Inspirasi Kalbar
Beranda Berita Asa Menggantung di Tanah Rantau

Asa Menggantung di Tanah Rantau

InspirasiKalbar,Cerpen–Setiap malam, suara bising klakson dan deru mesin kendaraan di jalanan ibu kota menyusup lewat celah jendela kaca yang retak. Kirana menatap langit-langit kamar kosnya yang berukuran dua kali tiga meter. Sisi kamarnya terdapat cat tembok yang mengelupas, meninggalkan bercak lengket bekas kelembapan. Aroma tempe orek buatan ibu yang disimpan di dalam stoples plastik menjadi satu-satunya penghibur. Kirana mengambil selimut tipis, membungkus tubuhnya yang lelah setelah seharian berjalan kaki menyusuri lorong-lorong pertokoan untuk memasukkan surat lamaran kerja.

Ponsel jadul di samping bantalnya bergetar. Sebuah nama muncul di layar retak itu: “Ibu”. Kirana buru-buru mengusap matanya, menata suaranya agar tak terdengar serak atau lelah.

“Halo, Assalamu’alaikum, Bu,” sapa Kirana lembut.

“Wa’alaikumsalam, Nduk. Gimana kabarmu di sana? Sudah makan malam?” suara ibunya terdengar samar, diselingi suara jangkrik dari kampung.

“Sudah, Bu. Ini tadi makan pakai abon sama tempe orek bekal dari Ibu. Masih enak banget,” jawab Kirana tersenyum, walau kenyataannya malam ini ia hanya makan separuh porsi nasi tiwul agar hemat. “Ibu sama Adik-adik gimana? Sehat?”

“Alhamdulillah, sehat Nduk. Tadi Si Imas sama Bayu jualan bakwan lagi di sekolah. Laris manis, pulangnya bawa uang lima belas ribu. Langsung dibelikan beras sama mereka.”

Dada Kirana berdesir pedih. Ada rasa bangga sekaligus sesak yang menghimpit paru-parunya. “Loh, kan Ran sudah bilang, Bu. Harusnya Adik-adik fokus belajar aja, enggak usah jualan. Nanti biar Kirana yang kirim uang kalau sudah dapat kerjaan.”

“Hush, enggak apa-apa. Wong adiknya sendiri yang mau kok. Katanya kasihan lihat Ibu kalau malam-malam masih ngulek bumbu dan cuci piring di rumah Bu Lurah. Lagian mereka enggak gengsi, Nduk. Yang penting halal.” Ibu terkekeh pelan, meski Kirana tahu betul ada tangis yang ditahan di ujung tawa itu.

“Iya, Bu… Tapi tetep aja Kirana ngerasa gagal jadi kakak tertua.”

“Jangan ngomong gitu! Kamu ke Jakarta itu udah hebat dan kami bangga padamu. Bapakmu kalau masih ada pasti bangga banget sama kamu.”

Nama Bapak disebut. Suasana mendadak hening untuk beberapa detik. Kirana menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mendadak menetes ke pipinya.

“Bu…” panggil Kirana pelan.

“Iya, Nduk?”

“Kirana kangen Bapak.”

“Ibu juga, Ran. Sering banget Ibu mimpiin Bapakmu. Di mimpi itu, Bapakmu cuma senyum sambil nunjuk sarjana yang ada di foto wisuda tetangga sebelah. Bapakmu tuh masih ngarep banget kamu bisa pakai toga, terus jadi pegawai negeri kayak yang sering kalian omongin di teras rumah.”

“Tapi uang dari mana, Bu? Uang sangu dari kampung aja cuma sisa dua ratus ribu. Buat makan minggu depan aja Ran harus putar otak, apalagi buat daftar kuliah.”

“Yo diusahakan pelan-pelan. Gusti Allah mboten sare, Nduk. Yang penting kamu jaga diri baik-baik di perantauan. Jangan telat makan, jangan tinggalkan sholat.”

“Iya, Bu. Yaudah, Ibu istirahat gih. Ini udah malem.”

“Iya, Ran. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam…”

Panggilan terputus. Kirana memeluk lututnya di pojokan kasur kapuk yang tipis. Di matanya, terbayang kembali wajah almarhum bapaknya sebulan lalu. Wajah yang makin tirus, napas yang tersengal-sengal, namun matanya selalu berbinar tiap kali memandangnya.

“Ran, besok kalau Bapak udah enggak ada, kamu jangan putus sekolah ya… Bapak mau lihat anak perempuannya Pak Sastro jadi orang sukses, pakai seragam cokelat ASN, berdiri tegap…” Suara Bapak seolah masih bergema di dalam kamar sempit ini.

Keesokan harinya, matahari Jakarta membakar kulit tanpa ampun. Kirana berdiri di depan sebuah kantor distributor bahan bangunan di daerah Jakarta Barat. Kemeja putihnya yang sudah agak menguning diremas pelan. Ini adalah lamaran kelima belas yang ia antar langsung dalam seminggu terakhir.

“Atas nama Kirana Putri?” panggil seorang pria paruh baya berkacamata tebal dari pintu ruangan HRD.

“Saya, Pak!” Kirana refleks berdiri tegap, merapikan rok hitamnya.

“Sini, masuk.”

Kirana melangkah ragu ke dalam ruangan ber-AC itu. Pria bernama Pak Hendra itu membaca lembar CV sederhana milik Kirana dengan kacamata yang diturunkan ke ujung hidung.

“Lulusan SMA Negeri 1 Kampung Durian… Nilai rata-rata lumayan, 88. Tapi kamu belum ada pengalaman kerja sama sekali ya di Jakarta?” tanya Pak Hendra tanpa menatap Kirana.

“Belum, Pak. Tapi saya cepat belajar, Pak. Saya bisa mengoperasikan komputer, Microsoft Office, dan saya juga terbiasa kerja keras di kampung,” jawab Kirana tegas, mencoba menunjukkan keyakinan meski jantungnya berdegup kencang.

Pak Hendra menyandarkan punggungnya di kursi putar. Tangannya menimang-nimang amplop cokelat milik Kirana. “Jujur ya, Kirana. Kami carinya yang sudah pengalaman minimal dua tahun di bidang administrasi. Tapi saya lihat di berkasmu, kamu butuh banget kerjaan ini?”

“Sangat butuh, Pak. Saya anak pertama dari empat bersaudara. Ayah saya baru meninggal bulan lalu, dan ibu saya cuma buruh cuci. Saya harus biayai adik-adik buat sekolah, dan kalau ada rejeki lebih, saya mau menyisihkan untuk biaya kuliah saya sendiri.”

Pak Hendra menghentikan gerakan tangannya. Matanya menatap Kirana penuh selidik, lalu mendesah pelan. “Gaji di sini buat staf administrasi magang cuma dua juta setengah per bulan. Jam kerja dari jam delapan pagi sampai jam enam sore, Sabtu masuk setengah hari. Kamu mau?”

Mata Kirana membelalak. Dua juta setengah! Bagi Kirana, angka itu adalah gunung emas yang bisa menyelamatkan keluarganya di kampung. “Mau, Pak! Saya mau banget! Kapan saya bisa mulai kerja?”

“Senin depan. Kamu datang jam delapan kurang seperempat. Pakaian putih hitam seperti ini. Tapi kalau bisa kamu beli kemeja baru, karena kemeja yang kamu kenakan sekarang terlihat kumal.”

“Terima kasih banyak, Pak! Terima kasih!” Kirana membungkuk berulang kali, menyalami tangan Pak Hendra dengan rasa syukur yang luar biasa.

Malam harinya, Kirana merayakan keberhasilannya dengan membeli es teh manis di warung sebelah kosan. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan sensasi manis dingin yang menyegarkan tenggorokan. Ia duduk di kursi kayu depan warung bersama Mbak Maya, tetangga kosnya yang bekerja sebagai SPG pakaian di mal.

“Ciee, yang mukanya cerah banget malam ini. Ada angin apa nih, Ran?” tegur Mbak Maya sambil menyulut rokoknya.

Kirana tertawa kecil. “Alhamdulillah, Mbak. Tadi siang dapet kabar bagus. Hari Senin aku udah mulai kerja di kantor distributor.”

“Wah, seriusan? Selamat ya! Berapa gajinya?”

“Dua juta setengah, Mbak. Buat awal-awal segini udah bersyukur banget.”

Mbak Maya membuang asap rokoknya ke udara, lalu menatap Kirana dengan pandangan iba sekaligus simpati. “Dua setengah juta di Jakarta? Lu mau makan apa, Ran? Sewa kamar kos aja udah tujuh ratus ribu per bulan. Belum makan, air, listrik, ongkos. Sisa berapa buat dikirim ke kampung?”

“Diirit-irit, Mbak. Aku niatnya mau masak nasi sendiri di kosan. Buat lauk gampanglah, telur sama tempe juga cukup. Yang penting bisa kirim sejuta lima ratus ke kampung buat adik-adik sama Ibu.”

“Terus mimpimu buat kuliah gimana? Katanya mau ambil S1 Hukum atau Administrasi Negara?”

Kirana terdiam sejenak. Ia menatap gelas es tehnya yang mulai berembun. “Mungkin ditunda dulu setahun dua tahun, Mbak. Yang penting adik-adik jangan sampai putus sekolah. Si Imas kan mau masuk SMA tahun depan, pasti butuh biaya seragam sama buku yang enggak sedikit.”

Mbak Maya mengacak-acak rambut Kirana gemas. “Lu tuh ya… Masih muda tapi pikirannya udah kayak ibu-ibu beranak tiga. Tapi gapapa, Ran. Kerja keras lu pasti ada hasilnya. Entar kalau lu udah sukses, jangan lupain gue ya! Minimal ajak ngopi di caffe gedonganlah.”

“Ah, Mbak Maya bisa aja. Kirana mah orang kecil, Mbak. Bisa makan tiga kali sehari sama ngirim uang ke kampung aja udah seneng banget.”

“Tapi inget, Ran. Kota ini keras. Jangan gampang percaya sama orang, apalagi cowok-cowok perkotaan yang omongannya manis dan kebanyakan dari mereka hanya mokondo. hehehe. Lu harus tahan banting.”

“Iya, Mbak. Makasih ya udah selalu ngingetin Kirana.”

Hari demi hari berganti. Tiga bulan telah berlalu sejak Kirana bekerja di kantor distributor. Kehidupannya berjalan dengan pola yang sangat ketat dan monoton. Bangun jam empat pagi, memasak nasi dan lauk sederhana, berangkat naik angkot jam enam pagi, bekerja hingga malam, lalu pulang ke kosan dalam kondisi lelah luar biasa. Suatu sore di akhir bulan, setelah menerima gaji ketiganya, Kirana mampir ke kantor pos di dekat Stasiun Palmerah. Di tangannya, ada selembar surat yang sudah ia tulis semalam, beserta uang tunai satu juta lima ratus ribu rupiah yang akan dikirimkan melalui wesel pos. Saat mengantre, ponselnya berdering. Nama “Imas”, adik nomor duanya, tertera di layar.

“Halo, Mas?”

“Mbak Ran! Mbak Ran lagi di mana?” suara Imas terdengar panik dan terengah-engah dari ujung telepon.

“Mbak lagi di kantor pos ini, mau ngirim uang. Kenapa, Mas? Kok suaramu panik gitu?” Kirana mendadak cemas.

“Mbak… Ibu, Mbak…”

“Ibu kenapa?!” suara Kirana meninggi, membuat beberapa orang di antrean kantor pos menoleh ke arahnya.

“Ibu tadi pingsan pas lagi nyuci baju di rumah Bu Lurah. Badannya panas banget, terus pas dibawa ke puskesmas, katanya Ibu kena gejala tipes sama asam lambungnya naik, Mbak!”

“Astagfirullahaladzim… Terus sekarang Ibu di mana?”

“Masih di puskesmas, Mbak. Tapi kata petugasnya, kalau sampai besok kondisinya belum membaik, harus dirujuk ke Rumah Sakit di kampung sebelah yang lebih komplit peralatannya. Tapi… tapi uang simpanan kita udah habis, Mbak. Tadi buat bayar obat awal aja pakai uang jualan bakwan kemarin. Terus buat beli lauk adik makan nanti malampun tidak ada.”

Air mata Kirana menetes seketika. Tangannya gemetaran memegang ponsel. “Mas, dengerin Mbak ya. Jangan panik. Mbak hari ini baru gajian. Ini Mbak mau langsung transfer uang satu juta lima ratus ribu ke rekening Bu Lurah. Nanti kamu minta tolong Bu Lurah buat ambilkan ya.”

“Iya, Mbak… Tapi Mbak Ran sendiri gimana? Mbak Ran masih ada uang buat makan di sana?”

Kirana mengusap air matanya cepat-cepat, menahan tangis agar adiknya tidak tambah cemas. “Mbak masih ada simpanan kok, Mas. Tenang aja. Uang di kantong masih banyak. Yang penting Ibu ditangani dulu. Kamu jaga Ibu sama Adik-adik ya. Bilang sama Ibu, enggak usah mikirin biaya. Ada Mbak di sini.”

“Makasih ya, Mbak Ran… Maaf Imas selalu nyusahin Mbak. Ntar kalau Imas sudah lulus dan bekerja, Imas bakal buat Mbak Ran selalu tersenyum dan hidup berkecukupan.”

“Aamiin. Kamu enggak nyusahin. Kamu anak pinter. Udah ya, Mbak mau urus transferannya dulu.”

Setelah mematikan telepon, Kirana melihat isi dompetnya. Dari gaji dua juta setengah, setelah dipotong sewa kosan tujuh ratus ribu, ditransfer satu juta lima ratus ribu ke kampung, dan tiga ratus ribu buat bayar hutang ke Mbak Maya, uang di dompetnya kini benar-benar “nol rupiah”. Bahkan ia tidak punya sisa uang logam untuk ongkos angkot pulang ke kosan malam ini. Kirana berjalan keluar dari kantor pos dengan langkah gontai. Hujan deras tiba-tiba mengguyur Jakarta, seolah menyamarkan air mata yang mengalir deras di pipinya. Ia berteduh di bawah halte bus yang sepi, memeluk tas lusuhnya erat-erat.

Ia merogoh kantong tas, menemukan selembar kertas formulir pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi negeri secara online yang sempat ia cetak bulan lalu. Kertas itu kini basah terkena cipratan air hujan. Kirana menatap kertas itu dengan pandangan kabur. Mimpinya untuk kuliah, dan memakai toga, yang sesuai harapan almarhum bapaknya terasa semakin jauh, terhalang oleh dinding kenyataan yang teramat kokoh. Kertas yang ia jaga baik-baik kini di gantungkan di langit Jakarta, seolah tak pernah sampai ke tujuan.

Seorang bapak tua penjual koran berteduh di sampingnya, melihat Kirana yang menangis sesenggukan.

“”Neng, kenapa? Kehujanan ya?” tanya bapak itu ramah.

Kirana menggeleng pelan, mencoba tersenyum di balik usapan air matanya. “Enggak apa-apa, Pak. Cuma… lagi kangen rumah.”

“Oalah… Anak rantau ya?” Bapak itu mengangguk-angguk paham. “Sabar ya, Neng. Orang perantauan itu memang temannya cuma doa sama kerja keras. Tapi percaya deh, Gusti Allah itu enggak pernah salah alamat kalau ngirim rejeki. Yang penting jangan menyerah.”

Kirana menatap bapak penjual koran itu, lalu mengangguk pelan. Ia melipat kertas pendaftaran yang basah itu rapi-rapi, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas. Malam ini, ia mungkin harus berjalan kaki sejauh lima kilometer menembus hujan untuk sampai ke kamar kosnya. Mimpinya mungkin harus tertahan lagi di kota orang. Tapi selama adik-adiknya bisa tersenyum dan ibunya bisa sembuh, itu sudah cukup membuat hatinya lega. Kirana tahu bahwa perjuangannya belum selesai. Ia akan terus berjalan, melangkah satu demi satu, hingga  cita-citanya benar-benar terbalas oleh takdir.(Siti Nurhayati)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
mancingjitu