Inspirasi Kalbar
Beranda Lifestyle Menertawakan Diri Sendiri Lewat “Alangkah Lucunya Negeri Ini”

Menertawakan Diri Sendiri Lewat “Alangkah Lucunya Negeri Ini”

InspirasiKalbar, Lifestyle – Pernahkah Anda menonton film yang begitu layarnya gelap dan lampu bioskop menyala, pikiran Anda justru baru mulai ramai? Alangkah Lucunya (Negeri Ini) adalah tipe film seperti itu. Sejak dirilis pada tahun 2010 silam, karya sutradara Deddy Mizwar ini dengan berani memakai komedi untuk menjentik hal-hal yang sebenarnya sama sekali tidak lucu: kemiskinan yang turun-temurun, ijazah yang berakhir jadi pajangan, hingga lingkaran setan korupsi.

Lebih dari satu dekade berlalu, cerita di dalamnya ternyata masih terasa sangat dekat dengan kita. Bukan karena negara kita tidak maju, melainkan karena masalah-masalah lama yang dipotret di film ini memang belum benar-benar pergi dari keseharian kita.

Ceritanya berpusat pada Muluk, seorang sarjana hukum yang luntang-lantung mencari kerja. Nasib mempertemukannya dengan sekelompok anak jalanan yang menyambung hidup dengan menjadi pencopet. Di sinilah nurani Muluk terusik, sekaligus melihat sebuah peluang unik. Ia menawarkan diri menjadi “manajer” mereka. Rencananya sederhana tapi bikin dahi berkerut: anak-anak tetap mencopet, tapi sebagian hasilnya disisihkan untuk modal pendidikan dan masa depan mereka.

Di sinilah kewajaran kita sebagai penonton mulai diuji. Bagaimana bisa masa depan yang bersih dibangun dari uang yang kotor? Pertanyaan ironis inilah yang menjadi jantung dari seluruh cerita.

Komedi yang Ngakak, Tapi kok Relate ya? 

Sumber: Tangkapan layar film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010), dokumentasi penulis.

Film ini tidak sedang menceramahi kita dengan wajah tegang. Deddy Mizwar memilih cara yang lebih cerdas: meminjam tawa kita untuk memperlihatkan betapa anehnya realitas di sekitar kita.

Saat menonton, kita mungkin terpingkal-pingkal melihat kepolosan anak-anak itu atau kekonyolan para tokohnya. Namun setelah tawa mereda, ada rasa tidak nyaman yang tertinggal di dada. Kita dipaksa bertanya-tanya: Mengapa di negeri ini, menjadi pencopet terasa jauh lebih mudah bagi anak-anak daripada mendapatkan sekolah yang layak? Mengapa seorang yang berpendidikan tinggi begitu sulit mendapat ruang untuk berkarya?

Kemiskinan di film ini tidak tampil sebagai angka statistik yang dingin di layar berita. Kita melihatnya langsung lewat mata anak-anak jalanan yang sejak kecil sudah harus bertarung dengan kerasnya aspal. Pengangguran juga bukan sekadar teori ekonomi; lewat Muluk, kita merasakan langsung betapa sesak dan putus asanya seseorang yang punya ilmu, tapi ditolak oleh keadaan. Pendidikan selalu digaungkan sebagai kunci keluar dari kemiskinan, namun ironisnya, kunci itu sering kali terlalu mahal dan sulit dijangkau oleh mereka yang paling membutuhkannya.

Potret Anak Jalanan dan Sistem yang Patah

Sumber: Tangkapan layar film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010), dokumentasi penulis.

Anak-anak pencopet di film ini bukanlah sekadar pemanis cerita. Mereka adalah cermin dari bagaimana lingkungan bisa mendikte masa depan seseorang. Bagi mereka, mencopet bukanlah pilihan moral, melainkan cara bertani di hutan beton bernama Jakarta agar besok perut tidak kelaparan.

Hebatnya, film ini tidak menjual drama murahan. Pendidikan tidak digambarkan sebagai tongkat sihir yang tiba-tiba mengubah segalanya menjadi indah dalam semalam. Anak-anak itu tetap harus pulang ke kolong jembatan yang sama, tetap punya perut yang harus diisi, dan tetap menghadapi godaan jalanan. Film ini dengan tajam mengingatkan kita: saat seseorang terdesak untuk bertahan hidup, menghakimi moral individu saja tidak akan pernah menyelesaikan akar masalahnya. Film ini mempertanyakan sistem yang membuat pilihan buruk terpaksa diambil karena menjadi satu-satunya pilihan yang masuk akal.

Sindiran ini juga mengarah tajam pada dunia pendidikan dan kerja kita. Gelar sarjana ternyata bukan jaminan hidup mapan. Lewat karakter Samsul yang frustrasi karena terus-menerus gagal, kita diingatkan bahwa pendidikan bukan cuma soal mengejar selembar ijazah, tapi tentang bagaimana sistem sosial memberikan ruang bagi anak-anak muda ini untuk bertumbuh.

Copet Jalanan vs Koruptor Berdasi

Sumber: Tangkapan layar film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010), dokumentasi penulis.

Salah satu bagian yang paling menampar adalah ketika film ini menjejajarkan kejahatan jalanan dengan kejahatan kerah putih. Pencopet di pasar mengambil dompet, terlihat jelas, dan langsung diteriaki massa. Mereka dengan cepat dicap kriminal tanpa ampun.

Namun, film ini pelan-pelan memutar cermin itu ke arah korupsi di tingkat atas. Uang yang dirampok jauh lebih besar, korbannya adalah seluruh rakyat, tapi pelakunya bisa berdasi rapi dan bersembunyi di balik aturan yang rumit. Satir ini seolah berbisik di telinga kita: mengapa kita begitu mudah membakar pencopet kelas teri, sementara pencuri kelas kakap sering kali kita maklumi atau bahkan kita lupakan?

Mengapa Film Ini Menolak Lupa?

Meskipun Indonesia hari ini sudah jauh berubah dengan teknologi dan media sosial yang canggih, esensi masalah yang diangkat film ini tetap sama. Perubahan zaman ternyata tidak otomatis menghapus ketimpangan struktural.

Itulah kekuatan sebuah satir yang jujur. Ia tidak perlu meramal masa depan dengan muluk-muluk. Cukup dengan memotret apa yang ada di depan mata dan memperlihatkan betapa anehnya cara hidup kita jika dilihat dari sudut pandang kemanusiaan.

Jika hari ini kita menontonnya kembali dan masih merasa sindiran-sindiran di dalamnya sangat pas dengan kondisi sekarang, maka bagian paling lucu dari film ini bukanlah leluconnya. Melainkan kenyataan bahwa setelah belasan tahun, kita ternyata masih berjalan di tempat yang sama. (Rida Ulkibria) 

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
https://mancingjitu.com/