Inspirasi Kalbar
Beranda Berita Dunia di Luar, Musik di Telinga: Mengapa Earphone Selalu Menemani?

Dunia di Luar, Musik di Telinga: Mengapa Earphone Selalu Menemani?

(Sumber foto : Andrea Piacquadio from Pexels

InspirasiKalbar,Lifestyle–Ada orang yang rasanya tidak pernah berangkat tanpa earphone. Begitu keluar rumah, benda kecil itu sudah tersimpan di telinga atau setidaknya siap di dalam saku. Naik transportasi umum, musik menyala. Jalan kaki, musik menyala. Mengerjakan tugas, musik menyala. Bahkan ketika sedang duduk sendirian di sebuah tempat, earphone masih menjadi teman yang sulit dilepaskan.Bagi sebagian orang, musik memang sekadar hiburan. Namun, bagi banyak pengguna earphone, keberadaannya sudah terasa seperti bagian dari rutinitas.

Dunia di sekitar tetap ramai, tetapi suara yang masuk ke telinga bisa dipilih sendiri. Suara kendaraan perlahan tenggelam di balik lagu. Percakapan orang lain menjadi samar. Perjalanan yang panjang terasa lebih singkat karena ditemani playlist kesukaan. Ada semacam ruang pribadi yang tercipta ketika earphone terpasang.

Menariknya, kebiasaan ini tidak selalu berhubungan dengan keinginan mendengarkan musik. Earphone juga digunakan untuk mendengarkan podcast, menonton video, mengikuti rapat daring, menerima telepon, hingga sekadar menciptakan suara latar ketika seseorang sedang bekerja atau belajar. Lalu, mengapa benda kecil ini begitu sulit ditinggalkan?

Bukan Sekadar Mendengarkan Musik

Coba perhatikan orang-orang di transportasi umum. Sebagian sibuk melihat ponsel, sebagian tidur, sementara yang lain duduk dengan earphone terpasang. Mereka mungkin berada di ruangan yang sama dengan puluhan orang, tetapi masing-masing seperti memiliki dunianya sendiri. Earphone memberikan pilihan untuk menentukan suara apa yang ingin kita dengar.

Berbagai riset publikasi ilmiah mencatat bahwa penggunaan perangkat audio pribadi pada anak muda memang amat umum di ruang publik. Studi yang melibatkan para mahasiswa menunjukkan bahwa mayoritas responden terbiasa mendengarkan musik lewat earphone selama satu hingga tiga jam setiap harinya. Kebiasaan tersebut kemudian berkembang seiring berubahnya cara orang mengonsumsi hiburan.

Dulu, mendengarkan musik mungkin identik dengan radio, televisi, atau pemutar musik. Sekarang, sebuah ponsel sudah cukup untuk membawa ribuan lagu dan berbagai jenis konten audio ke mana saja. Earphone akhirnya menjadi penghubung antara perangkat tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Tidak perlu menunggu sampai berada di rumah. Musik bisa ikut berjalan ke mana pun kita pergi.

Ada Rasa Nyaman Ketika Suara Dunia Diperkecil

Bagi sebagian pengguna, earphone juga memberikan rasa nyaman. Dinda (23), salah seorang pengguna earphone dalam wawancara, mengatakan dirinya hampir selalu membawa earphone ketika bepergian.“Kalau naik kendaraan atau lagi jalan sendiri, saya lebih nyaman pakai earphone. Rasanya perjalanan jadi nggak terlalu berisik,” katanya.

Dinda bukan selalu ingin mendengarkan musik. Kadang ia hanya ingin memiliki sedikit ruang untuk dirinya sendiri. “Kadang bukan karena lagunya juga. Saya cuma pengin agak ‘ngilang’ dari suasana sekitar. Kalau lagi capek, pakai earphone rasanya kayak punya waktu sendiri walaupun sebenarnya lagi di tempat ramai,” ujarnya. Pengalaman seperti itu cukup mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Earphone tidak benar-benar menghilangkan dunia luar, tetapi dapat membuat perhatian kita beralih. Ketika musik memenuhi telinga, suara-suara lain menjadi latar belakang. Secara psikologis, musik juga dapat menjadi bagian dari cara seseorang mengatur suasana hati. Musik yang tenang bisa menemani ketika sedang ingin santai, sementara lagu dengan tempo cepat sering dipilih ketika ingin meningkatkan semangat.

Sosiolog Tia DeNora dalam risetnya mengenai perilaku musik menjelaskan bahwa musik dimanfaatkan orang dalam kehidupan harian untuk mengolah suasana hati, aktivitas, serta pengalaman diri. Musik tidak lagi dipandang sebatas hiburan, melainkan instrumen aktif yang membentuk pengalaman harian seseorang. Itulah sebabnya playlist tertentu kadang terasa seperti memiliki fungsi lebih dari sekadar hiburan. Ada lagu untuk perjalanan. Ada lagu untuk bekerja. Ada lagu untuk olahraga. Ada juga lagu yang sengaja diputar ketika seseorang sedang ingin sendirian.

Teman Saat Perjalanan Panjang

Di kota besar, perjalanan bisa memakan waktu cukup lama. Naik bus, kereta, ojek daring, atau berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain bisa menjadi bagian dari rutinitas setiap hari. Dalam situasi tersebut, earphone membuat waktu perjalanan terasa lebih mudah dilewati. Seorang pekerja kantoran, Fajar (27), dalam wawancara, mengaku hampir selalu menggunakan earphone ketika berangkat dan pulang kerja. “Kalau perjalanan dari rumah ke kantor lumayan lama. Daripada bengong, biasanya saya dengar musik atau podcast,” ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan tersebut juga membuat perjalanan terasa memiliki batas yang jelas. “Kalau sudah pakai earphone, rasanya kayak, oke, sekarang waktunya perjalanan. Kadang pas lagu atau podcast selesai, tahu-tahu sudah hampir sampai,” katanya. Ada sesuatu yang sederhana dari kebiasaan itu. Earphone mengubah perjalanan dari sekadar perpindahan tempat menjadi waktu untuk menikmati sesuatu.

Bagi orang yang menghabiskan banyak waktu di jalan, beberapa lagu bisa menjadi teman yang lebih menyenangkan daripada hanya melihat pemandangan yang sama setiap hari. Namun, penggunaan earphone di perjalanan juga membutuhkan perhatian. Mendengarkan audio terlalu keras dapat membuat pengguna tidak menyadari suara di sekitarnya. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut bukan hanya berkaitan dengan kesehatan pendengaran, tetapi juga keselamatan, terutama ketika seseorang berjalan di dekat jalan raya atau berada di lingkungan yang membutuhkan kewaspadaan terhadap suara sekitar. Karena itu, memiliki earphone bukan berarti harus selalu menggunakannya dalam semua keadaan.

Ketika Earphone Menjadi “Tanda Jangan Diganggu”

Ada fungsi lain yang mungkin tidak pernah tertulis di kotak kemasan earphone, tetapi sering dipahami secara sosial. Earphone bisa menjadi semacam tanda bahwa seseorang sedang ingin fokus atau tidak ingin banyak diajak berbicara. Ketika seseorang duduk dengan kedua telinga tertutup earphone, orang lain biasanya akan berpikir dua kali sebelum mengajaknya berbicara. Bagi sebagian orang, ini terasa membantu.

Di tempat kerja atau kampus yang ramai, earphone dapat menciptakan batas kecil antara diri sendiri dengan lingkungan. Fajar mengaku pernah menggunakan earphone meskipun tidak sedang mendengarkan apa pun. “Kadang memang saya lagi nggak dengerin musik. Cuma dipakai saja supaya bisa fokus dan nggak terlalu sering diajak ngobrol,” katanya sambil tertawa. Hal seperti ini menunjukkan bahwa fungsi earphone sudah berkembang menjadi bagian dari bahasa tubuh.

Benda tersebut tidak hanya menghasilkan suara, tetapi juga bisa menyampaikan pesan tanpa harus diucapkan:

  • “Aku sedang fokus.”
  • “Aku sedang ingin sendiri.”
  • “Sebentar, jangan ajak ngobrol dulu.”

Tentu tidak semua orang memahami tanda tersebut dengan cara yang sama. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, earphone sering kali menjadi batas pribadi yang cukup mudah dikenali.

Ada Risiko yang Sering Tidak Terasa

Di balik kenyamanan tersebut, penggunaan earphone juga memiliki satu persoalan yang tidak boleh diabaikan: volume dan durasi mendengarkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari satu miliar anak muda berusia 12–35 tahun berada dalam risiko gangguan pendengaran. Bahaya ini timbul akibat paparan suara keras dalam kegiatan rekreasi, baik dari perangkat audio pribadi, konser, maupun arena hiburan lainnya. Risikonya bukan hanya ditentukan oleh seberapa keras suara yang didengar. Durasi dan seberapa sering seseorang terpapar suara keras juga ikut berpengaruh.

Data WHO menunjukkan bahwa paparan suara pada tingkat rata-rata 80 desibel masih berada dalam batas aman hingga 40 jam per minggu. Namun, manakala tingkat suaranya naik menjadi 90 desibel, durasi aman tersebut merosot drastis menjadi hanya sekitar empat jam sepekan. Angka tersebut menunjukkan bahwa volume dan waktu saling berkaitan erat. Mendengarkan musik dengan volume tinggi selama beberapa menit tentu berbeda dampaknya dengan mendengarkannya berjam-jam setiap hari.

Masalahnya, kita sering tidak menyadari seberapa keras suara yang masuk ke telinga. Terlebih ketika berada di tempat ramai. Saat naik kereta atau berjalan di jalan yang bising, seseorang cenderung menaikkan volume agar musik tetap terdengar jelas. Sejumlah penelitian pada kelompok dewasa muda mengonfirmasi bahwa tingkat kebisingan latar menjadi pemicu utama pengguna memilih volume audio yang jauh lebih tinggi. Guna menekan risiko tersebut, WHO menyarankan pengguna untuk menjaga volume perangkat di bawah 60 persen dari batas maksimum. Penggunaan earphone atau headphone yang pas termasuk perangkat berfitur peredam bising (noise-canceling) sangat dianjurkan agar pengguna tidak perlu menaikkan volume di lingkungan yang ramai.

Bukan Berarti Harus Berhenti Memakai Earphone

Membaca soal risiko pendengaran bukan berarti kita harus langsung memasukkan earphone ke dalam laci dan tidak menggunakannya lagi. Earphone bukan sesuatu yang berbahaya dengan sendirinya. Yang perlu diperhatikan adalah cara penggunaannya. Seperti banyak hal lain dalam kehidupan sehari-hari, masalahnya bisa muncul ketika sesuatu digunakan secara berlebihan.

Mendengarkan lagu kesukaan saat perjalanan bisa menjadi cara sederhana untuk membuat hari terasa lebih menyenangkan. Mendengarkan podcast sambil berjalan juga dapat menjadi kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru. Bahkan musik bisa membantu seseorang mendapatkan suasana yang tepat ketika sedang mengerjakan pekerjaan tertentu. Yang penting adalah tetap memberi kesempatan kepada telinga untuk beristirahat.

Lembaga kesehatan dunia tersebut merekomendasikan pengguna untuk membatasi durasi paparan suara keras, rutin mengambil jeda istirahat, menjaga volume tetap rendah, serta peka terhadap tanda-tanda awal gangguan seperti telinga berdenging atau kesulitan menangkap percakapan. Jika telinga mulai terasa tidak nyaman setelah terlalu lama menggunakan earphone, mungkin itu saat yang tepat untuk berhenti sebentar. Tidak perlu menunggu sampai gangguan pendengaran terasa serius.

Dunia yang Tidak Harus Selalu Kita Dengarkan

Ada alasan mengapa earphone terasa begitu dekat dengan kehidupan modern. Ia praktis, kecil, mudah dibawa, dan terhubung langsung dengan ponsel yang hampir selalu berada di tangan kita. Lebih dari itu, earphone memberi kita kendali terhadap suara yang ingin menemani aktivitas sehari-hari. Kita bisa memilih lagu ketika sedang senang. Memilih podcast ketika ingin belajar. Memilih suara hujan ketika ingin tidur. Atau memilih tidak mendengarkan apa pun dan hanya memakai earphone sebagai batas kecil dari keramaian. Namun, ada satu hal yang kadang terlupakan ketika terlalu nyaman dengan dunia di dalam telinga: dunia di luar tetap berjalan.

Ada suara kendaraan yang perlu diperhatikan ketika menyeberang jalan. Ada orang yang mungkin sedang berbicara kepada kita. Ada suara hujan yang sebenarnya cukup indah untuk didengarkan tanpa musik. Ada pula percakapan sederhana dengan orang di sebelah yang mungkin tidak akan terulang lagi. Earphone seharusnya menjadi teman, bukan pengganti dunia. Pada akhirnya, mungkin bukan soal apakah kita bisa hidup tanpa earphone. Bagi sebagian orang, benda itu sudah menjadi bagian dari rutinitas yang sulit dipisahkan.

Yang lebih penting adalah mengetahui kapan musik perlu menemani dan kapan telinga perlu diberi kesempatan untuk mendengar sekitar. Sebab kehidupan tidak hanya terdiri dari lagu-lagu yang kita pilih sendiri. Ada suara kota yang tidak selalu menyenangkan, tetapi tetap menjadi bagian dari perjalanan. Ada suara teman yang memanggil nama kita. Ada suara kendaraan, langkah kaki, hujan, tawa, dan percakapan yang berlangsung tanpa playlist. Sesekali, mungkin tidak ada salahnya melepas earphone dan membiarkan semua suara itu masuk. Bukan karena musik sudah tidak penting, tetapi karena dunia di luar juga punya ceritanya sendiri.

Dan setelah cukup lama berada di dalam dunia yang kita pilih melalui dua buah earphone kecil, mungkin kita memang perlu kembali mendengar dunia yang selama ini ada di sekitar kita. (Jihan Syaswina Aprilia)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
mancingjitu