Inspirasi Kalbar
Beranda Berita Surat itu Baru Kutemukan 50 Tahun Kemudian

Surat itu Baru Kutemukan 50 Tahun Kemudian

Setiap kali bau tanah basah tersiram hujan sore menyengat indra penciumannya, ingatan Kakek Danu selalu melayang pada suatu masa yang sangat jauh. Masa ketika usianya baru genap dua puluh tahun, ketika suara letusan senapan masih sering menggema di balik bukit-bukit kapur Jawa Tengah. Kini, di usianya yang telah menginjak tujuh puluh lima tahun, rambutnya telah memutih sempurna dan guratan di wajahnya menjadi saksi bisu dari zaman yang sudah berganti.

Sore itu, udara kota kecil tempat tinggalnya terasa cukup dingin. Kakek Danu memutuskan untuk membersihkan kamar belakang yang sudah bertahun-tahun dijadikan tempat penyimpanan barang tua. Kamar itu dipenuhi tumpukan koran bekas yang menguning, lemari kayu tua yang termakan usia, serta beberapa kotak kayu berisi kenangan masa lalu. Anak dan cucunya sudah berkali-kali menyuruhnya untuk membuang barang-barang tak terpakai itu, tetapi Kakek Danu selalu menolak. Bagi veteran perang kemerdekaan sepertinya, setiap benda tua di ruangan itu menyimpan potongan nyawa yang tak ingin ia lupakan.

Dengan langkah pelan dan sedikit tertatih, Kakek Danu mendekati sebuah peti kayu berukir Jepara yang terletak di sudut ruangan. Peti itu dulu milik sahabat perjuangannya, seorang pemuda berani bernama Suryo. Ketika agresi militer berkecamuk pada akhir dekade 1940-an, Suryo adalah sosok yang selalu berada di samping Danu. Mereka bersama-sama menerjang hutan, berbagi sebutir singkong rebus saat kelaparan, dan saling menguatkan di tengah dentuman meriam pasukan Belanda yang ingin kembali menguasai republik yang baru seumur jagung.

Kakek Danu membuka tutup peti kayu yang berdecit nyaring. Debu tipis berterbangan disorot cahaya matahari sore yang masuk melalui celah jendela. Di dalam peti itu, terdapat seragam tentara rakyat yang sudah lusuh, sebuah peci hitam dengan pin merah putih yang memudar, serta sepasang sepatu boot kulit yang sudah mengeras. Namun, mata tua Kakek Danu tertuju pada sebuah kantong kain blacu kecil di dasar peti.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengambil kantong kain tersebut. Saat meraba bagian dalam kantong yang melapuk, jemarinya menyentuh lipatan kertas tebal. Ia memicingkan mata, berusaha melihat lebih jelas. Kertas itu terlipat rapi, terikat dengan seutas benang kasur yang sudah lapuk dan hampir putus. Warna kertasnya telah berubah menjadi cokelat tua dengan beberapa noda hitam bekas resapan air di masa lalu.

Kakek Danu membawa lipatan kertas itu mendekati jendela agar mendapat pencahayaan yang lebih terang. Perlahan, ia membuka tali benang dan membentangkan lembaran kertas tersebut. Begitu tulisan tangan berbintik tinta hitam terlihat, dadanya berdesir hebat. Tulisan tangan itu sangat ia kenali—gaya tulisan miring yang tegas milik Suryo.

Di bagian atas kertas, tertulis sebuah tanggal: 19 Desember 1948.

Air mata Kakek Danu menetes tanpa bisa ditahan. Tanggal itu adalah hari kelam sewaktu pasukan militer musuh melancarkan serangan mendadak ke Yogyakarta dan sekitarnya. Hari di mana ia dan kelompok gerilyanya terpisah dalam bentrokan berdarah di tepi Desa Karangrejo. Hari di mana Suryo gugur tertembak saat mencoba menahan laju musuh agar Danu dan beberapa warga desa bisa melarikan diri ke dalam hutan.

Ternyata, ada pesan yang sempat dituliskan Suryo beberapa jam sebelum pertempuran terakhir itu pecah. Sebuah pesan yang tersimpan rapat di dalam kantong blacu tua, tersembunyi selama lima puluh tahun tanpa pernah tersentuh satu orang pun.

Dengan napas yang tercekat, Kakek Danu mulai membaca baris demi baris tulisan tangan sahabat masa mudanya itu.

Untuk Sahabatku, Danu.

Jika engkau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak lagi berjalan di sampingmu menyusuri lumpur dan rimba. Malam ini dingin sekali, Danu. Suara tembakan meriam terdengar makin dekat dari arah kota. Kita semua tahu, besok pagi mungkin pertempuran yang paling berat akan tiba.

Aku sengaja menuliskan lembaran ini di bawah temaram lampu minyak, sewaktu engkau dan teman-teman sedang tertidur lelap karena kelelahan. Aku ingin menitipkan sesuatu yang sangat penting padamu, bukan tentang harta atau senjata, melainkan tentang janji perjuangan kita.

Danu, jangan pernah menyalahkan dirimu jika besok ada di antara kita yang harus gugur lebih dulu. Kita memilih jalan ini dengan sadar. Kita rela mengorbankan masa muda, merelakan mimpi untuk kuliah atau berkeluarga, demi satu hal: melihat negeri ini berdiri tegak tanpa ada lagi kaki penjajah yang memijaknya.

Jika aku gugur besok, aku ingin engkau berjanji padaku untuk terus bertahan hidup. Sampaikan pada ibuku di kampung bahwa anak tunggalnya tidak mati sia-sia. Sampaikan pula pada Mbak Pertiwi, gadis yang sering kuceritakan padamu, bahwa aku selalu menyimpan namanya hingga napas terakhir.

Tetapi yang terpenting, Danu, berjanjilah untuk menceritakan kisah perjuangan kita kepada generasi setelah kita. Jangan biarkan mereka lupa bahwa kemerdekaan ini dibayar mahal dengan darah, keringat, dan air mata orang-orang biasa seperti kita—para pemuda yang hanya berbekal keberanian dan tekad bulat.

Jaga Republik ini, Danu. Biarkan namaku hilang ditelan waktu, asal negeri ini tetap berdiri merdeka.

Dari sahabatmu, Suryo

Tangan Kakek Danu bergetar hebat saat menyelesaikan kalimat terakhir dari surat tersebut. Isaknya pecah di dalam kamar yang sepi itu. Kenangan lima puluh tahun lalu kembali berputar di dalam ingatannya bagaikan sebuah film tua. Ia teringat jelas wajah berdebu Suryo yang selalu tersenyum meski dalam keadaan paling genting sekalipun. Ia teringat bagaimana Suryo membagikan air minum terakhirnya sewaktu mereka bersembunyi dari kejaran patroli helikopter musuh.

Dulu, setelah pertempuran Karangrejo usai dan musuh akhirnya berhasil diusir dari tanah air, Danu berusaha mencari keberadaan keluarga Suryo. Namun, ibunya telah meninggal dunia sewaktu perang berkecamuk, sementara Mbak Pertiwi—gadis yang dicintai Suryo—telah pindah ke kota lain dan hilang kontak selama bertahun-tahun. Selama puluhan tahun, Danu menyimpan rasa bersalah karena merasa gagal menyelamatkan sahabat karibnya itu di medan laga.

Namun sore ini, setelah lima dekade berlalu, surat yang baru ditemukannya itu seolah membawa kedamaian yang luar biasa bagi jiwanya yang telah lelah. Pesan tertulis dari masa lalu itu adalah sebuah pengingat yang tulus bahwasanya pengorbanan masa muda mereka bukanlah sebuah kemalangan, melainkan sebuah kehormatan luhur demi tanah air.

Kakek Danu menyapu air matanya dengan ujung lengan kemejanya. Ia melipat kembali surat berharga itu dengan penuh kehati-hatian, seolah sedang memegang benda paling rapuh di dunia. Ia berjalan keluar kamar menuju ruang tamu tempat cucu perempuannya, Laras, sedang duduk mengerjakan tugas kuliah di meja makan.

Laras, yang melihat kakeknya berjalan keluar dengan mata sembap dan memegang selembar kertas cokelat tua, langsung menghentikan ketikan jemarinya di atas papan tik komputer jinjingnya.

“Kakek kenapa? Kok menangis?” tanya Laras penuh kekhawatiran seraya bangkit berdiri mendatangi sang kakek.

Kakek Danu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat hangat dan lega. Ia mengajak cucunya duduk di sofa kayu ruang tamu.

“Laras,” suara Kakek Danu terdengar agak serak namun mantap. “Kakek baru saja menemukan pesan dari seorang pahlawan sejati. Seorang sahabat yang memberiku alasan mengapa Kakek harus bertahan hidup hingga hari ini.”

Kakek Danu meletakkan surat tua itu di atas meja, lalu mulai menceritakan kisah Pertempuran Karangrejo tahun 1948. Ia bercerita tentang keberanian Suryo, tentang dinginnya malam di dalam hutan persembunyian, tentang pengorbanan ribuan pemuda yang namanya tak pernah tercatat dalam buku-buku pelajaran sejarah sekolah.

Laras mendengarkan setiap detail cerita itu dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia melihat kakeknya bercerita bukan sekadar sebagai seorang veteran perang yang bernostalgia, melainkan sebagai seorang saksi sejarah yang sedang menjalankan amanat suci dari sahabatnya.

Matahari sore perlahan tenggelam di batas ufuk barat, memancarkan sinar jingga kemerahan yang menembus jendela ruang tamu. Surat tua yang ditulis lima puluh tahun lalu itu kini tidak lagi tersembunyi di dalam kegelapan peti kayu. Pesan itu telah sampai pada tujuannya, menyeberangi lorong waktu untuk terus membakar semangat keberanian dan rasa cinta tanah air pada generasi yang baru.

Kakek Danu menyandarkan punggungnya di sofa, menatap langit-langit rumahnya dengan perasaan yang penuh kedamaian. Di dalam hatinya, ia berbisik pelan, “Janjiku sudah kupenuhi, Suryo. Cerita kita tidak akan pernah padam.”(Jihan Syaswina Aprilia)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
mancingjitu