Inspirasi Kalbar
Beranda Berita Bapinta Ujatn, Ikhtiar Masyarakat Landak Memohon Hujan di Tengah Kemarau dan Kabut Asap

Bapinta Ujatn, Ikhtiar Masyarakat Landak Memohon Hujan di Tengah Kemarau dan Kabut Asap

Sumber: Facebook

InspirasiKalbar, Landak – Di tengah kemarau panjang dan kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah, masyarakat adat di Kabupaten Landak kembali menjalankan salah satu tradisi turun-temurun yaitu Ritual adat Bapinta Ujatn atau memohon hujan dilaksanakan di sejumlah wilayah, termasuk Ngabang dan Mempawah Hulu.

Di Kecamatan Ngabang, Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Ngabang menggelar ritual adat Bapinta Ka’ Jubata di Tugu Batu Pakat, Binua Pantu Seratus, kawasan Terminal Bus Ngabang, Sabtu (5/9/2026) pagi.

Ritual tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual masyarakat untuk memohon perlindungan dari berbagai bencana, khususnya kabut asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus memohon agar hujan segera turun setelah kemarau yang berlangsung cukup panjang.

Kegiatan serupa juga dilaksanakan di Kecamatan Mempawah Hulu. Ritual adat Bapinta Ujatn digelar di Batu Abur atau Batu Pati, Desa Salumang. Pelaksanaannya turut dihadiri Camat Mempawah Hulu beserta Timangong dan DAD Kecamatan Mempawah Hulu.

Bagi masyarakat adat, ritual tersebut bukan sekadar kegiatan untuk memohon turunnya hujan. Di dalamnya terdapat nilai adat dan budaya yang terus dipertahankan serta diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah kondisi lingkungan yang sedang menghadapi kemarau dan kabut asap, pelaksanaan Bapinta Ujatn juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan harapan bersama. Hujan diharapkan segera turun sehingga kondisi udara membaik dan dampak karhutla dapat berkurang.

Salah satu warga Ngabang menilai pelaksanaan ritual tersebut sebagai hal yang positif. Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya menjadi upaya untuk menjaga adat dan budaya, tetapi juga mencerminkan harapan masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang lebih baik.

Menurut saya, ritual Bapinta Ujatn ini merupakan hal yang positif karena selain menjaga adat dan budaya, juga menjadi bentuk harapan masyarakat agar hujan segera turun dan kabut asap bisa berkurang,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai harapan melalui ritual adat tetap perlu berjalan beriringan dengan upaya nyata dalam menghadapi karhutla.

Tapi menurut saya, tetap harus diikuti dengan usaha nyata baik dari masyarakat dan pemerintah untuk mengatasi karhutla dan menjaga lingkungan,” lanjutnya.

Bapinta Ujatn pada akhirnya memperlihatkan bagaimana tradisi dan kondisi lingkungan dapat bertemu dalam kehidupan masyarakat. Ketika hujan menjadi sesuatu yang sangat dinantikan, ritual adat menjadi salah satu cara masyarakat menyampaikan harapan, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan lingkungan di tengah ancaman karhutla dan kabut asap. (Rida Ulkibria) 

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
https://mancingjitu.com/