Setelah Hujan, Kenapa Asap Karhutla tidak hilang?

InspirasiKalbar, Sains – Hujan turun ketika kabut asap sedang menyelimuti suatu wilayah sering dianggap sebagai tanda bahwa kualitas udara akan segera membaik. Faktanya tidak selalu begitu. Setelah hujan berhenti, udara masih bisa berbau asap, pandangan tetap berkabut, bahkan konsentrasi partikulat halus dapat kembali meningkat.
Air hujan memang dapat membawa sebagian partikel pencemar dari atmosfer ke permukaan melalui proses yang dikenal sebagai wet scavenging. Persoalannya, proses ini tidak bekerja seperti mencuci udara secara menyeluruh. Seberapa efektif hujan mengurangi partikulat dipengaruhi oleh karakteristik hujan, ukuran partikel, kondisi atmosfer, dan apakah sumber pencemar masih aktif.
Penelitian yang diterbitkan dalam Environmental Science & Technology pada 2024 menunjukkan bahwa karakteristik hujan berperan penting dalam menentukan seberapa banyak aerosol yang dapat dikeluarkan dari atmosfer. Analisis terhadap berbagai pengamatan menunjukkan bahwa frekuensi hujan menjadi salah satu faktor utama. Banyak partikel dapat tersapu pada awal terjadinya presipitasi, sementara efektivitasnya cenderung menurun ketika hujan berlangsung lebih lama dan jumlah air yang turun semakin besar.
Karena itu, hujan singkat tidak selalu menghasilkan udara yang langsung bersih. Hujan mungkin mengurangi sebagian partikulat yang berada di udara pada saat itu, tetapi masih ada partikel yang tertinggal. Selain itu, asap yang berasal dari lokasi lain dapat terbawa angin ke wilayah yang baru saja diguyur hujan.
Persoalan menjadi lebih rumit ketika kebakaran terjadi di lahan gambut. Api pada gambut tidak selalu terlihat sebagai kobaran besar di permukaan. Material organik di bawah tanah dapat terus membara dan menghasilkan asap meskipun permukaan lahan telah terkena air. Kondisi ini membuat hujan yang turun di suatu wilayah belum tentu mematikan seluruh sumber kebakaran.
Penelitian tentang kebakaran gambut Indonesia yang diterbitkan dalam GeoHealth pada 2024 menjelaskan bahwa gambut yang telah dikeringkan menjadi lebih rentan terbakar, terutama ketika terjadi kekeringan dan kondisi El Niño. Penelitian tersebut menggunakan 13 sensor PM2.5 di wilayah perkotaan dan pedesaan Kalimantan Tengah selama musim kebakaran 2023. Hasilnya menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2.5 di luar ruangan mencapai 136 mikrogram per meter kubik pada periode 1 September–31 Oktober, dengan sekitar 90 mikrogram per meter kubik dikaitkan dengan asap kebakaran.
PM2.5 sendiri merupakan partikulat berukuran sangat kecil sehingga tidak selalu terlihat secara langsung. Dengan demikian, berkurangnya kabut yang terlihat oleh mata tidak otomatis berarti seluruh pencemar telah hilang. Sebaliknya, udara yang tampak lebih jernih pun masih dapat mengandung partikulat dalam jumlah yang perlu diperhatikan.
Penelitian lain mengenai kebakaran gambut di Palangka Raya memberikan gambaran mengenai besarnya emisi yang dapat dihasilkan. Studi yang diterbitkan dalam Atmospheric Environment pada 2024 memperkirakan kebakaran gambut di Kalimantan Tengah selama 2019 menghasilkan sekitar 0,6 teragram PM2.5, bersama berbagai jenis gas dan komponen partikulat lainnya.
Selain sumber asap yang belum sepenuhnya padam, pergerakan udara turut menentukan apa yang terjadi setelah hujan. Jika angin lemah, asap dapat bertahan di sekitar permukaan dan tidak segera tersebar. Sebaliknya, perubahan arah atau kecepatan angin dapat membawa massa udara yang mengandung asap dari daerah kebakaran menuju wilayah lain.
Atmosfer yang stabil juga dapat membuat polutan lebih sulit terdilusi. Dalam situasi seperti ini, hujan hanya menjadi salah satu faktor dalam perubahan kualitas udara. Setelah hujan berhenti, kondisi meteorologis dapat kembali mendukung penumpukan partikulat, terutama apabila sumber emisinya masih menghasilkan asap.
Ada pula alasan mengapa kondisi udara setelah hujan terkadang terasa berbeda. Kelembapan meningkat dan partikel aerosol berinteraksi dengan air di atmosfer. Penelitian mengenai wet scavenging menunjukkan bahwa hubungan antara hujan dan aerosol cukup kompleks. Studi tahun 2024 yang dimuat dalam Atmospheric Measurement Techniques menyebut wet scavenging sebagai salah satu mekanisme utama penghilangan aerosol dari atmosfer, tetapi proses tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor meteorologis dan masih memiliki ketidakpastian dalam pemodelan.
Artinya, tidak tepat pula menyimpulkan bahwa semakin deras hujan, semakin cepat seluruh asap menghilang. Yang lebih menentukan adalah kombinasi antara karakter hujan, kondisi atmosfer, pergerakan massa udara, serta keberadaan sumber kebakaran.
Dalam kasus karhutla, indikator yang paling penting bukan hanya apakah asap masih terlihat atau tidak, melainkan bagaimana kualitas udara terukur setelah hujan. Penelitian di Kalimantan Tengah pada musim kebakaran 2023 menemukan bahwa paparan PM2.5 tetap menjadi persoalan serius. Para peneliti memperkirakan sekitar 1,62 juta penduduk di wilayah tersebut mengalami paparan kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya selama musim kering tersebut.
Maka, hujan sebaiknya dipahami sebagai salah satu mekanisme yang membantu menurunkan pencemaran udara, bukan sebagai tombol yang langsung menghapus asap. Jika sumber kebakaran masih aktif, angin membawa asap baru, atau kondisi atmosfer menghambat penyebaran polutan, udara dapat tetap tercemar meskipun hujan sudah turun.
Itulah sebabnya setelah hujan, masyarakat masih mungkin mencium bau asap atau melihat udara berkabut. Dalam situasi karhutla, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa berakhirnya hujan tidak selalu berarti berakhir pula persoalan asap. Kualitas udara tetap perlu diperhatikan melalui pemantauan partikulat dan kondisi kebakaran di wilayah sekitar. (Rida Ulkibria)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini






