Anak Krakatau Kembali Menggelegar dari Tengah Selat Sunda Mengingatkan Luka Lama

Ilustrasi: Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik di Selat Sunda.
InspirasiKalbar , Jakarta – Erupsi kembali mengguncang Gunung Anak Krakatau. Di balik kepulan abu dan pijaran lava, gunung muda di Selat Sunda itu membawa kembali ingatan tentang bencana besar yang pernah mengubah wajah pesisir Banten dan Lampung. Dari kejauhan, kepulan abu vulkanik membumbung ke udara. Suara gemuruh menjadi pertanda bahwa aktivitas di salah satu gunung api paling dikenal di Indonesia itu belum benar-benar reda. Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan kekuatannya.
Pada Minggu, 6 September 2026, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau kembali tercatat. Salah satu erupsi terjadi sekitar pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik dan amplitudo maksimum 46 milimeter. Beberapa jam kemudian, erupsi kembali tercatat.
Bagi sebagian orang, peristiwa tersebut mungkin hanya terlihat sebagai kepulan asap di cakrawala. Namun bagi masyarakat yang hidup di sekitar Selat Sunda, nama Anak Krakatau memiliki cerita yang jauh lebih panjang. Sebab, gunung yang berdiri di tengah laut itu bukan sekadar gunung api. Ia adalah pengingat bahwa alam dapat berubah dalam hitungan menit.
Anak Krakatau lahir dari kawasan kaldera yang terbentuk setelah letusan dahsyat Krakatau pada 1883. Puluhan tahun kemudian, aktivitas vulkanik melahirkan gunung baru yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau. Sejak kemunculannya, gunung tersebut terus tumbuh dan mengalami berbagai episode erupsi.
Aktivitas vulkaniknya bahkan telah berlangsung berulang kali dalam beberapa dekade terakhir. Pada 17 Agustus 2026 saja, PVMBG mencatat sebanyak 20 kali erupsi. Saat itu aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Namun, sejarah Anak Krakatau membuat setiap peningkatan aktivitasnya selalu mendapatkan perhatian lebih. Ingatan masyarakat tertuju pada Desember 2018. Saat itu, sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh ke laut dan memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung. Ratusan orang meninggal dunia dan ribuan lainnya terdampak. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bencana tsunami paling mematikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
rupsi gunung api tidak hanya berbicara mengenai lava pijar yang mengalir dari kawah. Ada abu vulkanik yang dapat terbawa angin dalam jarak jauh. Ada pula material vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat, penerbangan, hingga transportasi.
Dalam perkembangan terbaru, sebaran abu vulkanik Anak Krakatau bahkan berdampak terhadap sejumlah wilayah di Indonesia bagian barat. Aktivitas tersebut menyebabkan gangguan penerbangan dan sejumlah bandara harus menghentikan sementara operasionalnya demi keselamatan.
Di sisi lain, masyarakat di sekitar kawasan terdampak juga harus menghadapi kualitas udara yang menurun akibat abu vulkanik. Bagi nelayan, aktivitas gunung api juga berarti kewaspadaan ekstra. Laut yang biasanya menjadi sumber penghidupan berubah menjadi kawasan yang harus diawasi dengan lebih hati-hati.
Karena itu, pemerintah meminta masyarakat tidak mendekati kawah aktif. Badan Geologi menetapkan batas aman radius 3 kilometer dari kawah aktif dalam rekomendasi terbaru.
Letusan Krakatau pada 1883 dikenal sebagai salah satu letusan gunung api terbesar dalam sejarah modern. Suaranya terdengar sangat jauh, sementara dampaknya terasa hingga berbagai wilayah. Lebih dari satu abad kemudian, lahirlah Anak Krakatau dari kawasan yang sama. Kemunculannya menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik di Selat Sunda belum berakhir.
Namun, perkembangan teknologi membuat manusia kini memiliki kemampuan pemantauan yang jauh lebih baik. Aktivitas kegempaan, perubahan tubuh gunung, erupsi, dan berbagai parameter vulkanik terus dipantau oleh lembaga terkait. Pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Sebab dalam situasi bencana, kepanikan dapat menyebar lebih cepat daripada abu vulkanik.
Badan Geologi menyatakan episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir, tetapi aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Pemantauan terus dilakukan untuk melihat perkembangan aktivitas gunung tersebut.
Masyarakat dihimbau untuk ikut berperan penting mengikuti informasi resmi, mematuhi radius bahaya, menggunakan masker ketika abu vulkanik menyebar, serta tidak mendekati kawasan gunung api demi mendapatkan gambar atau video menjadi bagian dari mitigasi sederhana yang dapat dilakukan masyarakat. (Fahrodin)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini






