Aku Membeli Tiket Bukan Untuk Pulang Tapi Untuk Pergi

InapirasiKalbar,Cerpen–Suara dengung mesin kereta api yang perlahan merayap mendekati peron nomor tiga selalu terdengar seperti bisikan masa lalu yang enggan pergi. Di atas bangku besi yang dingin, Rian duduk sendirian sambil menatap selembar kertas kecil di genggamannya. Tiket kereta kelas ekonomi menuju sebuah kota kecil di pesisir selatan itu sudah sedikit lemas karena terus-terusan diusap oleh jemarinya yang dingin.
Di sampingnya, sebuah ransel kain berwarna abu-abu bersandar kaku. Ransel itu tidak terlalu padat, hanya berisi tiga pasang baju, sebuah buku catatan bersampul cokelat, dan sebotol air mineral yang tinggal separuh. Bagi sebagian orang yang melintas di stasiun malam itu, Rian mungkin tampak seperti seorang musafir yang hendak kembali ke kampung halaman setelah lelah merantau. Namun, dalam benak Rian sendiri, arah perjalanan ini sangat kabur.
“Kereta Serayu malam tujuan akhir Stasiun Kiaracondong hingga Kroya akan segera diberangkatkan dari jalur tiga,” suara pengumuman dari pengeras suara stasiun bergema, memecah kesunyian malam yang mulai merayap naik.
Rian menghela napas panjang. Asap tipis menguar dari mulutnya menembus udara malam yang lumayan menusuk kulit. Ia melirik jam tangan tua peninggalan ayahnya yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Jarum pendek hampir menyentuh angka sebelas.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menggesek lantai semen peron. Seorang perempuan berpakaian mantel krem dengan napas terengah-engah berhenti tepat beberapa langkah di depan Rian. Rambut panjangnya yang sedikit berantakan tertutup oleh selendang tipis.
“Kukira aku tidak akan sempat menemuimu, Yan,” kata Maya dengan suara yang agak serak.
Rian menengadah, mendapati mata Maya yang sembap dan kemerahan. Ada rasa bersalah yang mendadak berdenyut pelan di dada Rian, tetapi rasa itu cepat-cepat ditepisnya. Ia tidak menggeser duduknya, tidak juga berdiri untuk menyambut perempuan yang telah mendampingi hidupnya selama empat tahun terakhir itu.
“Kenapa kamu harus menyusul ke sini, Maya?” tanya Rian pelan, suaranya terdengar datar tanpa emosi berlebihan. “Aku sudah meninggalkan surat di atas meja dapur.”
Maya melangkah mendekat, lalu perlahan duduk di ujung bangku besi yang sama, menyisakan jarak kira-kira dua jengkal di antara mereka berdua. Ia memandangi wajah Rian yang tampak sangat lelah yakni sebuah kelelahan yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan tidur delapan jam sehari.
“Suratmu tidak menjawab apa-apa, Rian,” ujar Maya seraya meremas jemarinya sendiri. “Kamu cuma menulis bahwa kamu butuh waktu dan meminta agar aku tidak mencarimu. Kenapa harus sekarang? Kenapa harus dengan cara seperti ini? Rumah kita baru saja kita cat ulang minggu lalu. Ibu juga terus menanyakan kapan kita akan merencanakan pernikahan.”
Rian memindahkan pandangannya kembali ke rel kereta yang memantulkan cahaya lampu stasiun. Rumah. Kata itu terasa makin asing di telinganya belakangan ini.
“Rumah yang mana, Maya?” bisik Rian lirih, hampir tak terdengar di tengah bisingnya deru mesin kereta. “Atap tempat kita berteduh itu bukan rumahku. Itu hanya tempat aku bersembunyi dari harapan semua orang.”
Maya menatap Rian dengan tatapan tidak percaya. “Aku tidak pernah menuntutmu menjadi orang lain, Yan. Aku menyukaimu apa adanya. Pekerjaanmu di kantor, rencanamu, semua yang kita bangun bersama, apakah itu semua tidak ada artinya buatmu?”
Rian tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang terasa menyakitkan untuk dilihat.
“Justru karena kamu menyukaiku apa adanya, Maya. Masalahnya, aku sendiri tidak tahu ‘apa adanya’ itu siapa. Selama ini aku hidup memenuhi ekspektasi Ayah sebelum beliau meninggal, memenuhi keinginan kantor agar aku terlihat sukses, dan berusaha menjadi pasangan yang sempurna untukmu. Setiap kali aku pulang ke rumah itu, aku merasa sedang melangkah masuk ke dalam sangkar yang kubuat sendiri.”
“Jadi kamu melarikan diri dariku?” tanya Maya dengan nada suara yang mulai bergetar menahan tangis.
“Aku tidak tahu,” jawab Rian jujur. “Mungkin aku melarikan diri dari kenyataan. Atau mungkin aku sedang melarikan diri dari diriku sendiri yang pura-pura bahagia. Tetapi satu hal yang pasti, Maya: aku membeli tiket ini bukan untuk pulang ke mana pun. Aku membelinya hanya untuk pergi.”
Maya terdiam. Kata-kata itu menggantung di udara malam, terasa sangat berat dan dingin. Ia tahu betul bagaimana Rian selalu memendam segalanya sendiri. Sejak kepergian ayahnya dua tahun lalu, Rian berubah menjadi sosok yang selalu sibuk, selalu tersenyum, tetapi matanya selalu menyimpan kekosongan yang sangat dalam. Maya pikir, dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup, kekosongan itu perlahan akan terisi. Namun ternyata, luka di dalam diri Rian adalah sebuah ruang gelap yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun dari luar.
Lampu kereta api di jalur tiga mulai menyala terang, memotong kegelapan malam. Para penumpang lain yang sejak tadi menunggu mulai bangkit berdiri, merapikan barang bawaan masing-masing dengan wajah-wajah yang lelah.
Rian meraih ransel abu-abunya, menaikkannya ke bahu kanan. Ia lalu berdiri pelan, menatap Maya yang masih terduduk di bangku besi dengan air mata yang akhirnya menetes membasahi pipinya.
“Kamu mau pergi ke mana, Rian? Di kota itu kamu tidak punya siapa-siapa. Tidak ada keluarga, tidak ada pekerjaan, tidak ada rumah,” ucap Maya sambil mendongak, menatap mata lelaki yang pernah ia pikir akan menjadi teman hidupnya selamanya.
“Justru karena di sana tidak ada siapa-siapa, aku bisa mulai bertanya pada diriku sendiri tentang siapa aku sebenarnya,” balas Rian lembut. Ia mengulurkan tangannya, menyapu lembut air mata di pipi Maya dengan ibu jarinya untuk terakhir kali. “Jangan tunggu aku, Maya. Jangan biarkan hidupmu berhenti hanya karena seseorang yang sedang tersesat seperti aku.”
“Bagaimana kalau kamu tidak pernah menemukan apa yang kamu cari?” tanya Maya lirih.
Rian menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh sedikit ke belakang.
“Kalau begitu, setidaknya aku mati sambil berusaha mencari, bukan mati perlahan-lahan dalam kepura-puraan.”
Pintu gerbang kereta api terbuka dengan bunyi desis udara yang nyaring. Rian melangkah naik, meninggalkan Maya yang berdiri kaku di peron stasiun yang kian sepi. Dari balik kaca jendela kereta yang sedikit kusam, Rian melihat sosok Maya yang makin lama makin mengecil seiring berputarnya roda-roda besi di atas rel.
Saat kereta perlahan keluar dari area stasiun dan mulai menembus kegelapan malam yang pekat, Rian menyandarkan kepalanya di dinding gerbong. Suara gemuruh roda besi yang beradu dengan rel terdengar seperti detak jantung yang baru. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dada Rian tidak lagi terasa sesak.
Ia tidak tahu apa yang akan disangkutkan oleh takdir padanya di kota tujuan nanti. Ia tidak tahu apakah ia akan menemukan kedamaian, atau justru penyesalan yang lebih besar. Namun saat ia memejamkan mata dan membiarkan kereta membawanya makin jauh dari semua hal yang pernah ia kenal, Rian tahu satu hal dengan pasti: perjalanan ini bukanlah tentang titik akhir yang ia tuju, melainkan tentang keberanian untuk melepaskan segala hal yang selama ini mengikat jiwanya.
Di dalam gerbong kereta yang melaju kencang menerjang malam, seorang pemuda bernama Rian akhirnya belajar bernapas kembali, bukan sebagai anak yang berbakti, bukan sebagai pegawai yang berprestasi, dan bukan sebagai kekasih yang sempurna, melainkan hanya sebagai manusia biasa yang sedang melangkah mencari dirinya sendiri.(Jihan Syaswina Aprilia)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini





