Nenek Berhenti Bernyanyi Setelah Lagu itu Hilang
InspirasiKalbar, Cerpen—Di teras samping rumah panggung beratap seng yang mulai berkarat di pinggiran Sambas, Kalimantan Barat, Nenek Kiah biasanya duduk di atas bangku kayu tua setiap kali sore tiba. Jemarinya yang keriput dan sedikit gemetar selalu telaten menganyam daun pandan kering untuk dijadikan tikar, sementara bibirnya tak pernah berhenti bergumam melantunkan bait-bait Cik Cik Periok. Lagu daerah Sambas itu mengalir begitu alami dari tenggorokannya yang serak, terdengar riang sekaligus sarat akan petuah tua yang telahsetia menemani perjalanan hidupnya selama lebih dari tujuhpuluh tahun.
Bagi Nenek Kiah, lagu itu bukan sekadar deretan nada untuk mengusir rasa sepi. Nyanyian itu adalah napas dari ingatan masa lalunya, bagian dari kebiasaan turun-temurun yang menyatu dengan bau tanah basah dan desir angin sore di tepisungai. Dulu, hampir semua perempuan tua di kampung mereka bernyanyi saat menganyam, menumbuk padi, atau menimang anak di ayunan kain. Suara mereka saling bersahut-sahutan dari jendela rumah panggung satu ke rumah panggung lainnya, menciptakan irama kehidupan yang hangat.
Namun, sejak beberapa bulan terakhir, teras samping rumah panggung itu berubah menjadi teramat sunyi. Nenek Kiah masih duduk di sana saban sore, merapikan helai demi helai daun pandan di pangkuannya, tetapi bibirnya terkatup rapat. Tidak ada lagi gumaman merdu yang terdengar. Ia benar-benar berhenti bernyanyi.
“Nek, kenapa tidak pernah dengar Nenek nyanyi Cik CikPeriok lagi?” tanya Aris, cucu laki-lakinya yang berusia lima belas tahun, sambil menggeser duduknya di anak tangga teras.
Aris baru saja pulang dari sekolah menengah pertama di pusat kecamatan. Tangannya masih memegang erat sebuah ponsel pintar berlayar sentuh yang sedang menampilkan cuplikan video musik populer berirama cepat dengan latar belakangtarian modern.
Nenek Kiah menoleh pelan, menatap cucu kesayangannya itu dengan binar mata yang redup dan melelahkan. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Aris. Pandangannya beralih menatap halaman rumah yang kering, tempat deretan sepeda motor milik sepupu-sepupu Aris terparkir tidak beraturan. Di bawah pohon rambutan, Rina dan Farhan merupakan dua adik sepupu Aris yang masih duduk di sekolah dasar sedang duduk berdampingan di atas bangku semen. Kedua anak itu sama sekali tidak saling bicara, mata dan jemari mereka terkunci sepenuhnya pada layar gawai masing-masing.
“Lagu itu sudah tidak ada lagi yang mau mendengar, Ris,” ucap Nenek Kiah dengan suara pelan yang nyaris tenggelam oleh deru mesin sepeda motor yang melintas di jalan depan rumah. “Buat apa Nenek menyanyikannya kalau cuma jadi angin lalu yang mengganggu kalian?”
“Kan cuma lagu lama, Nek,” balas Aris polos tanpa maksud menyakiti. “Lagi pula di internet banyak lagu baru yang jauh lebih keren dan ramai. Lagu Cik Cik Periok itu kan agak aneh liriknya. Bahasa Sambas-nya juga banyak yang Aris sama teman-teman di sekolah tidak paham artinya.”
Nenek Kiah tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang menyembunyikan rasa kehilangan yang amat dalam di relung hatinya. Ia meletakkan anyaman pandannya ke atas bangku, lalu mengelus kepala Aris dengan telapak tangannya yang kasar dan hangat.
“Itu bukan sekadar lagu main-main untuk lucu-lucuan, Ris,” ujar Nenek Kiah seraya menatap jauh ke arah barisan pohon kelapa di ujung kampung. “Dulu, orang-orang tua kita mengarang Cik Cik Periok sebagai sindiran halus untuk mengingatkan siapapun tentang pentingnya kejujuran, kerendahan hati, dan rasa malu jika berbuat curang. Dulu, waktu ibu kamu dan paman-pamanmu masih kecil, lagu itulah yang Nenek pakai untuk menimang mereka sampai tertidur pulas. Dari lagu itu juga kalian belajar bahasa Sambas yang halus, belajar bagaimana caranya menegur tetangga dengansopan tanpa membuat orang lain tersinggung.”
Nenek Kiah menghela napas panjang. Udara sore yang hangat terasa makin berat di dadanya.
“Sekarang, coba kamu lihat adik-adikmu,” lanjut Nenek Kiah seraya menunjuk Rina dan Farhan dengan dagunya. “Jangankan tahu makna lirik lagu itu, memakai bahasa daerah Sambas untuk bicara sehari-hari saja mereka sudah malu. Kalau ditegur orang tua, mereka lebih suka menjawab memakai bahasa gaul dari Jakarta yang mereka tonton di dalam kotak kecil itu. Bahasa kita perlahan mati di rumah kita sendiri, Ris.”
Aris terdiam seketika. Kata-kata Nenek Kiah tidak disampaikan dengan nada marah atau membentak, tetapi ada beban kesedihan yang amat tebal yang bisa dirasakan Arisdari setiap kata yang diucapkannya. Aris melirik ke arah Rina yang sedang tertawa sendirian menatap layar ponselnya. Ia mendadak teringat kejadian minggu lalu ketika seorang tetangga tua menyapa Rina dalam bahasa Sambas halus, dan Rina hanya menatap bingung tanpa bisa membalas sepatah kata pun selain tersenyum canggung.
Sore itu, Aris tidak langsung masuk ke dalam kamar untuk bermain gim daring bersama teman-temannya seperti biasa. Ia memilih duduk lebih lama di anak tangga teras, memperhatikan jemari Nenek Kiah yang makin lambat merangkai daun pandan. Ada rasa bersalah yang mendalam yang perlahan merambat dan meremas dadanya. Lagu daerahitu tidak benar-benar hilang karena musnah dihantam zaman, melainkan karena generasinya sendiri yang secara sadar memilih untuk berpaling dan melupakannya.
Malam harinya, ketika suasana rumah panggung sudah sunyi dan anggota keluarga lainnya telah masuk ke kamar masing-masing, Aris tetap terjaga di atas tempat tidurnya. Ia menyalakan lampu meja belajar, lalu mengambil ponsel pintarnya. Namun malam ini, Aris tidak membuka aplikasi permainan atau media sosial. Jemarinya mengetik kata kunci Cik Cik Periok lagu daerah Sambas dan maknanya di halaman pencarian.
Layar ponsel memancarkan cahaya kebiruan di wajah Aris. Ia membaca lembar demi lembar penjelasan mengenai sejarah lagu tersebut. Ia baru mengetahui bahwa lirik Cik cik periok bilanga belanga bebingkok mengandung perumpamaan tentang panci dan kuali tua yang melambangkan kehidupan bersahaja namun jujur, serta peringatan tentang kedatangan orang-orang asing yang membawa pengaruh tanpa menghormati adat setempat. Aris membaca ulang setiap bait dengan teliti, mengeja kata-kata bahasa Sambas tua yang selama ini dianggapnya asing dan kuno, padahal darah dari para pembuat lagu itu mengalir langsung di dalam tubuhnya sendiri.
Keesokan harinya, ketika matahari sore mulai membiaskan warna merah keemasan di atas atap seng rumah panggung, Nenek Kiah kembali berjalan pelan menuju teras samping. Seperti hari-hari sebelumnya, wanita tua itu memanggul bakul berisi daun pandan, lalu duduk membelakangi pintu sambil menatap kosong ke arah jalanan kampung yang makin berdebu.
Namun, sebelum Nenek Kiah sempat merapikan helai pandan pertamanya, langkah kaki tergesa-gesa terdengar menaiki tangga kayu. Aris datang membawa dua buah kursi plastik kecil. Di belakangnya, Farhan dan Rina berjalan membuntut dengan wajah penasaran karena Aris telah mematikan koneksi internet di rumah mereka secara sepihak sepulang sekolah tadi.
“Kenapa kalian kumpul di sini? Jangan bikin bising, Nenek mau menyelesaikan tikar ini,” ucap Nenek Kiah pelan sambil membetulkan letak kacamata kaburnya.
Aris tidak menjawab dengan kata-kata biasa. Ia mendudukkan Farhan dan Rina di kursi plastik tepat di depan Nenek Kiah. Kemudian, Aris sendiri duduk bersila di atas lantai papan kayu, menatap lurus ke arah mata neneknya yang terkejut.
Aris menarik napas panjang untuk menenangkan dada nya yang berdebar kencang. Dengan suara vokal yang agak canggung, sedikit serak, namun terdengar sangat jelas dan penuh keberanian, Aris mulai melantunkan bait pertama:
“Cik cik periok bilanga belanga bebingkok…”
Lafal bahasa Sambas dari mulut Aris masih terasa kaku dan terbata-bata pada beberapa suku kata. Rina dan Farhan sempat saling pandang sambil menahan tawa melihat abang sepupu mereka bernyanyi tanpa musik iringan gawai. Namun, Aris tidak berhenti. Ia menatap mata Nenek Kiah dengan tajam, lalu meneruskan bait berikutnya dengan nada yang makin mantap:
“Datang kepong bakok membawa kepiting bekok…”
Nenek Kiah terpaku di atas bangku kayunya. tangannya yang memegang daun pandan mendadak kaku di udara. Kacamata kaburnya perlahan bergeser turun ke ujung hidung, tetapi ia tidak mempedulikannya. Wanita tua itu memandangi cucu laki-lakinya dengan tatapan tidak percaya, seolah-olah sedang mendengarkan keajaiban kecil yang terbit di tengah teras rumahnya yang sepi.
Aris menoleh sebentar ke arah adik-adik sepupunya, memberi isyarat tangan agar mereka tidak diam saja. “Ayo ikut, Rina, Farhan. Abang ajari dari kemarin malam,” bisik Aris di selangjeda nada.
Rina yang awalnya malu-malu, perlahan membuka mulutnya. Dengan suara anak-anaknya yang nyaring, ia mulai mengikuti irama abangnya, disusul oleh Farhan yang menepuk-nepuk paha celananya sendiri untuk membuat ketukan irama sederhana.
“Cang katak kitang-kitang, lepak lepok dalam bilanga…”suara ketiga anak muda itu kini berpadu, memenuhi sudut-sudut teras kayu yang lama membisu.
Mata Nenek Kiah yang mulai mengabut oleh katarak mendadak basah oleh genangan air mata. Duduknya bergetar pelan saat rasa haru yang luar biasa menjalar menghangatkan seluruh dadanya. Selama berbulan-bulan, ia mengira warisan leluhurnya akan terputus begitu saja di tangannya, tenggelam di telan riuk-pikuk zaman modern yang serba cepat.
Bibir Nenek Kiah yang gemetar perlahan terimbas terbuka. Dari tenggorokannya yang tua, keluar lantunan suara seraknya yang khas, menyambung larik nyanyian cucu-cucunya dengan nada yang sangat presisi dan merdu:
“Cang katak kitang-kitang, lepak lepok dalam bilanga…”
Nyanyian itu tidak lagi terdengar canggung. Suara tua Nenek Kiah yang kaya akan pengalaman hidup berpadu indah dengan kepolosan suara Aris, Rina, dan Farhan. Angin sore yang berembus pelan dari arah sungai seolah berhenti sejenak untuk mendengarkan kembali alunan nada lama yang telah dirindukan oleh tanah Sambas.
Beberapa tetangga yang melintas di depan rumah panggung sempat menghentikan langkah kaki atau memperlambat laju sepeda motor mereka, menoleh ke arah teras sambil tersenyum hangat melihat pemandangan tersebut. Nyanyian itu telah kembali ke tempat yang seharusnya.
Di atas teras panggung yang sederhana itu, Nenek Kiah akhirnya tersenyum lebar tanpa beban. Air matanya menetes membasahi pipinya yang berkerut, tetapi kali ini adalah air mata kebahagiaan. Lagu daerah itu tidak pernah benar-benar hilang atau mati. Ia hanya sedang tidur sejenak, menunggu ada generasi muda yang memiliki keberanian dan kepedulian untuk datang, mendengarkan, dan menyanyikannya kembali dengan penuh rasa bangga. (Jihan Syaswina Aprilia)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini




