Waspada Hujan Asam, Jangan Buru-buru Tampung Air Hujan Pasca-Karhutla
InspirasiKalbar, Sains – Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah langganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), turunnya hujan setelah berbulan-bulan dikepung kabut asap pekat kerap dianggap sebagai berkah besar. Bau tanah yang basah dan udara yang berangsur bersih sering kali memicu euforia. Spontan, sebagian warga bergegas mengeluarkan ember, drum, dan wadah besar untuk menampung air dari langit tersebut demi memenuhi kebutuhan air bersih harian.
Namun, di balik kelegaan itu, tersimpan ancaman tak kasatmata yang siap mengintai kesehatan. Air hujan yang turun pertama kali setelah peristiwa karhutla bukanlah air bersih yang suci. Sebaliknya, air tersebut adalah “larutan kimia” beracun yang sangat berbahaya jika dikonsumsi atau digunakan secara langsung.
Senyawa Kimia di Balik Guyuran Hujan
Fenomena jatuhnya air hujan yang tercemar di wilayah pasca-kebakaran hutan erat kaitannya dengan terbentuknya hujan asam. Karhutla, terutama yang melanda lahan gambut, melepaskan triliunan partikel polutan pekat ke atmosfer bumi. Komponen utama gas yang dilepaskan meliputi emisi gas kimia berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx). Kedua gas ini muncul dari kandungan belerang dan material organik yang terbakar hebat di dalam lapisan tanah.
Ketika uap air di awan mulai berkumpul dan jatuh sebagai hujan, butiran-butiran air tersebut bertindak sebagai spons raksasa di langit. Air mengikat gas SO2 dan NOx yang melayang di lapisan troposfer. Melalui bantuan sinar matahari dan oksigen, reaksi kimia pun terjadi di atmosfer, mengubah tetesan air hujan menjadi larutan asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (HNO3).
Secara ilmiah, air hujan normal yang bersih memiliki tingkat keasaman (pH) alami di kisaran 5,6 hingga 6,5. Namun, dalam kondisi atmosfer yang terpolusi pekat oleh asap karhutla, tingkat pH air hujan bisa anjlok drastis ke tingkat ekstrem, bahkan hingga di bawah 4,5. Angka pH yang sangat rendah ini mengindikasikan tingkat keasaman tinggi yang bersifat korosif dan destruktif.
Apa Kata Riset dan Para Ahli?
Bahaya air hujan pasca-polusi pekat ini didukung penuh oleh berbagai kajian ilmiah dan pandangan para pakar. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Trismidianto, memperingatkan secara tegas bahwa air hujan yang tercampur polutan kuat seperti logam berat, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida akan membentuk hujan asam. Dampaknya tidak main-main, keasaman tinggi ini mampu merusak ekosistem lingkungan secara masif serta bersifat korosif terhadap material logam keras bangunan. Jika infrastruktur baja saja bisa terkikis, bisa dibayangkan efeknya jika zat asam beracun ini masuk ke organ dalam tubuh manusia.
Selain itu, studi karakteristik kimia air hujan yang diterbitkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di daerah rawan karhutla seperti Pontianak dan Palembang menunjukkan fakta serupa. Selama lonjakan titik api (hotspot) karhutla terjadi, terjadi peningkatan konsentrasi Suspended Particulate Matter (SPM) dan partikulat berbahaya secara signifikan di atmosfer. Partikel debu halus (PM2.5) dan abu sisa pembakaran yang berterbangan di udara ikut tersapu ke permukaan tanah bersama tetesan air hujan pertama. Fenomena ini dikenal dalam sains atmosfer sebagai wet deposition (deposisi basah).
Ancaman ini kian diperparah oleh kontaminasi sekunder dari atap rumah warga. Selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan masa karhutla, atap seng atau genting rumah menjadi tempat menumpuknya abu tebal, jelaga hitam, dan partikel debu sisa pembakaran. Ketika hujan turun pertama kali, air hujan asam yang korosif akan mengikis dan membilas seluruh tumpukan racun di atap tersebut langsung ke dalam bak penampungan air warga.
Dampak Fatal bagi Kesehatan Manusia
Meminum air hujan pasca-karhutla yang tercemar tanpa melalui proses filtrasi khusus dapat memicu berbagai gangguan kesehatan akut maupun kronis. Kandungan senyawa kimia beracun dan partikulat halus yang larut di dalamnya tidak akan hilang hanya dengan cara direbus konvensional. Perebusan air hanya membunuh bakteri biologi, tetapi justru meningkatkan konsentrasi kadar logam berat dan polutan kimia karena volume air yang menyusut saat menguap.
- Gangguan Pencernaan Akut: Kandungan zat asam pekat dan polutan kimia beracun yang masuk ke lambung secara mendadak akan langsung mengiritasi dinding pencernaan. Kondisi ini memicu gejala mual, muntah mendalam, kram perut hebat, hingga diare akut.
- Akumulasi Logam Berat dan Keracunan Jangka Panjang: Zat kimia beracun seperti formaldehida serta partikulat logam berat yang terikat di dalam air asam lambat laun akan menumpuk (bioakumulasi) di dalam organ vital manusia. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memicu kerusakan fungsi ginjal, gangguan hati, hingga potensi memicu sel kanker (karsinogenik).
- Iritasi Kulit dan Masalah Pernapasan: Selain untuk dikonsumsi, menggunakan air hujan asam ini untuk mandi sangat dilarang. Sifat asam yang korosif dapat menyebabkan iritasi mata, ruam kulit, gatal-gatal parah, dan memperburuk kondisi eksim. Uap air yang terhirup saat air tersebut digunakan pun berisiko mengiritasi saluran pernapasan atas, memicu serangan asma, dan memicu penyakit bronkitis.
Langkah Bijak: Lakukan Metode First Flush
Melihat besarnya risiko tersebut, masyarakat diimbau untuk menahan diri dan tidak terburu-buru memanen air hujan di masa awal transisi pasca-karhutla. Solusi utamanya adalah menerapkan prinsip pembilasan pertama (First Flush).
Biarkan hujan turun deras selama 15 hingga 30 menit pertama tanpa ditampung sama sekali. Waktu krusial ini dibutuhkan agar guyuran hujan membasuh bersih polutan kimia berbahaya yang melayang di langit sekaligus menyapu bersih endapan debu abu vulkanik pembakaran yang menempel di atap rumah. Setelah udara dirasa sudah bersih dan atap rumah terbilas sempurna, barulah air hujan berikutnya relatif aman untuk ditampung. Namun ingat, sebelum dikonsumsi sebagai air minum, air tersebut tetap wajib disaring menggunakan filter karbon aktif untuk mengikat sisa racun kimia terlarut, lalu direbus hingga mendidih sempurna. Selama masa darurat, maksimalkan penggunaan air tanah dalam atau pasokan air bersih dari tangki pemerintah demi menjamin keselamatan keluarga. (Rida Ulkibria)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini









