Inspirasi Kalbar
Beranda Lifestyle Secangkir Kopi di Pagi Hari

Secangkir Kopi di Pagi Hari

InspirasiKalbar, Cerbung – udara Bandara Chek Lap Kok sore itu rasanya aneh di hidung Rani. Ada perpaduan wangi pendingin udara, aroma kopi mahal, dan bau pendingin mesin yang asing. Cewek 22 tahun asal Nganjuk itu cuma bisa berdiri mematung di dekat pintu keluar, memeluk tas ranselnya erat-erat seperti memeluk masa depan.

“Aduh, Nduk! Jangan melamun di tengah jalan! Itu koper orang-orang kaya nanti menabrak jidatmu, lho!”
Suara melengking itu membuyarkan lamunan Rani. Perempuan paruh baya dengan gaya nyentrik—kaos kuning stabilo, celana jins yang sobek-sobek bagian lutut, dan kacamata hitam yang dicangklongkan di atas kerudung—menepuk pundaknya kencang. Itu Mbok Jum, senior sesama PMI yang baru kenal di pesawat tadi.
“Eh, iya, Mbok. Maaf,” Rani meringis, lalu menarik koper merah tuanya yang sudah duduk manis di tengah jalan.
“KRAK!”
“Lho, Nduk? Itu roda kopermu kenapa lepas satu?” Mbok Jum menunjuk roda koper Rani yang mendadak menggelinding liar ke arah rombongan turis.
“Aduh, Mbok! Roda koperku!” jerit Rani pelan.
Ia buru-buru mengejar rodanya, tapi terlambat. Roda itu sudah digilas koper troli lain hingga pecah jadi dua. Rani cuma bisa mengelus dada sambil memandangi kopernya yang kini miring seperti kapal mau karam.
“Halah, tenang wae! Lap Kong itu Kota Batako, jalanannya halus mulus. Diseret tanpa roda juga tetap jalan, paling bawahnya cuma terkelupas dikit,” celetuk Mbok Jum santai. “Ayo cepat, kita naik MAR. Nanti majikanmu keburu nyariin.”
“MAR itu apa toh, Mbok? Kereta cepat ya?” tanya Rani sambil setengah menyeret koper miringnya yang mengeluarkan suara ‘sret-sret-sret’ yang amat bising.
“Iya, kereta bawah tanah. Wis ta lah, ikut Mbok Jum wae. Tidak usah cerewet. Mbok kan sudah empat tahun di sini. Lap Kong ini sudah kayak pekarangan rumah sendiri buat Mbok!” kataya penuh percaya diri sambil menepuk dada.
Mereka pun berjalan menuju stasiun MAR di dalam bandara. Sepanjang jalan, Rani jadi pusat perhatian gara-gara suara kopernya yang bikin ngilu.
“Mbok, kita naik kereta yang mana?” Rani celingukan kayak kethek ditulup. Dia melihat papan petunjuk jalan yang penuh tulisan bahasa Inggris dan karakter Mandarin yang rumit.
“Anak muda zaman sekarang kok kagetan,” Mbok Jum berkacak pinggang di depan mesin tiket. “Kita mau ke mana? Care Kok, kan? Berarti naik yang jalur merah! Pokoknya kalau MAR dateng, kita langsung menerobos masuk. Jangan pakai lama!”
“Tapi Mbok, itu tulisannya…”
“Ssst! Wis tah, percaya sama Mbok Jum!” potong Mbok Jum cepat saat pintu kereta di depan mereka terbuka. “Ting-tong-ting-tong!” Suara sinyal pintu mau menutup terdengar mendesing.
“Ayo cepat masuk! Jangan melamun saja.” Mbok Jum menarik tangan Rani.
Dengan jurus terobos pasar rebo, Mbok Jum menyeret Rani dan koper miringnya masuk ke dalam gerbong. Pintu kereta tertutup rapat persis di belakang mereka. Rani napasnya terengah-engah, bajunya sampai agak lecek.

“Nah, selamat, kan? Gitu aja kok repot,” Mbok Jum tersenyum puas sambil mengibaskan tangannya ke wajah yang keringatan.
“Tapi Mbok… kok keretanya sepi banget ya?” Rani memandang sekeliling gerbong yang cuma diisi tiga orang berjas rapi yang menatap mereka dengan dahi berkerut.
“Ya bagus toh! Berarti kita beruntung, dapet kereta privat,” jawab Mbok Jum santai sambil menyenderkan badannya ke tiang pembatas. “Kamu harus belajar dari Mbok, Ran. Di Lap Kong itu yang penting berani dan paham navigasi. Jangan kelihatan planga-plongo. Nanti digeprek sama warga lokal.”
“Paham navigasi gimana, Mbok?”
“Ya kayak Mbok ini. Tahu seluk-beluk arah. Nanti sampai Care Kok, kita pindah bus nomor 102. Terus kamu tinggal telpon agenmu. Beres, kan?”
“Wah, hebat ya Mbok Jum. Berarti Mbok sudah apal luar kelapa? Eh maksudku luar kepala ya?” Rani menatap Mbok Jum dengan tatapan kagum.
“Jelas! Empat tahun di sini bukan waktu yang sebentar, Nduk. Mbok ini sudah kenyang makan asam garam Lap Kong. Makanya kalau ada apa-apa, nanya Mbok wae.”

Kereta berjalan cepat melintasi rel. Rani memandangi jendela luar yang gelap gulita karena berada di bawah tanah. Hatinya mulai agak tenang. Setidaknya, di hari pertamanya yang penuh kesialan ini, ia bertemu dengan senior yang sangat pandai dan bisa diandalkan.
“Eh, Nduk. Coba kamu liat papan pengumuman di atas pintu itu. Udah sampai stasiun mana?” tanya Mbok Jum sambil membetulkan posisi kaca matanya.
Rani mendongak, melihat lampu indikator stasiun yang menyala merah di atas pintu.
“Tulisannya… Asia World-Expo, Mbok,” kata Rani membacakan tulisan Inggris di layar.
“Hah? Asia-apa?” Dahi Mbok Jum berkerut. “Lho, kok jalurnya malah ke sana?”
“Memangnya harusnya ke mana, Mbok?”
“Harusnya kan ke Cing Moi dulu, baru pindah ke King King, terus ke Care Kok!” Mbok Jum mulai panik. Ia celingukan melihat peta rute yang tertempel di dinding gerbong.

Seorang pria paruh baya berjas hitam yang duduk di dekat mereka tiba-tiba membuka suara dalam bahasa Indonesia yang agak kaku namun sangat jelas.
“Maaf, Ibu-ibu…” kata pria berjas itu sambil tersenyum tipis. “Kalian mau ke mana ya?”
“Eh! Masnya bisa bahasa Indonesia?” Mbok Jum langsung mendekat dengan mata berbinar. “Ini Mas, kita mau ke arah Care Kok! Tapi kok keretanya malah ke Asia World-Expo?”
Pria berjas itu terkekeh pelan sambil merapikan letak dasinya. “Waduh, Ibu salah naik kereta. Kereta ini jalurnya memutar balik khusus ke area pameran dan kargo bandara, bukan jalur menuju pusat kota.”
“Lho?! Kok bisa salah toh, Mas? Tadi saya naik yang sesuai denah di bandara!” protes Mbok Jum heboh.
“Iya, tapi Ibu naik kereta Shuttle Airport Express yang jalurnya mengarah ke luar kota, bukan yang menuju Katel,” jelas pria itu ramah. “Kereta ini sebentar lagi sampai ke pemberhentian terakhir di depo kargo, dan Ibu-Ibu harus turun untuk beli tiket balik.”
Seketika wajah Mbok Jum pucat pasi. Kesombongannya melayang entah ke mana.
“Aduh, mati aku! Terus gimana ini, Mas?” Mbok Jum menepuk jidatnya sendiri. “Rani, piye iki, Nduk?”
Rani cuma bisa menghela napas panjang. Kekagumannya pada Mbok Jum runtuh seketika. “Ya pantesan sepi ya, Mbok… Seperti kuburan di malam Jum’at Kliwon.” gumam Rani lemas sambil memegang gagang kopernya yang rusak.

Kereta perlahan melambat hingga akhirnya berhenti total. Pintu terbuka lebar.
“Ayo turun, sudah sampai,” kata pria berjas tadi berdiri dan berjalan keluar gerbong terlebih dahulu.
Mbok Jum dan Rani buru-buru menyusul, menyeret koper miring yang kembali berbunyi ‘sret-sret-sret’ memecahkan keheningan stasiun yang sepi.
“Aduh, maaf ya, Rani. Mbok tadi agak ragu sebenarnya…” cicit Mbok Jum sambil melirik Rani merasa bersalah.
“Ya mau gimana lagi, Mbok. Nasi sudah jadi bubur,” balas Rani pasrah. “Sekarang kita tanya petugas aja deh cara balik ke bandara.”
Mereka berdua berjalan menuju gerbang keluar stasiun yang tampak sepi. Di balik meja informasi, berdiri seorang wanita paruh baya berseragam MAR dengan wajah tegas khas petugas keamanan.

Mbok Jum langsung mendorong bahu Rani. “Ran, kamu aja yang tanya pakai bahasa Inggris. Bahasa Inggris-mu kan lumayan. Soalnya bahasa Inggrisku hanya orang-orang terpilih yang paham dan mengerti.”
Rani memberanikan diri mendekati meja petugas. “Excuse me, Miss… We are lost. How to go back to Airport station?”
Petugas wanita itu menatap Rani, lalu beralih menatap Mbok Jum. Tiba-tiba, wajah galak petugas itu berubah 180 derajat. Matanya membelalak kaget, lalu ia buru-buru keluar dari balik meja informasi dan berlari kecil menghampiri mereka.
Rani dan Mbok Jum saling pandang, bingung.
“Aduh, Mbok Jum?!” seru petugas MAR itu dengan bahasa Jawa yang sangat kental. “Sampeyan toh ini?! Ya Allah, akhirnya pulang juga dari Indonesia! Bawa klepon dan onde-onde tidak, Mbok?”
Mbok Jum melotot, menjatuhkan tas jinjingnya ke lantai. “Lho… Sri?! Sri Susanti?!”
“Iya, Mbok! Ini Sri!” Petugas MAR itu langsung memeluk Mbok Jum erat-erat. “Sampeyan kok bisa nyasar sampai depo kargo sini toh?”
Rani cuma bisa melongo dengan lebar sambil mengusap ingusnya. Matanya berpindah-pindah memandang Mbok Jum dan petugas MAR yang berseragam lengkap tersebut.
“Bentar, bentar…” Rani memotong pelukan mereka. “Mbok Jum… ini petugas MAR Lap Kong kok bisa bahasa Jawa dan kenal Mbok?”
Mbok Jum terkekeh canggung sambil memegang pundak petugas tersebut. “Oalah, Nduk… Mbok lupa cerita. Ini Sri, adik kandung Mbok Jum sendiri. Dia sudah delapan tahun kerja jadi staf MAR di sini dan sudah dapat Izin tinggal tetap. Dan sudah menikah dengan orang sini, trus punya anak 6.”
Sri tertawa lebar memandang Rani yang makin bingung. “Iya, Mbok Jum ini sebenarnya cuma pura-pura nyasar, Mbok mau mampir ke ruangan kerja saya dulu buat ngambil titipan oleh-oleh keripik tempe dari kampung dan jajan lainnya!”
Rani memegang kepalanya yang mendadak pening. “Dadi… dari tadi kita gak benar-benar nyasar, Mbok?!”
Mbok Jum cuma mengedipkan satu matanya sambil tersenyum tanpa dosa.
“Kan Mbok sudah bilang, Nduk… Lap Kong ini sudah kayak pekarangan rumah Mbok sendiri!” Hehehe (Siti Nurhayati)

Bersambung….

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
https://mancingjitu.com/