Potret Malam Sembahyang, Menyusuri Tradisi Masyarakat Ziguan
InspirasiKalbar, Kaohsiung – Malam di District Ziguan, Kota Kaohsiung, Taiwan, terlihat berbeda dari biasanya. Di tengah suasana malam yang tenang, halaman sebuah tempat ibadah justru dipenuhi cahaya, warna-warni kostum tradisional, ornamen keagamaan, serta aktivitas masyarakat yang mengikuti rangkaian acara sembahyang.
Pemandangan tersebut saya abadikan ketika menghadiri sebuah kegiatan keagamaan di Ziguan. Sejumlah orang mengenakan pakaian dan atribut tradisional dengan hiasan yang sangat detail. Warna merah, kuning, biru, dan emas tampak mendominasi suasana. Beberapa sosok dengan topeng dan mahkota berornamen berdiri di tengah area, sementara masyarakat berada di sekitarnya mengikuti jalannya kegiatan.
Bagi orang yang baru pertama kali melihatnya, suasana seperti ini mungkin terasa unik. Namun, bagi masyarakat setempat, kegiatan keagamaan dan tradisi di sekitar kuil merupakan bagian dari kehidupan sosial dan budaya. Pemerintah Distrik Ziguan sendiri mencatat sejumlah kuil dan pusat keagamaan sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat setempat, termasuk kegiatan keagamaan yang berkaitan dengan perayaan dan penghormatan kepada dewa.
Tradisi keagamaan di Taiwan tidak hanya berlangsung di dalam bangunan kuil. Dalam berbagai perayaan, ruang di sekitar tempat ibadah dapat berubah menjadi ruang bersama bagi masyarakat. Musik, prosesi, ornamen, kostum, hingga berbagai bentuk pertunjukan tradisional menjadi bagian dari suasana perayaan.
Salah satu unsur yang menarik perhatian adalah kehadiran kelompok atau figur yang menggunakan kostum dan topeng berukuran besar. Dalam tradisi keagamaan Taiwan, kelompok zhentou atau barisan ritual memiliki peran dalam berbagai prosesi. Salah satu contohnya adalah Ba Jia Jiang yang dikenal sebagai kelompok penjaga dalam prosesi keagamaan dan memiliki gerakan serta formasi khusus. Tradisi tersebut bahkan telah diakui sebagai warisan budaya takbenda di Kaohsiung.
Namun, penting untuk tidak menganggap seluruh kostum atau tokoh yang terlihat dalam sebuah acara sebagai bagian dari satu tradisi yang sama. Setiap kuil dan komunitas dapat memiliki tata cara, tokoh, serta bentuk perayaan yang berbeda.
Hal menarik lainnya dari kegiatan seperti ini adalah keterlibatan masyarakat. Dalam foto tersebut terlihat warga berdiri, mengamati prosesi, hingga mengabadikan momen menggunakan telepon genggam.
Hal ini menunjukkan bahwa tradisi keagamaan juga memiliki dimensi sosial. Kegiatan di sekitar kuil menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul dan mempertahankan hubungan dengan lingkungan sosial mereka.
Bagi saya, pengalaman melihat langsung kegiatan sembahyang di Ziguan memberikan gambaran bahwa budaya tidak selalu hadir dalam bentuk museum atau benda-benda bersejarah. Budaya juga hidup melalui kegiatan masyarakat yang dilakukan berulang kali, diwariskan, dan tetap dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Malam itu, di antara cahaya lampu dan warna-warni kostum tradisional, saya melihat bagaimana agama, seni, dan kehidupan sosial dapat berjalan berdampingan. Sebuah tradisi yang mungkin terlihat asing bagi pendatang justru memperlihatkan sisi lain Taiwan: masyarakat yang tetap menjaga hubungan dengan tradisi sambil menjalani kehidupan modern. (Fahrodin)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini







