Membangun Kepingan Hati yang Telah Patah

InspirasiKalbar, Resensi – Judul Buku: Setiap Hati Pernah Patah, Nama Penulis: Chatreen Moko, Penerbit: transmedia, Tahun Terbit: 2017, Kota Terbit: Jakarta Selatan, Jumlah Halaman: 162 halaman, Genre: Fiksi, ISBN: 978-602-1036-55-6
Pernah nggak sih kamu merasa dada sesak banget, sampai-sampai buat sekadar menarik napas aja rasanya berat? Keadaan kayak gitu biasanya terjadi waktu hati kita lagi hancur berkeping-keping. Patah hati emang momen yang paling nggak enak dan membagongkan dalam hidup. Mau tidur nggak nyenyak, makan rasanya hambar, bahkan mau beraktivitas seharian pun rasanya kayak kehilangan arah dan tujuan. Tapi, pernah nggak kamu mikir dari sudut pandang yang beda, kalau rasa patah itu sebenarnya bagian penting dari proses pendewasaan diri yang harus dilewati?
Nah, buku karangan “Chatreen Moko” yang berjudul “Setiap Hati Pernah Patah” ini hadir seolah mau meluk kamu erat-erat di fase terendah itu. Buku yang diterbitkan oleh transmedia pada tahun 2017 lalu ini bukan sekadar kumpulan kata-kata manis atau kalimat motivasi omong kosong yang sering kamu lihat di media sosial. Lebih dari itu, karya ini menyediakan sebuah ruang aman dan tenang buat siapa saja yang lagi berusaha merajut kembali potongan hati yang hancur dan berserakan.
Mengapa Ekspektasi Sering Kali Jadi Bumerang Utama?
Kalau kita membaca baris demi baris pesan yang berusaha disampaikan oleh Chatreen Moko, ada satu poin penting yang rasanya langsung nempel banget di kepala dan bikin kita merenung: “ekspektasi”.
Hidup itu pada dasarnya adalah soal pilihan. Setiap orang—mulai dari kamu, pasanganmu, sahabat karibmu, sampai orang tuamu sendiri—punya hak penuh buat menentukan jalan hidup mereka masing-masing. Tapi masalah sering kali muncul saat kita tanpa sadar mulai menaruh harapan yang terlalu tinggi sama orang lain. Kita menuntut orang di sekitar kita buat bersikap, berpikir, dan bertindak sesuai dengan skenario indah yang udah kita susun rapi di dalam isi kepala.
Begitu mereka melakukan sesuatu yang beda dari skenario tersebut, “boom!” Kecewa berat langsung melanda. Saat rasa kecewa itu berubah jadi luka batin yang dalam, proses penyembuhannya nggak akan semudah mengedipkan mata atau membalikkan telapak tangan. Nggak pernah ada obat ajaib di dunia ini yang begitu diminum langsung bikin rasa sakit hilang dalam semalam. Butuh proses panjang yang diisi oleh perjuangan keras, tangisan di tengah malam yang sepi, senyuman tipis yang terpaksa diumbar di depan orang lain, sampai akhirnya kamu bener-bener bisa tersenyum tulus lagi tanpa beban.
Bahkan, dalam proses panjang menuju sembuh itu, nggak jarang kamu bakal ngerasain sakit buat yang kedua atau ketiga kalinya. Rasa sakit itu bisa mendadak muncul lagi cuma gara-gara kilasan memori lama yang tanpa permisi melintas di pikiranmu saat kamu lagi diam.
Tapi tahu nggak? Hal apa yang paling penting untuk kamu ingat dalam kondisi seperti itu? “Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri.” Banyak sekali orang yang saat mengalami patah hati malah sibuk melakukan introspeksi secara berlebihan sampai akhirnya menyudutkan diri sendiri. Mereka mulai membatin kalimat-kalimat destruktif seperti:
“Coba aja kemarin aku nggak bilang gitu…”
“Mungkin emang aku yang nggak cukup baik buat dia…”
Hentikan pikiran-pikiran merusak seperti itu sekarang juga. Luka yang terjadi padamu saat ini bukan sepenuhnya salahmu. Luka itu justru menjadi bukti dan tanda yang sah kalau kamu pernah berjuang, pernah peduli, dan pernah mencintai dengan tulus. Sekarang, kamu cuma butuh waktu untuk terus melangkah maju—meski harus berjalan perlahan sambil membawa luka itu. Teruslah melangkah sampai akhirnya luka itu mengering dengan sendirinya, hingga kamu bisa merasakan kedamaian dan menyunggingkan senyum manis di bibirmu saat ingatan tentang luka itu menyapamu kembali di masa depan.
Sebagai sebuah karya fiksi bergaya catatan harian (journal-style fiction), buku setebal 162 halaman ini punya pendekatan yang cukup segar dan berbeda dibanding buku-buku pengembangan diri atau fiksi umum lainnya. Mari kita bedah lebih dalam mengenai sisi kelebihan dan sedikit kekurangan yang ada di dalam buku ini.
Kelebihan Buku yang Bikin Betah Membaca
a.Visual yang Manis dan Nggak Bikin Jenuh: Salah satu poin plus paling menonjol dari buku ini adalah keberadaan ilustrasi atau gambar menarik di setiap halamannya. Buat kamu yang tipikal pembaca visual atau gampang bosan kalau harus berhadapan dengan deretan teks yang padat dan kaku, buku ini dijamin ramah banget di mata. Setiap gambar seolah memberikan jeda bernapas bagi pembaca.
b.Format Penulisan Singkat dan Ringkas: Tulisan di dalam buku ini dikemas mirip dengan lembar-lembar catatan harian. Nggak ada bab-bab panjang yang berbelit-belit atau penjelasan teori yang bikin pusing. Format seperti ini cocok banget buat kamu yang pengen membaca santai di sore hari sambil ngopi, atau buat mengisi waktu luang di tengah perjalanan pulang kerja yang macet.
c.Gaya Bahasa Lugas dan Jujur: Chatreen Moko nggak berusaha tampil puitis secara berlebihan dengan kata-kata rumit yang susah dipahami. Sebaliknya, bahasa yang digunakan sangat lugas, jujur, dan langsung menohok ke pusat emosi pembaca. Setiap rangkaian kalimatnya terasa sangat personal, seolah-olah bisa mewakili segala rasa yang sulit kamu ungkapkan dengan kata-kata—mulai dari sedih, kecewa, marah, sampai akhirnya rasa pasrah dan tenang.
d.Proses Validasi Emosi yang Kuat: Buku ini sama sekali nggak memaksamu untuk langsung “move on” secara instan atau berpura-pura bahagia di depan orang lain. Malah sebaliknya, buku ini mengajarkan kamu untuk merangkul dan mengakui setiap emosi yang muncul di dalam hati. Kalau kamu lagi merasa sedih, ya menangislah. Kalau kamu merasa kecewa dan marah, luapkan rasa itu dengan cara yang sehat. Mengakui perasaan adalah langkah awal menuju pemulihan. Jangan takut untuk memahami perasaan itu.
e.Penggunaan Penekanan Kata yang Efektif: Ada beberapa kata atau frasa di dalam buku yang sengaja ditulis secara berulang-ulang di lembaran tertentu. Teknik penulisan ini memberikan efek penekanan (emphasis) yang sangat kuat, seolah-olah penulis sedang duduk di sampingmu dan berbisik langsung ke telingamu untuk meyakinkan bahwa pelan-pelan semuanya pasti bakal baik-baik saja.
Kekurangan Buku
Meskipun menyajikan pesan yang sangat menyentuh dan format yang menarik, buku ini tentu bukan tanpa celah. Ada satu aspek teknis terkait tata letak atau “layout” yang lumayan mengganggu kenyamanan saat membaca.
Di beberapa halaman tertentu, terdapat pemilihan warna tulisan yang terlalu cerah atau kontrasnya kurang pas dengan latar belakang halaman. Bagi sebagian pembaca, visual tulisan yang terlalu terang seperti ini bisa bikin mata cepat lelah atau terasa kurang nyaman kalau dibaca dalam durasi yang lumayan lama. Namun, kalau kita murni melihat dari segi kualitas isi, kejujuran pesan, dan emosi yang disampaikan, kekurangan teknis ini masih sangat bisa dimaklumi dan tidak mengurangi esensi utama dari bukunya.
Mendalami Makna Patah Hati dari Berbagai Sudut Pandang
Satu hal yang membuat buku “Setiap Hati Pernah Patah” ini terasa berbeda dan luas cakupannya adalah cara pandangnya terhadap kata “patah hati” itu sendiri. Sering kali, saat masyarakat mendengar istilah patah hati, pikiran mereka akan langsung tertuju pada masalah percintaan antar pasangan remaja atau konflik asmara yang kandas di tengah jalan. Padahal, cakupan rasa patah hati dalam kehidupan nyata jauh lebih luas dari sekadar urusan romansa.
Melalui pendekatan narasi dalam buku ini, kita diingatkan bahwa patah hati bisa bersumber dari banyak aspek kehidupan:
1.Patah Hati dalam Hubungan Keluarga: Tidak semua orang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat dan suportif. Ekspektasi tinggi dari orang tua, ketidakharmonisan antar anggota keluarga, atau rasa tidak dianggap di rumah sendiri sering kali menorehkan luka yang sangat dalam dan membekas hingga dewasa.
2.Patah Hati dalam Persahabatan: Dikhianati oleh teman dekat atau perlahan menjauh dari sahabat yang tadinya sangat dipercaya (growing apart) terkadang memberikan rasa sakit yang jauh lebih hebat daripada putus cinta dari pasangan.
3.Patah Hati terhadap Diri Sendiri: Ini adalah bentuk patah hati yang paling sering diabaikan. Ketika rencana hidup yang sudah kita susun dengan matang harus berantakan, ketika kegagalan menghampiri karier atau pendidikan, atau saat kita merasa tidak bisa mencapai standar yang kita tetapkan sendiri, kita sering kali patah hati dan membenci diri sendiri. Kita terlalu memberikan cinta berlebih pada oranglain, dan oranglain itupun malah membalasnya dengan kecewa, diabaikan, dikhiati, dan trauma.
Buku ini secara halus merangkul ketiga fenomena tersebut. Ia tidak mengotak-ngotakkan rasa sakit, melainkan memberikan penawar bahwa apa pun penyebab patah hatimu, perasaanmu itu valid dan layak untuk disembuhkan.
Simpulan
Secara keseluruhan, “Setiap Hati Pernah Patah” bukan sekadar buku bacaan sekali duduk yang lalu dibiarkan berdebu di rak begitu saja. Buku ini berfungsi layaknya sebuah cermin untuk merenungi diri sekaligus teman cerita yang setia menemani di saat sepi. Buku ini berhasil memvalidasi bahwa rasa patah hati adalah pengalaman manusiawi yang universal dan pernah dialami oleh siapa saja tanpa terkecuali.
Melalui lembar demi lembar catatannya yang sederhana namun sarat makna, buku ini secara perlahan namun pasti menuntun pembaca melewati berbagai fase emosi—mulai dari fase penolakan (denial), kemarahan (anger), hingga akhirnya tiba di fase penerimaan yang damai (acceptance). Buku ini menyadarkan kita bahwa memaafkan keadaan, melepaskan hal-hal yang di luar kendali kita, dan kembali menyayangi diri sendiri adalah kunci paling krusial untuk bisa pulih dan berdiri tegak kembali.
Rekomendasi
Buku ini “sangat layak dibaca” buat siapa saja yang saat ini lagi berjuang menyembuhkan luka batin, sedang berada di titik terendah, atau pernah mengalami patah hati yang mendalam di masa lalu.
Nggak masalah apakah kamu lagi patah hati karena urusan asmara, dinamika keluarga yang rumit, konflik persahabatan, atau sekadar merasa kecewa pada pencapaian diri sendiri. Selama kamu adalah manusia yang pernah merasa kecewa karena harapan yang tidak terwujud, buku ini akan memberikan sudut pandang baru yang menenangkan. Buat kamu yang butuh teman untuk merenung di kala sunyi dan butuh pegangan hangat buat melangkah lagi, buku karya Chatreen Moko ini wajib banget kamu masukkan ke dalam daftar bacaan favoritmu! (Siti Nurhayati)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini

