Inspirasi Kalbar
Beranda Lifestyle Misteri Lorong Berdarah dan Tamu yang Tak Diundang

Misteri Lorong Berdarah dan Tamu yang Tak Diundang

 

 

InspirasiKalbar, Cerbung Bab 3 – Petugas keamanan naik ke lantai lima belas tempat di mana Mbok Jum dan Rani tinggal. Tapi, petugas menaruh sedikit kecurigaan di lorong apartemen tersebut. Sebab, ada bercak darah, dan jejak kaki yang berukuran kecil. Kemudian CCTV-nya juga mati, padahal masih baru. Petugas keamanan mencoba mengetuk pintu salah satu penghuni apartemen itu. Ternyata ditemukan sebuah sosok yang membuat bulu kuduk merinding.

Belum sempat Mbok Jum memutar nomor darurat pengelola gedung di ponsel jadulnya, suara ketukan aneh yang tadi menggedor pintu mendadak hilang total. Keheningan yang sangat janggal langsung menyergap lorong lantai lima belas. Namun, cuma berselang beberapa detik saja, suara lengkingan histeris dari arah luar koridor pecah membelah malam yang makin larut.

“Aiiiiyaaa! Tolong! Tolong lah! Ada raksasa makan besi!”
Suara teriakan Pak Cheung—petugas keamanan malam yang bertubuh gempal dan terkenal paling galak di kompleks pemukiman Care Kok—mendadak terputus oleh bunyi hantaman keras. Brak! Suaranya mirip benda berat yang dihantamkan ke dinding koridor sampai bergetar.

Rani yang baru saja menarik selimut tipis di atas ranjang tingkatnya langsung melompat turun kembali. Rasa kantuk yang tadi menggelayuti matanya mendadak menghilang tanpa sisa. Sensasi dingin meluncur deras dari tengkuk hingga ke ujung jari-jari kakinya.

“Mbok… itu suara Pak Satpam yang tadi kan?” bisik Rani gemetaran. Tangannya refleks kembali mencengkeram gagang sapu plastik yang sudah agak melengkung. “Bukan suara mesin robot pembersih yang korslet lagi?”
“Ssssh! Diam dulu, Ran! Jangan berisik!” desis Mbok Jum sambil mengapit ponsel di dadanya. Wajah wanita tua itu kelihatan jauh lebih tegang dari biasanya. Pipi yang tadinya kemerahan kini berubah pucat.

Di luar kamar, lorong lantai lima belas bener-bener terasa mencekam. Pak Cheung sebenarnya naik dari lobi utama lewat tangga darurat begitu indikator sistem pengawas di meja piket menyala merah lalu mati total. Saat kakinya menginjakkan langkah pertama di lantai lima belas, hidungnya langsung disengat bau amis yang menyeruak pekat. Bau busuk yang sangat menyengat, bercampur uap oli panas dan bau tembaga terbakar.

Pendar-pendaran lampu neon lorong yang berkedip-kedip bikin pemandangan malam itu mirip adegan film horor. Di atas ubin koridor yang kusam, tergores seperti cairan merah pekat yang masih sangat basah. Cairan itu membentuk jalur dari arah tempat pembuangan sampah umum, melewati depan pintu kamar 1508 milik Mbok Jum, lalu berhenti memusat tepat di depan pintu kamar 1510—hunian milik seorang pemuda yang tinggal seorang diri bernama Ah Beng dari Negeri Lumina.

Nggak cuma coretan darah yang bikin merinding. Di sebelah jejak merah itu, terdapat jejak telapak kaki tanpa alas yang ukurannya sangat kecil. Ukurannya persis kayak kaki anak balita umur tiga tahun, tapi pola jarinya tampak memanjang tajam di bagian ujung. Jejak kuku itu bahkan merobek lapisan ubin tipis seperti garpu panas yang menggores mentega mentah.

Pak Cheung menggenggam pentungan besinya makin erat sampai kuku-kuku jarinya memutih. Matanya melirik ke atas, ke arah kamera CCTV lorong yang baru dipasang pengelola gedung minggu lalu. Kaca pelindung kamera itu sudah hancur lebur, meninggalkan bekas cakaran dalam dan kabel yang terurai tanpa arus.

Dengan napas memburu dan langkah yang makin pelan, Pak Cheung menyusuri jejak darah itu hingga berdiri tegak di depan kamar 1510. Pintu seng kamar tersebut rupanya tidak tertutup rapat, menyisakan celah sempit berukuran dua jari.

Dari balik celah remang-remang itu, terdengar suara aneh. Suara robekan yang diselingi decakan gigi beradu.

“Krok… krok… krik…”

Pak Cheung menelan ludah yang rasanya membeku di tenggorokan. Ia mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya sebagai penjaga gedung bertahun-tahun. Dengan tangan gemetar, diangkatnya pentungan besi lalu mengetuk bilah seng pintu itu.

Tok! Tok! Tok!
“Permisi! Penghuni 1510! Ah Beng, kamu ada di dalam?” teriak Pak Cheung berusaha menekan getaran di suaranya agar tetap terdengar galak.

Seketika itu juga, suara kunyahan di dalam kamar berhenti total. Suasana di lorong lantai lima belas mendadak hening seketika. Cuma ada deru kipas pendingin ruangan yang meneteskan air samar-samar dari ujung lorong.
Sementara itu, di balik pintu kamar 1508, Mbok Jum dan Rani saling berdempetan. Telinga mereka menempel ketat pada daun pintu besi yang dingin.

“Mbok… Pak Satpamnya lagi ngetok kamar sebelah ya?” bisik Rani super pelan, takut suaranya terdengar keluar.
“Iya, kamar Si Ah Beng. Anak muda yang kalau kerja malam pulangnya pagi…” bisik Mbok Jum. “Tapi aneh, anak itu biasanya penakut banget sama kecoak, kok pintunya dibiarin terbuka jam segini?”

Belum sempat perkataan Mbok Jum rampung, pintu kamar 1510 terdorong membanting ke belakang dengan sangat keras.

BRAK!

Pak Cheung secara refleks menyorotkan sinar senter bertenaga tinggi yang ia pegang ke bagian tengah ruangan gelap itu. Dan pemandangan di dalam kamar membuat jantungnya seolah berhenti berdetak di detik itu juga.

Di tengah ruangan yang berantakan dengan pakaian kotor dan kardus bekas, duduk sebuah sosok kerdil berkulit abu-abu pucat bagaikan kain kafan lapuk. Sosok itu membelakangi pintu, memiliki punggung bungkuk dengan tulang rusuk yang mencuat menembus kulit tipisnya. Kepalanya licin tanpa sehelai rambut pun.

Di atas lantai di depannya, bangkai robot pembersih sampah otomatis yang tadi menggedor pintu Mbok Jum tergeletak hancur terbelah dua. Komponen besi dan lempengan bajanya tercabik-cabik menjadi kepingan kecil. Tapi hal yang paling horor adalah apa yang sedang dipegang sosok kerdil itu: sebuah core mesin inti bertenaga listrik milik robot yang sedang dikunyah hidup-hidup sampai mengeluarkan percikan api dan lelehan minyak hitam!

“Aiyaaa… Hantu! Ada monster makan besi!” jerit Pak Cheung histeris. Senternya yang berat jatuh membentur lantai dan menggelinding ke sudut lorong.

Mendengar teriakan Pak Cheung, sosok kerdil itu perlahan memutar kepalanya 180 derajat ke belakang dengan bunyi leher berderak yang bikin ngilu. Krek… krek…
Matanya tidak memiliki bagian putih—hanya bundaran hitam pekat yang memancarkan sorotan tajam. Dari sela-sela giginya yang runcing bercabang, lelehan darah bercampur oli mesin hitam menetes deras menimpa lantai.

“Waaaaah! Mampus aku!” Pak Cheung berbalik arah, lari tunggang-langgang menyusuri lorong remang-remang bagai dirasuki setan, meninggalkan pentungan dan senternya begitu saja.

Jeritan histeris dan suara langkah berat Pak Cheung yang menghilang ke arah tangga darurat membuat Mbok Jum dan Rani di dalam kamar 1508 panik bukan main.

“Mbok! Pak Satpamnya lari jerit-jerit sambil nangis!” jerit Rani pelan sambil menahan napas. “Kita harus gimana ini, Mbok?!”
“Gawat ini, Ran! Lemari plastik, cepat geser lemarinya buat ganjal pintu!” seru Mbok Jum setengah berbisik sambil mencoba mendorong lemari plastik tiga susun ke depan pintu besi.
“Mbok, lemari plastik tipis gitu mana mempan kalau diseruduk hantu atau monster!” protes Rani yang makin panik.

Sebelum mereka sempat berdebat lebih lanjut, suara langkah kaki berukuran kecil terdengar cepat menyusuri lorong dari arah kamar 1510.

Plak-plak-plak-plak!

Suara langkah basah itu mendadak berhenti tepat di depan pintu kamar 1508.

Sreet… sreet… sreet…
Cakaran jari yang runcing dan tajam kembali menggores pintu besi kamar mereka. Kali ini tidak hanya suara goresan besi, melainkan terdengar pula lengkingan tipis dan sengau yang memanggil nama dari balik pintu dengan nada melengking yang sangat mengerikan.

“Raaa-niiii… Mbooook… bukaaa…”
Rani mendadak lemas, terduduk di atas lantai kamar yang cuma seukuran kotak sepatu itu. “Mbok… kok makhluk itu bisa tahu nama kita sih?”
“Mana Mbok tahu, Ran! Mungkin dia baca tulisan nama di koper merahmu yang rombeng itu!” balas Mbok Jum sambil menggenggam gagang sapu plastik kuat-kuat. Tangannya gemetaran parah, tapi dia mencoba tetap berdiri di depan Rani.

Di celah bawah pintu besi yang sempit, jemari berwarna abu-abu dengan kuku hitam meliuk-liuk mencoba menerobos masuk. Suara nafasnya yang berat dan berbau sengatan oli terbakar makin tercium jelas di dalam kamar.

“Mbok, aku belum mau mati konyol di Negeri Batako ini!” pangkas Rani sambil menangis tanpa suara. “Aku belum sempat gajian, belum sempat beliin baju baru buat Ibu! Dan aku belum menikah juga?”
“Hush! Ngomong apa kamu ini!” bentak Mbok Jum pelan tapi menohok. “Di tanah Lap Kong ini kita cari makan jujur! Mau hantu lokal, mau monster dari Negeri Drakenor, kalau berani mengganggu tempat tidur kita, tak libas pakai doa keselamatan dan sapu ini!”

Jemari pucat di celah bawah pintu itu makin memanjang, mencoba meraih ujung koper merah milik Rani yang separuh badannya masih terselip mencuat keluar dari bawah tempat tidur besi. Makhluk itu sepertinya tertarik dengan bau sisa keripik tempe dan mi instan kari yang aromanya masih tercium dari dalam kamar.

Dengan sisa keberanian yang ada, Mbok Jum menyalakan kompor listrik mini di pojokan kamar. Ia mengambil panci bekas merebus mi instan tadi yang masih menyisakan sedikit air mendidih.

“Ran! Pegang gagang pintu ini kencang-kencang!” perintah Mbok Jum dengan mata menyala-nyala.
“Mau diapain, Mbok?” tanya Rani bingung sambil berusaha berdiri meski lututnya masih tremor.
“Tak siram pakai air panas! Biar kapok itu makhluk abu-abu!” Mbok Jum mengangkat panci kecil itu dengan kedua tangannya.

Tapi tepat sebelum Mbok Jum menyiramkan air panas ke celah pintu, pintu besi kamar 1508 mendadak digedor dari luar dengan kekuatan yang amat dahsyat.

Duar! Engsel pintu tua itu sampai berderit kencang seolah mau lepas dari tembok beton gedung.

“Buka! Ini tim pemburu gangguan supranatural Negeri Lap Kong!” suara berwibawa dari luar tiba-tiba menggelegar melalui megapon.

Mbok Jum dan Rani menghentikan gerakannya seketika. Rani memberanikan diri mengintip melalui lubang kecil di pintu. Di luar koridor, pendar cahaya kuning keemasan menyala terang. Dua orang pria bertubuh jangkung dengan pakaian zirah modern dari Negeri Celestia tampak sedang mengepung sosok kerdil abu-abu yang kini meringkuk ketakutan di depan pintu mereka.

Salah satu petugas menembakkan jaring energi berkecepatan tinggi yang langsung mengunci seluruh tubuh makhluk kerdil itu. Makhluk itu melengking keras sebelum akhirnya terkulai lemas dan tak berdaya.

“Mbok… aman, Mbok! Makhluknya udah ditangkap sama petugas pakai baju zirah!” seru Rani bernapas lega, tubuhnya langsung meluncur jatuh bersandar ke dinding lemarinya.

Mbok Jum meletakkan pancinya kembali ke atas kompor dengan napas terengah-engah. Ia mengusap peluh di dahinya sambil mengelus dadanya berulang kali.

“Alhamduliillah… baru sehari kamu di sini udah dapat ujian kayak begini, Ran,” bisik Mbok Jum sambil terkekeh dan masih sedikit lemas.

Rani cuma bisa tersenyum lemas sambil menatap luar jendela kecil kamarnya. Pendar lampu kota Negeri Lap Kong di balik kaca berdebu masih menyala indah, seolah tak terjadi apa-apa di lantai lima belas ini. Kota ini memang asing, penuh sesak, dan terkadang menyimpan bahaya yang tak terduga—tapi malam ini, di dalam kamar segagah kotak sepatu, Rani tahu ia berhasil bertahan hidup untuk menyongsong hari esok. (Siti Nurhayati)

 

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
https://mancingjitu.com/