Side Hustle Fatigue, Freelance bukan lagi sebuah opsi

InspirasiKalbar, Lifestyle – Punya kerja sampingan dulu dianggap keren. Bangun pagi kerja kantoran, sore pulang, malam jualan online, freelance, atau ngambil proyek lepas. Selain duit tambahan, side hustle juga sering digambarkan sebagai jalan menuju kebebasan finansial.
Tapi buat banyak orang di kota besar, maknanya sudah bergeser. Kerja sampingan bukan lagi “tambahan”, melainkan kebutuhan biar bisa bertahan. Gaji utama sering kalah cepat sama naiknya biaya hidup, makan, sewa, transportasi, semua naik. Akhirnya side hustle jadi jalan keluar yang terpaksa ditempuh.
Inilah yang disebut side hustle fatigue: rasa lelah yang muncul karena terus-menerus harus cari penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama. Waktu yang seharusnya buat istirahat, kumpul keluarga, atau sekadar “nganggur” produktif, akhirnya dipakai lagi untuk bekerja.
Di kota-kota besar, pemandangannya sudah biasa. Setelah jam kantor, orang lanjut jadi driver ojol, jualan makanan, buka toko online, ngerjain desain, translate, bikin konten, atau ambil proyek lepas. Teknologi memudahkan semuanya. Platform freelance, media sosial, gofood, e-commerce, semua bisa jadi sumber uang tanpa perlu punya toko fisik.
Masalahnya, kemudahan itu juga menciptakan jebakan. Hampir setiap waktu bisa diubah jadi kesempatan menghasilkan. Batas antara kerja dan hidup pribadi jadi kabur. HP yang tadinya cuma alat komunikasi berubah jadi “kantor” yang selalu ada di genggaman. Pesan pelanggan bisa masuk malam hari, proyek lepas dikerjakan setelah jam kantor, sementara media sosial terus menampilkan orang-orang yang seolah berhasil dari segala arah.
Akibatnya, tekanan bukan cuma dari pekerjaan utama, tapi juga dari tuntutan untuk terus produktif di luar jam kerja. Kerja lebih lama memang bisa menambah penghasilan dalam jangka pendek, tapi istirahat yang semakin sedikit membuat tubuh dan pikiran tak sempat pulih.
Pada poin inilah side hustle fatigue berbeda dari sekadar “punya kerja sampingan”. Masalahnya bukan berasa pada kuantitas pekerjaan yang dijalani, melainkan ketika seseorang merasa tak punya pilihan lain. Kalau side hustle dilakukan karena ingin ubah hobi jadi bisnis atau mengejar target tertentu, tentunya masih aman. Tapi ketika uang tambahan dibutuhkan untuk bayar kebutuhan dasar, pekerjaan itu terasa seperti kewajiban yang tak ada ujungnya.
Fenomena ini juga terkait dengan budaya hustle yang sedang diglorifikasi. Kesibukan sering dianggap sebagai tanda berhasil. Kata-kata seperti grind, work harder, atau financial freedom terus digaungkan. Padahal tidak semua orang mulai dari titik yang sama. Bagi yang sudah punya cukup, side hustle bisa jadi pilihan. Bagi yang lain, kerja kedua atau ketiga adalah cara supaya bisa menutup kebutuhan setiap bulan.
Membicarakan side hustle tak cukup hanya dengan semangat “cari peluang” dan “kerja lebih keras”. Ada persoalan yang lebih besar di baliknya: berapa sebenarnya penghasilan yang dibutuhkan untuk hidup layak, seberapa cepat biaya hidup naik, dan apakah satu pekerjaan masih cukup memberi rasa aman.
Pada akhirnya, side hustle tak selalu jadi simbol ambisi. Buat sebagian orang di kota, justru jadi tanda bahwa mengandalkan satu sumber penghasilan saja sudah terasa semakin sulit. (Rida Ulkibria)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini

