Inspirasi Kalbar
Beranda Internasional Jauh dari Rumah, Dekat dengan Harapan: Potret Kehidupan PMI Indonesia di Taiwan

Jauh dari Rumah, Dekat dengan Harapan: Potret Kehidupan PMI Indonesia di Taiwan

Sumber: Pribadi/Suasana Aula Taipei Main Station

InspirasiKalbar, Taiwan – Pagi di Taiwan mungkin terlihat biasa saja. Jalanan mulai dipenuhi kendaraan, toko perlahan membuka pintu, dan aktivitas masyarakat berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Namun, bagi sebagian pekerja migran Indonesia (PMI), pagi menjadi tanda dimulainya rutinitas panjang di negeri orang.

Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan membawa alasan yang hampir serupa: mencari penghasilan, membantu keluarga, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Taiwan kemudian menjadi tempat mereka bekerja sekaligus belajar menjalani kehidupan jauh dari rumah.

Bagi PMI, bertahan hidup di Taiwan bukan hanya soal bekerja dan menerima gaji setiap bulan. Ada proses panjang untuk beradaptasi dengan bahasa, budaya, makanan, cuaca, lingkungan kerja, hingga kebiasaan masyarakat setempat.

Hari-hari PMI biasanya diisi dengan pekerjaan yang membutuhkan kedisiplinan. Sebagian bekerja di sektor manufaktur, sementara lainnya bekerja di bidang perawatan lansia, rumah tangga, konstruksi, perikanan, dan berbagai sektor lainnya.

Jam kerja yang teratur membuat sebagian PMI harus pandai membagi waktu. Setelah pekerjaan selesai, waktu istirahat menjadi kesempatan untuk melepas penat. Ada yang memilih beristirahat di tempat tinggal, memasak makanan Indonesia, berkumpul bersama teman, atau sekadar berjalan-jalan menikmati suasana kota.

Bagi mereka yang tinggal jauh dari pusat kota, akhir pekan sering menjadi waktu yang ditunggu. Hari libur dapat digunakan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, mencuci pakaian, bertemu teman, mengikuti kegiatan komunitas, atau mencari suasana baru. Hal-hal sederhana tersebut perlahan menjadi bagian dari kehidupan perantauan.

Salah satu cara PMI menjaga kedekatan dengan Indonesia adalah melalui makanan.

Meski Taiwan memiliki beragam kuliner, makanan Indonesia tetap memiliki tempat tersendiri. Nasi, sambal, mi instan, tempe, tahu, hingga berbagai bumbu khas Indonesia kerap menjadi pengingat rumah.

Di sejumlah kawasan, keberadaan toko Indonesia dan warung yang menyediakan makanan Nusantara juga membuat PMI lebih mudah menemukan cita rasa yang familiar. Makanan bukan hanya persoalan rasa. Bagi sebagian perantau, sepiring nasi dengan sambal dan lauk sederhana bisa menghadirkan kembali suasana rumah yang jauh.

Jarak ribuan kilometer membuat teknologi memiliki peran penting dalam kehidupan PMI. Ponsel dan internet menjadi penghubung dengan keluarga di Indonesia. Setelah menyelesaikan pekerjaan, sebagian PMI menyempatkan diri melakukan panggilan video dengan orang tua, pasangan, anak, atau saudara.

Hidup di negara lain secara tidak langsung membuat PMI belajar mandiri. Mereka harus mampu mengatur penghasilan, kebutuhan sehari-hari, waktu istirahat, komunikasi, hingga hubungan sosial. Sebagian juga menyisihkan pendapatan untuk dikirim kepada keluarga di Indonesia.

Pengelolaan uang menjadi bagian penting dalam kehidupan perantauan. Ada yang menggunakannya untuk kebutuhan keluarga, pendidikan anak, membayar kebutuhan rumah, menabung, atau mempersiapkan rencana ketika kembali ke Indonesia.

Karena itu, bagi sebagian PMI, bekerja di Taiwan bukan sekadar mencari pendapatan hari ini. Ada tujuan yang ingin dicapai untuk kehidupan setelah masa kerja berakhir.

Di balik rutinitas tersebut, ada rasa rindu yang tidak selalu terlihat. Momen-momen tertentu seperti Idulfitri, ulang tahun anggota keluarga, pernikahan saudara, kelahiran anak, hingga ketika orang tua sakit dapat membuat jarak terasa semakin panjang. Tidak semua momen penting keluarga dapat dihadiri secara langsung.

Panggilan video akhirnya menjadi pengganti kehadiran. Melalui layar ponsel, PMI dapat menyaksikan keluarga berkumpul meskipun tidak bisa berada di tempat yang sama.Namun, teknologi tetap memiliki batas.

Layar ponsel tidak dapat menggantikan pelukan, makan bersama, atau percakapan langsung di ruang keluarga. Karena itu, kerinduan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan banyak perantau.

Berada jauh dari keluarga membuat hubungan dengan sesama PMI menjadi semakin penting. Teman dari daerah yang sama dapat menjadi tempat berbagi cerita. Teman satu tempat kerja dapat menjadi orang yang memahami lelah setelah bekerja. Sementara komunitas Indonesia dapat menjadi ruang untuk menjaga hubungan dengan budaya dan kebiasaan dari tanah air.

Mereka dapat berkumpul saat hari libur, memasak bersama, berolahraga, beribadah, atau sekadar menikmati waktu luang. Di tengah kehidupan sebagai perantau, teman seperantauan sering kali menghadirkan rasa bahwa mereka tidak benar-benar sendirian.

Tinggal di Taiwan juga berarti belajar memahami lingkungan baru. Bahasa menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Begitu pula dengan kebiasaan masyarakat, aturan di tempat kerja, transportasi umum, hingga pola kehidupan sehari-hari.

Seiring waktu, banyak PMI mulai terbiasa dengan lingkungan tersebut. Mereka belajar menggunakan transportasi umum, berbelanja, berkomunikasi dengan masyarakat lokal, dan menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri. Proses adaptasi tersebut menunjukkan bahwa merantau bukan hanya tentang meninggalkan rumah, tetapi juga tentang menemukan kemampuan baru dalam diri sendiri.

Setiap PMI memiliki alasan dan tujuan masing-masing. Ada yang ingin membantu orang tua, membiayai pendidikan anak, membangun rumah, membuka usaha, membeli tanah, atau mempersiapkan kehidupan setelah kembali ke Indonesia. Karena itu, Taiwan bagi mereka bukan sekadar tempat bekerja.

Di negeri inilah mereka mengumpulkan pengalaman, menghadapi tantangan, membangun pertemanan, belajar mandiri, dan menabung harapan. Suatu hari, ketika kontrak kerja selesai dan waktunya pulang tiba, mereka tidak hanya membawa uang hasil bekerja. Mereka juga membawa cerita tentang bagaimana rasanya hidup jauh dari keluarga.

Ada cerita tentang pagi yang dimulai sebelum matahari tinggi, tentang makanan Indonesia yang dicari di negeri orang, tentang video call di sela kesibukan, tentang teman yang menjadi keluarga, dan tentang impian yang terus dijaga meski jarak memisahkan.

Bagi PMI Indonesia di Taiwan, bertahan hidup bukan berarti sekadar melewati hari demi hari. Di balik setiap rutinitas, ada harapan yang sedang diperjuangkan. Jauh dari rumah, tetapi selalu ada alasan untuk terus melangkah.(Fahrodin)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
https://mancingjitu.com/