Kenapa Mental Health Kita Sering “Pengap” dan Gimana Cara Menjaganya?

InspirasiKalbar, Hong Kong – Lifestyle Hari Senin pagi mendadak jadi musuh bebuyutan nomor satu. Alarm ponsel berdering nyaring di jam enam pagi, tapi rasanya tubuh ini berat sekali untuk sekadar bergeser dari kasur. Pikiran langsung melayang ke bayangan nikmatnya duduk santai di teras rumah sambil menyeruput kopi hangat, menikmati angin pagi tanpa perlu memikirkan deadline, rapat, yang belum kelar. Tapi ya, apa daya. Realita hidup dan tagihan bulanan sedang tidak berpihak pada keinginan santai itu. Mau tidak mau, kaki dipaksa melangkah menuju kamar mandi, dan segera bersiap-siap membelah jalanan ibu kota. Menghapus drama mimpi manis yang indah.
Baru saja keluar pagar rumah, “makanan” sehari-hari sudah menyambut: kemacetan yang mengular, kepulan asap knalpot, lampu merah yang rasanya lama banget, hingga deretan suara klakson yang saling bersahutan tanpa sabar. Semua itu adalah bagian dari drama hidup yang tak tahu kapan akan berakhir dan harus kita telan mentah-mentah sebelum jam kerja siap dimulai. Sampai di tempat kerja, energi rasanya sudah habis duluan di jalan. Dan celakanya, ini baru awal dari minggu yang panjang. Ingin rasanya saat kaki menginjak kantor, besok adalah hari Minggu.
Pernah merasa terjebak dalam rutinitas seperti itu? Kalau iya, kamu tidak sendirian. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat, menjaga agar isi kepala dan perasaan tetap stabil rasanya makin hari makin menantang.
Mumpung Lagi Ngobrolin Soal “Isi Kepala”: Apa Sih Kesehatan Mental Itu?
Secara sederhana, kesehatan mental atau “mental health” sebenarnya adalah kondisi kesejahteraan psikologis, emosional, dan sosial kita. Kondisi ini yang nantinya memengaruhi bagaimana cara kita berpikir, merasakan sesuatu, mengambil keputusan, hingga berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita setiap harinya.
Banyak orang yang masih menganggap bahwa kesehatan mental yang baik itu artinya kita harus selalu bahagia, tidak pernah sedih, atau tidak boleh marah. Padahal tidak begitu. Kesehatan mental yang sehat dan seimbang itu mencakup beberapa hal penting:
a.Mengenali Potensi dan Kapasitas Diri: Kamu paham betul apa kelebihanmu, tapi di saat yang sama kamu juga tahu batas kemampuanmu secara realistis. Kamu tahu kapan harus tancap gas, dan kapan harus menginjak rem.
b.Punya “Resilience” (Ketahanan Diri): Saat badai masalah atau tekanan hidup datang menghampiri, kamu punya daya tahan untuk menghadapinya. Bukan berarti tidak boleh meratap atau menangis, tapi kamu tahu cara untuk bangkit kembali. Tidak terus-terusan duduk diam di fase itu.
c.Tetap Fungsional dan Produktif: Kamu masih bisa menjalankan peranmu sehari-hari—baik itu sebagai pekerja, mahasiswa, atau anggota keluarga—secara optimal tanpa harus mengorbankan dirimu sendiri.
d.Hubungan Sosial yang Sehat: Kamu mampu menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan keluarga, sahabat, maupun rekan kerja tanpa dinamika yang menguras emosi (toxic).
Satu hal yang kerap dilupakan: kesehatan mental itu sifatnya dinamis. Kesehatan mental bukan cuma perkara hitam-putih, antara “sehat” atau “sakit”. Kondisi mental kita itu bergerak dalam sebuah spektrum. Hari ini bisa jadi kita merasa sangat segar dan bersemangat, tapi minggu depan kondisi psikologis kita bisa mendadak merosot akibat beban hidup yang menumpuk, kurangnya dukungan sosial, atau kondisi fisik yang sedang tidak fit.
Saat Tempat Kerja Jadi “Monster” Pemicu “Burnout”
Bicarakan soal beban hidup, lingkungan kerja sering kali menjadi salah satu pemicu terbesar terganggunya kesehatan mental seseorang. Kita sering mendengar cerita tentang orang yang memimpikan gaji besar, posisi mentereng, atau berkarier di perusahaan ternama. Tapi begitu masuk ke dalamnya, realitanya ternyata jauh dari kata indah.
Lingkungan kerja yang toxic—diisi oleh budaya lembur tanpa batas, tenggat waktu yang tidak masuk akal, komunikasi yang kasar, atau sesama rekan kerja yang saling menjatuhkan—bisa merusak mental seseorang secara perlahan namun pasti. Lamanya waktu yang dihabiskan di tempat seperti ini membuat seseorang mengalami “burnout”, rasa tertekan yang mendalam, hingga kehilangan rasa nyaman dan aman.
Gaji yang tinggi atau fasilitas kantor yang mewah tidak akan pernah menjadi jaminan bahwa kondisi mental seseorang bakal otomatis sehat. Buat apa dompet tebal kalau setiap malam kamu harus tidur sambil menangis karena kecemasan berlebih? Buat apa jabatan keren kalau setiap hari minggu sore dadamu terasa sesak membayangkan harus masuk kerja besoknya? Bahkan bayangan situasi di kantor dapat muncul di mimpi tidur malammu.
“Burnout” bukan cuma sekadar “capek fisik” biasa yang bisa hilang hanya dengan tidur delapan jam di setiap harinya. “Burnout” adalah bentuk kelelahan emosional, fisik, dan mental yang parah akibat stres berkepanjangan. Kamu merasa hampa, kehilangan motivasi, dan mulai skeptis dengan apa pun yang kamu kerjakan. Oleh karena itu, menyadari kondisi kesehatan mental diri sendiri adalah sebuah keharusan, bukan lagi pilihan.
Tekanan Era Modern dapat Memicu Munculnya Stres
Dunia saat ini bergerak sangat cepat. Teknologi makin canggih, media sosial makin riuh, dan informasi masuk ke otak kita tanpa henti selama 24 jam sehari. Di satu sisi, kemajuan ini memudahkan banyak hal. Tapi di sisi lain, modernisasi membawa beban psikologis baru yang tidak kalah berat.
Kita dibombardir oleh pencapaian orang lain di media sosial. Melihat teman sebaya sudah beli rumah, jalan-jalan ke luar negeri, atau sukses berbisnis, sering kali tanpa sadar memicu rasa “FOMO” (Fear of Missing Out) dan perasaan tidak berguna (imposter syndrome). Belum lagi budaya always-on di mana grup pesan pekerjaan tetap berdering meski jam kantor sudah selesai waktu kerjanya. Notifikasi pesan silih bergantian muncul dan tidak dapat di stop.
Akibatnya, batas antara ruang pribadi dan ruang kerja menjadi sangat kabur. Banyak hal dalam hidup modern ini yang dapat memicu munculnya stres, burnout, hingga depresi dengan sangat cepat—mulai dari skala ringan yang cuma bikin gampang marah, sampai skala parah yang membuat seseorang kehilangan keinginan untuk menjalani hidup.
Jangan Takut Menjangkau Bantuan Profesional
Apabila kamu merasa kondisi mentalmu sedang tidak baik-baik saja, perasaan cemas mulai mengganggu aktivitas, atau rasa sedih berkepanjangan tidak kunjung hilang, ketahuilah satu hal: “tidak ada yang salah dengan meminta bantuan kepada Psikolog maupun Psikiater.”
Sama seperti ketika kamu pergi ke dokter saat badanmu demam tinggi atau gigi terasa ngilu, pergi ke Psikolog atau Psikiater saat kondisi mentalmu bermasalah adalah langkah yang sangat wajar dan bijak. Jangan pernah merasa malu atau merasa gagal sebagai manusia hanya karena kamu berkonsultasi dengan profesional kesehatan jiwa. Itu adalah salah satu bukti kalau kamu masih mencintai dirimu sendiri. Jangan tunggu rasa sakit itu sampai parah baru berkonsultasi, tapi sadari dari hal-hal yang kecil.
Stigma di masyarakat kita memang kerap mengaitkan kunjungan ke psikolog/psikiater dengan sebutan “orang gila”. Stigma keliru inilah yang harus sama-sama kita patahkan. Setiap individu memiliki tantangan, trauma, dan tekanan hidup yang berbeda-beda. Apa yang terasa sepele bagi orang lain, bisa jadi merupakan beban yang sangat berat bagimu. Kapasitas penanganan setiap orang pun berbeda-beda. Jadi, jangan disamaratakan individu satu dengan yang lainnya.
Jika kamu melihat ada teman, keluarga, atau rekan kerja yang sedang berjuang dengan mental yang “sakit”, tolong jangan pernah mengucilkan atau meremehkan mereka. Hindari kalimat-kalimat yang menghakimi seperti “Ah, kamu kurang bersyukur aja” atau “Masalah gitu aja dipikirin”. Rangkullah mereka dengan rasa empati, cinta, dan dukungan yang nyata. Kadang, mereka tidak membutuhkan nasihat berbelit-belit; mereka hanya butuh didengar tanpa dihakimi.
Langkah-Langkah Kecil Menjaga Keseimbangan Jiwa
Menjaga kesehatan mental agar tetap seimbang di tengah dunia yang gila ini memang butuh usaha yang sadar. Kamu tidak perlu langsung melakukan perubahan ekstrem dalam hidupmu. Mulailah dari langkah-langkah kecil berikut ini:
1.Pasang “Boundary” (Batasan) yang Jelas
Belajarlah untuk berkata “tidak” pada hal-hal yang berada di luar kapasitasmu. Jika jam kerja sudah selesai dan hal tersebut bukan keadaan yang darurat, beranikan diri untuk mengistirahkan pikiranmu. Batasi pula interaksi dengan orang-orang yang hanya menyedot energimu secara negatif.
2.Lakukan “Digital Detox” Secara Berkala
Cobalah untuk mematikan notifikasi ponsel atau menjauh dari media sosial selama beberapa jam di akhir pekan. Gunakan waktu tersebut untuk benar-benar berada di saat ini (present moment), menikmati lingkungan sekitarmu tanpa perlu membandingkan hidupmu dengan kondisi orang lain. Karena, tidak semua yang terlihat indah di media sosial itu adalah kehidupannya sehari-hari.
3.Kenali Sinyal Tubuh dan Perasaanmu
Tubuh kita adalah indikator yang sangat pintar. Jika kamu mulai gampang sakit kepala, sulit tidur, atau gampang marah tanpa alasan yang jelas, itu adalah cara tubuh menyuarakan bahwa mentalmu sedang “overload”. Dengarkan sinyal itu dan berikan dirimu waktu untuk jeda. Tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan aktivitas tersebut.
4.Sediakan Ruang Aman (Safe Space) untuk Diri Sendiri
Temukan aktivitas sederhana yang bisa menyegarkan pikiranmu tanpa ada tuntutan dari kerjaan. Bisa jadi dengan berjalan kaki di taman, mendengarkan musik favorit, membaca buku, menyiram tanaman,melakukan hobi yang selama ini kamu tinggalkan, atau sekadar duduk diam tanpa melakukan apa-apa selama 15 menit.
5.Praktikkan “Self-Compassion”
Jadilah teman yang baik bagi dirimu sendiri. Kita sering kali bisa sangat ramah dan pemaaf pada orang lain saat mereka membuat kesalahan, tetapi justru menjadi kritikus yang paling kejam terhadap diri sendiri. Berhentilah menuntut dirimu untuk tampil sempurna setiap saat di depan mata oranglain.
Hidup ini adalah sebuah perjalanan maraton yang panjang, bukan lari cepat seratus meter. Tidak ada gunanya kita berlari kencang mengejar target ini dan itu kalau di tengah jalan jiwa kita hancur berkeping-keping.
Sama halnya dengan ponsel pintar yang kita genggam setiap hari: secanggih apa pun fiturnya, jika baterainya sudah 1%, ponsel itu harus diisi ulang daya agar bisa berfungsi kembali. Jiwa manusia pun demikian. Mengaku lelah, mengambil jeda, dan mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk keberanian dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Ingatlah bahwa dirimu berharga, bukan hanya karena seberapa produktif kamu dalam bekerja atau seberapa besar pencapaian yang berhasil kamu raih, melainkan karena keberadaanmu sebagai manusia secara utuh. Jaga kesehatan mentalmu, karena di dalam jiwa yang seimbang, selalu ada ruang untuk kedamaian dan kebahagiaan yang sejati. (Siti Nurhayati)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini







