Laporan Satelit Ungkap Lenyapnya 12,5 Triliun Ton Es Kutub
InspirasiKalbar, Sains – Kondisi kutub bumi saat ini sedang mengalami transformasi dramatis yang jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan oleh simulasi komputer sebelumnya. Sebuah studi global berskala masif yang dirilis oleh tim kolaborasi ilmiah internasional, Ice Sheet Mass Balance Inter-comparison Exercise (IMBIE), menyajikan fakta mengejutkan mengenai kesehatan dua lapisan es terbesar di bumi: Greenland dan Antartika telah kehilangan sekitar 12,5 triliun ton es sejak dekade 1970-an hingga saat ini.
Laporan yang diterbitkan di jurnal bergengsi Nature Scientific Data ini bukan sekadar estimasi kasar. Para ilmuwan merangkum data sepanjang hampir 50 tahun menggunakan kombinasi 27 misi satelit berbeda dan 42 hasil survei independen. Hasilnya menjadi alarm keras bagi peradaban manusia, laju pencairan es di kedua ujung bumi ini terus berakselerasi tanpa menunjukkan tanda-tanda melambat.
Selama bertahun-tahun, model iklim komputer memproyeksikan bahwa hilangnya es kutub sebagian besar dipicu oleh naiknya suhu udara secara bertahap yang melelehkan es di permukaan (surface melt). Namun, data satelit terbaru membongkar sebuah realitas yang berbeda dan jauh lebih mengkhawatirkan.
Lima per enam (sekitar 84%) dari total hilangnya es ternyata tidak disebabkan oleh udara hangat, melainkan oleh proses dinamis di bawah permukaan. Air laut yang menghangat merangsek masuk ke bawah lapisan es, mengikis gletser dari bawah dan dari samping.
Proses dinamis ini menciptakan efek pelumasan di dasar gletser. Akibatnya, gletser-gletser raksasa mengalir jauh lebih cepat menuju lautan lepas. Sebagai contoh, salah satu gletser utama di Greenland, yaitu Gletser Jakobshavn, kini dilaporkan bergerak mundur hingga 50 meter per hari, sebuah pergerakan yang sangat masif bagi objek geologi berukuran raksasa. Ketidakstabilan dinamis seperti inilah yang selama ini gagal diprediksi secara akurat oleh pemodelan komputer lama.
Meskipun Antartika berukuran delapan kali lebih besar daripada Greenland, kontribusi kehilangan es tidak berbanding lurus dengan luas wilayahnya. Data satelit menunjukkan pembagian beban yang mengejutkan:
- Greenland menyumbang sekitar 60% dari total kehilangan es global. Karakteristik geografis Greenland yang dikelilingi oleh arus laut yang lebih hangat membuatnya jauh lebih rapuh terhadap pemanasan global.
- Antartika menyumbang sekitar 40% sisanya. Pencairan di benua selatan ini terkonsentrasi secara masif di wilayah Antartika Barat dan Semenanjung Antartika. Sementara Antartika Timur sempat mengalami kestabilan jangka pendek akibat rekor curah salju intensif dalam beberapa tahun terakhir, pengukuran satelit terbaru menunjukkan tren percepatan pencairan es kini telah kembali berlanjut di seluruh benua.
Jika divisualisasikan, volume 12,5 triliun ton es yang lenyap ini setara dengan menumpuk es setinggi 1,5 meter di seluruh wilayah daratan Amerika Serikat, atau setara dengan bobot puluhan ribu Gunung Everest.
Air dari triliunan ton es yang mencair ini tidak hilang begitu saja, melainkan mengalir langsung dan menaikkan volume air laut global. Laporan satelit mengonfirmasi bahwa pencairan es dari kedua kutub sejauh ini telah menaikkan permukaan air laut global sebesar lebih dari 3 sentimeter.
Angka 3 sentimeter mungkin terdengar kecil bagi masyarakat awam, namun implikasinya sangat mematikan. Dr. Ines Otosaka, ilmuwan es dari Northumbria University sekaligus penulis utama studi ini, menjelaskan kalkulasi risikonya. Setiap tambahan kenaikan permukaan air laut sebesar 1 sentimeter saja akan menempatkan sekitar 2 hingga 3 juta orang di seluruh dunia ke dalam risiko banjir pesisir tahunan.
Artinya, hilangnya es yang tercatat saat ini telah mengancam keselamatan dan tempat tinggal bagi hampir 9 juta penduduk di kawasan pesisir dan pulau-pulau rendah secara global. Wilayah Asia Tenggara, termasuk kota-kota pesisir di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, dan Demak, berada di garis depan yang paling rentan terkena dampak rob dan abrasi akibat fenomena ini.
Data mutakhir yang dihimpun oleh European Space Agency (ESA) bersama badan antariksa dunia lainnya menegaskan bahwa hilangnya es kutub kini menyumbang sekitar 25% dari total kenaikan permukaan air laut global. Mengingat emisi gas rumah kaca global belum menunjukkan penurunan yang signifikan, laju pelepasan es diprediksi akan terus memecahkan rekor baru pada dekade-dekade mendatang.
Para ilmuwan menekankan bahwa satu-satunya cara untuk menahan laju keruntuhan total lapisan es ini adalah dengan mempercepat pemangkasan emisi karbon global dan menepati ambisi Perjanjian Iklim Paris. Data dari ruang angkasa telah menyajikan fakta yang tidak terbantahkan, waktu kita untuk menyelamatkan pesisir bumi tidak banyak lagi. (Rida Ulkibira)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini








