Inspirasi Kalbar
Beranda Berita Menemukan Harapan di Tengah Kegelapan: Resensi buku I Want to Die but I Want to Eat Tteobokki

Menemukan Harapan di Tengah Kegelapan: Resensi buku I Want to Die but I Want to Eat Tteobokki

Sumber gambar: gramedia.com

Judul Buku: I Want to Die but I Want to Eat Tteobokki
Penulis: Baek Se Hee
Penerbit: Haru Media
Tahun Terbit: 2023
Halaman: 238 Halaman
Peresensi: Jihan Syaswina Aprilia

InspirasiKalbar – Jakarta, Pernahkah Anda merasa hidup Anda sebenarnya baik-baik saja dari luar, tetapi di dalam hati terasa ada kehampaan yang tak kunjung hilang? Tidak sampai depresi berat yang membuat Anda terkapar di tempat tidur, tetapi cukup untuk membuat hari-hari terasa hambar, lelah, dan penuh keraguan pada diri sendiri. Kondisi inilah yang digambarkan secara jujur dan gamblang oleh Baek Se-hee dalam bukunya yang sangat fenomenal, I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki. Buku yang berasal dari Korea Selatan ini bukan sekadar populer karena judulnya yang unik dan menarik perhatian. Di balik kombinasi kata “ingin mati” dan makanan favorit “tteokbokki”, tersimpan sebuah catatan perjalanan kesehatan mental yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat modern.

Gambaran Umum dan Jalan Cerita

Buku ini merupakan memoar nonfiksi yang diangkat dari pengalaman pribadi sang penulis, Baek Se-hee. Ia adalah seorang wanita muda yang bekerja di sebuah perusahaan penerbitan. Dari luar, kehidupannya tampak normal dan berjalan lancar. Namun, di balik itu, ia terus-menerus berjuang melawan keputusasaan, kecemasan, serta rasa tidak percaya diri yang mendalam. Setelah bertahun-tahun merasa “tidak baik-baik saja”, Se-hee akhirnya memutuskan untuk mendatangi psikiater. Di sana, ia didiagnosis mengidap distimia (dysthymia), yaitu gangguan depresi persisten atau depresi ringan jangka panjang. Distimia membuat penderitanya masih bisa beraktivitas sehari-hari seperti bekerja, tertawa bersama teman, dan makan enak, tetapi terus merasa hampa dan sedih di dalam diri.

Format buku ini sangat unik. Sebagian besar isinya berupa transkrip dialog langsung antara Se-hee dan psikiaternya selama 12 minggu sesi terapi. Setiap bab mewakili satu sesi konsultasi, lalu diakhiri dengan esai singkat dan refleksi pribadi Se-hee tentang apa yang ia pelajari dari sesi tersebut. Melalui percakapan ini, pembaca diajak mengintip bagaimana Se-hee membongkar pikiran-pikiran rumit di kepalanya:

  • Rasa iri pada orang lain.
  • Ketakutan akan penolakan.
  • Sifat people-pleasing (selalu ingin menyenangkan orang lain).
  • Kebiasaan menilai segala sesuatu secara ekstrem (black-and-white thinking).

Mengapa Judulnya Sangat Unik?

Judul I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki menggambarkan ironi sekaligus keindahan dari kehidupan manusia. Di satu sisi, Se-hee merasa sangat lelah dengan hidupnya dan ingin semuanya berakhir. Namun, di sisi lain, ketika ia merasa hampa, perutnya tiba-tiba berbunyi dan ia masih ingin makan tteokbokki (kue beras pedas khas Korea). Kontradiksi ini menunjukkan bahwa perasaan manusia tidak pernah sejalan secara sempurna. Seseorang bisa saja merasa sangat sedih dan ingin menyerah, tetapi pada saat yang sama masih menikmati hal-hal kecil seperti makanan enak, cuaca yang sejuk, atau pelukan seorang teman. Buku ini mengajarkan bahwa merasa sedih sekaligus ingin menikmati hidup adalah hal yang wajar dan sangat manusiawi.

Kelebihan Buku

Ada banyak alasan mengapa buku ini menjadi bestseller internasional dan disukai oleh banyak pembaca:

  • Kejujuran yang Mentah dan Tanpa Topeng
    Banyak orang merasa malu mengakui pikiran buruk atau sifat egois mereka. Namun, Baek Se-hee menuliskan semuanya tanpa ditutup-tutupi. Ia berani mengakui bahwa ia sering iri pada penampilan temannya, merasa haus akan pujian, serta sering berpura-pura baik-baik saja. Keberanian ini membuat pembaca merasa tidak sendirian.
  • Format Dialektis yang Mudah Dibaca
    Karena ditulis dalam bentuk transkrip percakapan, bahasa yang digunakan sangat sederhana, mengalir, dan ringan. Pembaca tidak perlu pusing memikirkan istilah-istilah psikologi yang rumit. Membaca buku ini terasa seperti sedang menyimak pembicaraan teman dekat atau bahkan merenungkan percakapan dengan diri sendiri.
  • Tidak Menghakimi dan Tanpa Mahaguru
    Buku self-help pada umumnya sering kali terkesan menggurui dengan memberikan daftar perintah seperti “Kamu harus berpikiran positif!” atau “Cintailah dirimu sendiri!”. Sebaliknya, buku ini tidak memberikan solusi ajaib. Psikiater dalam buku ini mendengarkan tanpa menghakimi, membantu Se-hee memahami dirinya sendiri secara bertahap.
  • Memberi Ruang untuk “Tidak Baik-Baik Saja”
    Pesan utama dari buku ini adalah validasi emosi. Anda tidak harus selalu bahagia, kuat, atau sempurna setiap hari. Mengakui bahwa Anda sedang lelah atau rapuh adalah langkah awal yang sangat penting untuk penyembuhan.

Kekurangan Buku

Meskipun memiliki banyak keunggulan, buku ini juga memiliki beberapa catatan yang perlu dipertimbangkan sebelum Anda membacanya:

  • Terkesan Repetitif di Beberapa Bagian
    Karena alurnya mengikuti sesi terapi nyata minggu demi minggu, beberapa topik bahasan terasa berulang. Isu yang sama, seperti rasa percaya diri yang rendah atau ketakutan akan pandangan orang lain sering muncul kembali di beberapa bab. Bagi sebagian pembaca, hal ini mungkin terasa agak membosankan.
  • Tidak Ada “Ending” Ajaib yang Sempurna
    Bagi Anda yang mengharapkan akhir cerita yang dramatis di mana sang tokoh utama sembuh total dari depresinya, Anda mungkin akan sedikit kecewa. Buku ini berakhir dengan realistis: Se-hee belum sembuh sepenuhnya, tetapi ia belajar untuk hidup berdampingan dengan perasaannya dan berusaha menjadi lebih baik setiap hari.
  • Respon Psikiater yang Terkadang Terasa Datar
    Beberapa pembaca merasa respon dari psikiater dalam buku ini terkadang terlalu umum atau kurang mendalam. Namun, hal ini wajar mengingat tugas seorang terapis bukanlah memberikan jawaban instan, melainkan memandu pasien untuk menemukan jawabannya sendiri.

Pesan Utama dan Pembelajaran Penting

Dari perjalanan Baek Se-hee, ada beberapa pelajaran berharga yang bisa dipetik oleh pembaca:

  • Lepaskan Pola Pikir Hitam-Putih: Jangan menilai diri sendiri atau orang lain hanya dari dua sisi ekstrem (benar/salah, sempurna/gagal). Hidup berada di area abu-abu yang penuh dengan toleransi.
  • Cintai Diri yang Ketidaksempurnaan: Mencintai diri sendiri bukan berarti harus menyukai seluruh sifat kita, melainkan mau menerima kekurangan yang ada sambil pelan-pelan memperbaikinya.
  • Hargai Keinginan-Keinginan Kecil: Ketika dunia terasa terlalu berat, fokuslah pada hal-hal kecil yang membuat Anda bertahan, seperti secangkir kopi hangat, lagu favorit, atau semangkuk tteokbokki.

Kesimpulan

I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki adalah sebuah karya yang hangat, jujur, dan menenangkan. Buku ini berhasil meruntuhkan stigma masyarakat mengenai kesehatan mental dan terapi psikiatri. Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang sedang merasa lelah dengan tuntutan hidup, mereka yang sering bersikap terlalu keras pada diri sendiri, atau siapa pun yang ingin belajar memahami perasaan orang-orang di sekitarnya. Membaca buku ini terasa seperti mendapat pelukan hangat di hari yang dingin. Ia mengingatkan kita bahwa tidak apa-apa jika hari ini kita merasa ragu dan rapuh, yang terpenting adalah kita tetap melangkah, satu demi satu hari, sambil menikmati hal-hal sederhana yang membuat kita merasa hidup.

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
https://mancingjitu.com/