk, tetapi aku segera membantunya memperbaiki posisi bantal. Kami diam cukup lama. Aku ingin mengatakan banyak hal, tetapi tidak tahu harus memulainya dari mana. Akhirnya Bapak berkata, “Kemarin Bapak kirim pesan.”
“Iya. Aku baru baca pagi ini.”
“Bapak pikir kamu sibuk.”
Aku menatap tangannya yang terlihat jauh lebih kurus. “Aku memang sibuk, Pak.” Aku berhenti sebentar.
“Tapi kayaknya selama ini aku terlalu sibuk.” Bapak tersenyum kecil. “Bapak cuma mau dengar suara kamu.”
Aku menunduk. “Kenapa enggak telepon saja?”
“Bapak takut mengganggu.”
Kalimat itu membuatku terdiam. Selama ini aku selalu merasa orang lain terlalu sering menggangguku. Pesan masuk ketika sedang bekerja. Telepon ketika sedang makan. Notifikasi ketika sedang istirahat. Ternyata ada seseorang yang justru takut menggangguku. Padahal mungkin ia hanya ingin didengar.
Aku menggenggam tangan Bapak. “Kalau Bapak mau telepon, telepon saja.”
Bapak tertawa pelan. “Nanti kamu marah.”
“Enggak.”
“Janji?”
Aku mengangguk. “Janji.”
Setelah itu kami bicara cukup lama. Tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Tentang rumah. Tentang masa kecilku. Tentang makanan yang dulu sering dibuat Bapak. Tentang sepeda yang pernah diajarkannya kepadaku. Bahkan kami sempat tertawa ketika membicarakan bagaimana dulu aku menangis karena Bapak melepaskan jok sepeda tanpa bilang-bilang.
“Aku masih ingat, Pak.”
“Bapak juga.”
“Jahat banget waktu itu.”
Bapak tertawa. “Kamu sekarang sudah besar.”
Aku tersenyum. Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dada. Rasanya seperti sedang menemukan kembali sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Kami juga membicarakan hal-hal yang selama ini tidak pernah sempat dibicarakan. Bapak bercerita bahwa ia sering ingin menghubungiku, tetapi takut aku sedang sibuk. Aku pun mengaku bahwa aku sering ingin menelepon, tetapi selalu merasa bisa melakukannya nanti. Ternyata kami berdua sama-sama menunggu. Sama-sama takut mengganggu. Sama-sama mengira yang lain sedang terlalu sibuk. Sebelum pulang, Bapak memanggilku.
“Nak.”
Aku menoleh.
“Jangan terlalu sering lihat HP.” Aku tertawa. “Bapak juga tahu?”
“Kelihatan.”
Aku tertawa lebih keras. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa lega. Beberapa hari setelah itu, aku kembali menggunakan ponsel seperti biasa. Aku tetap bekerja, tetap membalas pesan, tetap membuka media sosial. Tetapi ada satu kebiasaan yang berubah. Aku tidak lagi merasa harus menjawab semuanya saat itu juga. Kalau sedang makan bersama ibu, ponsel kutaruh jauh. Kalau seseorang sedang bercerita, aku mencoba melihat wajahnya, bukan layar. Kalau ada telepon dari keluarga, sebisa mungkin kuangkat.
Setiap malam sebelum tidur, aku juga mulai mematikan notifikasi yang tidak penting. Bukan karena ponsel adalah sesuatu yang buruk. Aku hanya mulai belajar bahwa tidak semua hal yang berbunyi di layar harus mendapatkan perhatian kita. Ada hal-hal yang jauh lebih penting dan tidak selalu berbunyi. Seperti suara ibu yang bertanya apakah aku sudah makan. Suara teman yang sedang bercerita tentang harinya. Suara Bapak yang hanya ingin mendengar kabarku. Dan mungkin, ada banyak pesan lain yang sebenarnya sedang dikirimkan kehidupan kepada kita. Hanya saja kita terlalu sibuk menatap layar untuk membacanya.
Pagi itu, sebelum berangkat kerja, aku membuka laci meja. Aku melihat ponselku, lalu mengambilnya dengan senyum kecil. Bukan karena ada pesan baru. bJustru karena kali ini aku tahu, aku tidak harus selalu membacanya. Aku memasukkannya ke dalam tas dan keluar rumah. Di depan gang, seorang anak kecil kembali mengejar layang-layang. Pohon mangga masih berdiri di tempat yang sama. Penjual gorengan sudah membuka dagangannya. Aku berjalan tanpa terburu-buru mencari layar. Mungkin selama ini aku tidak benar-benar membutuhkan lebih banyak waktu.
Aku hanya perlu belajar memberikan waktu kepada hal-hal yang memang layak diperhatikan. Karena pada akhirnya, pesan yang paling penting dalam hidup kita mungkin bukan pesan yang muncul di layar. Melainkan pesan yang datang diam-diam, lewat orang-orang yang kita sayangi. Dan sering kali, pesan itu hanya berbunyi sederhana: “Aku masih di sini. Tolong jangan sampai kamu terlambat menyadarinya.”(Jihan Syaswina Aprilia)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini




