Isap Buyu dan Cara Masyarakat Memahami Masalah Kesehatan

Inspirasi Kalbar, Kesehatan – Masalah gizi pada balita tidak selalu berkaitan dengan apa yang ada di dalam piring. Cara keluarga memahami kondisi kesehatan anak, kebiasaan dalam merawat anak, hingga kepercayaan yang berkembang di masyarakat juga dapat memengaruhi bagaimana sebuah masalah kesehatan dikenali dan ditangani.
Hal tersebut menjadi menarik ketika melihat fenomena Isap Buyu yang dikenal dalam sebagian masyarakat Kalimantan Selatan. Isap Buyu merupakan kepercayaan mengenai kondisi tertentu pada anak yang dipercaya berkaitan dengan gangguan makhluk halus. Dalam praktiknya, kondisi tersebut dapat mendorong keluarga memilih penanganan melalui ritual atau cara tradisional.
Fenomena ini kembali menjadi perhatian melalui penelitian yang diterbitkan pada Januari 2026 dalam Jurnal Gizi dan Kesehatan. Penelitian tersebut secara khusus mengkaji pengaruh budaya Isap Buyu dalam kepercayaan masyarakat Kalimantan Selatan terhadap risiko terjadinya gizi buruk pada balita.
Penelitian itu menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara semi-terstruktur terhadap empat informan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menggambarkan adanya kepercayaan terhadap Isap Buyu sebagai salah satu cara masyarakat menjelaskan kondisi anak yang dianggap mengalami gangguan tertentu, termasuk ketika anak sulit mengalami kenaikan berat badan.
Dalam konteks kesehatan modern, kondisi anak yang berat badannya sulit bertambah tentu perlu dilihat dari berbagai kemungkinan penyebab. Masalah gizi dapat berkaitan dengan asupan makanan, penyakit atau infeksi, pola pemberian makan, kondisi lingkungan, maupun faktor sosial dan ekonomi. Karena itu, mengenali tanda-tanda gangguan pertumbuhan dan mendapatkan pemeriksaan tenaga kesehatan tetap penting.
Persoalan gizi pada anak sendiri masih menjadi perhatian di Indonesia. Data WHO dan UNICEF menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada anak merupakan persoalan global yang mencakup stunting, wasting, dan berbagai bentuk malnutrisi lainnya. Pada 2024, diperkirakan 150,2 juta anak balita di dunia mengalami stunting, sementara 42,8 juta mengalami wasting.
Di Indonesia, pemberian ASI juga menjadi salah satu bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi bayi. WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping ASI yang aman dan bergizi.
Data terbaru yang dipublikasikan WHO pada 2025 menunjukkan bahwa cakupan ASI eksklusif pada bayi di bawah enam bulan di Indonesia meningkat dari 52 persen pada 2017 menjadi 66,4 persen pada 2024. Meski mengalami peningkatan, masih ada bayi yang belum mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan penuh.
Temuan mengenai Isap Buyu menjadi menarik bukan karena tradisi tersebut dapat langsung disebut sebagai penyebab gizi buruk. Penelitian yang ada belum cukup untuk membuat kesimpulan sebab-akibat. Dengan jumlah informan yang hanya empat orang, penelitian tersebut lebih tepat dipahami sebagai gambaran mengenai bagaimana sebuah kepercayaan dapat memengaruhi cara masyarakat memahami kondisi kesehatan anak.
Hal ini penting karena cara seseorang memahami suatu penyakit dapat memengaruhi keputusan yang diambil ketika anak mengalami masalah kesehatan. Jika kondisi anak dipercaya sebagai akibat dari sesuatu yang bersifat nonmedis, keluarga mungkin terlebih dahulu memilih penanganan berdasarkan kepercayaan yang mereka miliki.
Bukan berarti keberadaan budaya dan pengobatan tradisional harus selalu dipertentangkan dengan layanan kesehatan. Kepercayaan lokal merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan perlu dipahami dalam konteks sosial dan budaya. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan kesehatan dapat berjalan berdampingan dengan budaya tanpa membuat anak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis ketika memang diperlukan.
Penelitian lain yang terbit pada Mei 2026 juga memberikan gambaran mengenai faktor yang berkaitan dengan gizi buruk balita di Kalimantan Selatan. Penelitian tersebut menganalisis data dari 13 kabupaten dan kota menggunakan data Profil Kesehatan Kalimantan Selatan tahun 2023. Dari sejumlah variabel yang dianalisis, persentase pemberian ASI eksklusif menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian gizi buruk dalam model penelitian tersebut.
Temuan tersebut semakin menunjukkan bahwa persoalan gizi anak tidak dapat dilihat hanya dari satu faktor. Kondisi balita merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berhubungan, sehingga penanganannya juga membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.
Pada akhirnya, membicarakan Isap Buyu bukan berarti mencari siapa yang benar atau salah antara kepercayaan tradisional dan ilmu kesehatan. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana kepercayaan tersebut hidup di tengah masyarakat dan bagaimana pendekatan kesehatan dapat dilakukan dengan tetap menghormati budaya lokal.
Ketika seorang anak mengalami berat badan yang tidak kunjung bertambah, tubuh yang semakin kurus, atau tanda gangguan pertumbuhan lainnya, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap menjadi langkah penting. Semakin cepat masalah gizi dikenali, semakin besar pula kesempatan untuk menentukan penyebab dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Isap Buyu menjadi contoh bahwa persoalan kesehatan masyarakat terkadang tidak hanya berada di ruang klinik. Ia juga hidup dalam kepercayaan, kebiasaan, dan cara masyarakat memahami tubuh serta penyakit. Karena itu, upaya mengatasi masalah gizi pada anak membutuhkan bukan hanya makanan yang cukup dan layanan kesehatan yang tersedia, tetapi juga komunikasi yang mampu menjembatani pengetahuan medis dengan budaya masyarakat. (Rida Ulkibria)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini




