Inspirasi Kalbar
Beranda Budaya Mengurai Pesona dan Kehidupan di Simpang Lima Gumul (SLG)

Mengurai Pesona dan Kehidupan di Simpang Lima Gumul (SLG)

InpirasiKalbar, Kediri – Kalau kamu pernah membuka aplikasi Instagram, TikTok, atau sekadar menjelajahi lini masa media sosial, kemungkinan besar kamu pernah melihat sebuah bangunan megah berbentuk kubus dengan arsitektur klasik ala Eropa yang berdiri gagah di tengah persimpangan jalan. Sekilas, gambar itu tampak seperti Arc de Triomphe yang berada di pusat kota Paris, Prancis. Namun, kalau kamu memperhatikan pelat nomor kendaraan yang lalu lalang di sekitarnya—pelat AG—kamu akan sadar bahwa bangunan tersebut tidak berada di Eropa, melainkan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Bangunan itu bernama Monumen Simpang Lima Gumul, atau yang lebih akrab disapa warga lokal dengan sebutan SLG. Sejak dibangun pada awal tahun 2000-an dan diresmikan pada 2008, monumen ini bukan lagi sekadar bangunan beton penanda persimpangan jalan, melainkan telah menjelma menjadi jantung kehidupan, simpul ekonomi, tempat berkumpul warga, hingga ruang nostalgia bagi siapa saja yang pernah menginjakkan kaki di Kediri.

Sebuah Ide Ambisius di Tengah Lahan Tebu
Untuk memahami kenapa bangunan megah ini bisa berdiri di Kabupaten Kediri, kita perlu memutar waktu kembali ke masa pemerintahan Bupati Sutrisno di awal era 2000-an. Kala itu, kawasan Gumul hanyalah persimpangan jalan biasa yang dikelilingi ladang tebu dan pemukiman warga. Jalanan ini menghubungkan lima jalur strategis di Kediri: jalur menuju Kota Kediri, Pesantren, Gurah, Pagu, dan Plosoklaten.

Pemerintah daerah saat itu punya visi besar: menjadikan kawasan yang mulanya sepi ini sebagai pusat perdagangan, bisnis, dan pariwisata baru yang independen. Pemilihan desain yang mirip Arc de Triomphe sebenarnya bukan sekadar gaya-gayaan atau ikut-ikutan tren luar negeri. Konon, ide arsitektur ini terinspirasi dari kisah sejarah Jongko Joyoboyo—ramalan Raja Jayabaya dari Kerajaan Kadiri kuno—yang bercita-cita menyatukan lima wilayah di Kediri. Proses pembangunannya memakan waktu beberapa tahun dan sempat memicu beragam reaksi dari masyarakat. Ada yang skeptis, ada pula yang kagum. Namun, ketika bangunan setinggi 25 meter ini selesai didirikan di atas lahan seluas kurang lebih 37 hektar, publik mulai sadar bahwa Kediri telah melahirkan sebuah ikon baru yang bakal mengubah peta pariwisata Jawa Timur secara signifikan.

Arsitektur Penuh Simbol dan Makna Mistik
Sekilas pandang, Monumen SLG memang terlihat sangat kebarat-baratan. Namun, jika kamu mendekat dan memperhatikan detail ukirannya, kamu akan menemukan perpaduan budaya Eropa dan Jawa yang sangat kental. Bangunan ini dirancang tidak hanya untuk memanjakan mata, tetapi juga menyimpan filosofi angka yang berkaitan erat dengan sejarah Kediri.
Monumen ini memiliki luas bangunan sekitar 804 meter persegi dan tinggi mencapai 25 meter. Angka-angka tersebut tidak dipilih secara acak. Jika ditelusuri, kombinasi angka pada dimensi bangunan ini merujuk pada tanggal, bulan, dan tahun hari jadi Kabupaten Kediri, yaitu 25 Maret 804 Masehi.

Di keempat sisi monumen, terdapat relief-relief batu yang mengukir sejarah, budaya, dan potensi daerah Kediri. Jika kamu berjalan mengelilingi kaki monumen, kamu bisa melihat pahatan yang menggambarkan kesenian tradisional seperti Tari Jaranan, kehidupan petani, cerita kebudayaan Kadiri purba, hingga potensi kerajinan lokal. Satu hal lagi yang menarik perhatian adalah keberadaan arca Ganesha di setiap sudut bangunan. Dalam mitologi Hindu, Ganesha dikenal sebagai dewa pengetahuan, kecerdasan, pelindung dari segala rintangan, serta dewa kebijaksanaan. Kehadiran relief dan arca ini seolah menjadi penjelas bahwa meski bentuk fisiknya mengadopsi gaya arsitektur barat, jiwa dari monumen ini tetaplah tanah Jawa.

Sensasi Menyusuri Terowongan Bawah Tanah
Salah satu pengalaman paling menarik saat berkunjung ke Simpang Lima Gumul adalah akses jalan menuju bangunan utamanya. Kamu tidak bisa begitu saja menyeberangi jalan raya lingkar monumen karena lalu lintas di sekitar persimpangan ini terbilang cukup ramai dan berbahaya.
Pemerintah daerah merancang sistem akses bawah tanah yang unik. Untuk menuju ke monumen pusat, pengunjung harus masuk melalui lorong terowongan bawah tanah yang berada di area parkir kendaraan. Terowongan beton ini relatif panjang, bersih, dan dilengkapi penerangan yang memadai.

Saat kamu berjalan menyusuri terowongan ini, ada perasaan antisipasi yang seru. Suasana di dalam terowongan terasa agak dingin dan bergema. Begitu kamu melangkah keluar dari tangga di ujung terowongan, kamu akan langsung disambut oleh kemegahan pelataran beton yang luas serta kaki-kaki monumen yang berdiri kokoh menjulang ke langit. Momen transisi dari terowongan gelap menuju pelataran terbuka inilah yang sering dimanfaatkan para wisatawan untuk mengambil video estetik.

Denyut Kehidupan Pagi hingga Malam
Monumen SLG bukan tipe objek wisata mati yang hanya bagus dipandang dari jauh. Bangunan ini hidup selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, mengikuti ritme warga Kediri yang tiada hentinya memadati kawasan ini.

Pagi Hari: Ruang Publik dan Arena Olahraa
Jika kamu datang ke SLG sekitar pukul 05.30 WIB, kamu akan mendapati suasana yang sangat berbeda dibandingkan malam hari. Udara kawasan Gumul masih terasa sejuk, tertiup angin dari pepohonan rindang di sekitar taman. Di pagi hari, pelataran monumen dan jalur pejalan kaki di sekitarnya mendadak berubah menjadi arena olahraga massal.
Ratusan warga dari berbagai usia berkumpul di sini. Ada yang lari-lari kecil (jogging), berlatih sepatu roda, pesepeda yang beristirahat setelah mengayuh belasan kilometer, hingga kelompok ibu-ibu yang antusias mengikuti senam aerobik dengan iringan musik energik.
Tidak sedikit pula keluarga muda yang membawa balita mereka untuk sekadar memberi makan burung merpati yang sering berkumpul di pelataran monumen. Suasana pagi di SLG terasa begitu tenang, inklusif, dan menyehatkan.

Siang Hari: Spot Foto yang Menarik
Memasuki siang hari, sengatan matahari di kawasan terbuka ini memang cukup terik. Namun, hal itu jarang surutkan niat para pemburu foto. Pencahayaan matahari siang yang terang justru dimanfaatkan para fotografer—baik profesional maupun amatir yang bermodalkan kamera ponsel—untuk mengambil foto arsitektur dengan latar belakang langit biru tanpa awan.
Beberapa sudut populer di siang hari antara lain:
Sisi Depan Monumen: Mengambil sudut dari bawah untuk memberikan efek monumen yang sangat raksasa dan megah.
Lorong Bawah Tanah: Memanfaatkan efek pencahayaan alami dari mulut tangga terowongan.
Taman Green Park: Area hijau yang berlokasi tak jauh dari monumen, menawarkan sudut pandang monumen yang terbingkai rimbunnya dedaunan.

Malam Hari: Pesta Lampu dan Pusat Wisata Kuliner
Perubahan suasana paling drastis terjadi saat matahari terbenam. Begitu lampu-lampu sorot di sekeliling monumen dinyalakan, monumen berwarna krem keabu-abuan ini mendadak berpendar dengan nuansa keemasan yang hangat dan elegan. Malam hari adalah puncak keramaian di Simpang Lima Gumul. Anak-anak muda Kediri menyemut di area pelataran. Ada yang duduk santai di undakan semen sambil mengobrol, ada komunitas tari modern yang sedang latihan, hingga musisi jalanan yang membawakan lagu-lagu pop akustik.

Di area luar monumen, deretan pedagang kaki lima dan angkringan mulai membuka lapak mereka. Aromanya melayang di udara: bakso bakar yang gurih, tahu takwa goreng khas Kediri yang renyah di luar dan lembut di dalam, jagung bakar manis, hingga semangkuk es puter yang menyegarkan. Menikmati secangkir kopi hitam hangat atau teh poci sambil lesehan di atas tikar plastik, berlatarkan pemandangan Monumen SLG yang bercahaya terang di bawah langit malam, adalah salah satu terapi paling murah namun berkesan yang bisa kamu dapatkan di Kediri.

Pendorong Roda Ekonomi Rakyat
Keberadaan Monumen Simpang Lima Gumul tidak hanya membawa dampak estetika bagi tata kota Kediri, melainkan juga menjadi motor penggerak ekonomi yang sangat vital bagi masyarakat lokal. Sebelum monumen ini dibangun, kawasan Gumul tidak lebih dari sekadar perlintasan antarkecamatan. Kini, kawasan ini tumbuh menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Di sekitarnya, telah berdiri berbagai fasilitas publik dan hiburan, seperti wahana air Waterpark Gumul, pasar tumpah mingguan, pusat oleh-oleh khas Kediri, hingga deretan kafe modern.

Setiap hari Minggu pagi, kawasan sekitar SLG menggelar Car Free Day (CFD) yang selalu dipadati puluhan ribu pengunjung. Di event mingguan ini, ratusan UMKM lokal mendapatkan panggung untuk menjajakan produk mereka. Mulai dari kuliner tradisional khas Kediri seperti Nasi Pecel Tumpang, Stik Tahu, Cethot, pakaian, mainan anak-anak, dan kerajinan tangan. Perputaran uang di kawasan ini saat akhir pekan mencapai angka yang tidak sedikit. SLG secara nyata telah membuktikan bahwa pembangunan arsitektur yang ikonik, jika dikelola dengan fokus pada ruang publik, mampu mengangkat taraf hidup masyarakat di sekitarnya secara langsung.

Aksesibilitas dan Tips Berkunjung
Mencapai Monumen Simpang Lima Gumul bukanlah hal yang sulit. Dari pusat Kota Kediri (seperti dari area Stasiun Kereta Api Kediri), kamu hanya membutuhkan waktu perjalanan sekitar 15 hingga 20 menit menggunakan sepeda motor maupun mobil. Akses jalannya sudah sangat bagus, lebar, dan mulus.

Bagi kamu yang baru pertama kali ingin berkunjung ke SLG, ada beberapa tips sederhana agar pengalaman liburanmu makin berkesan:
1. Pilih Waktu yang Tepat: Waktu terbaik untuk datang adalah sore hari menjelang matahari terbenam (sekitar pukul 16.30 WIB). Kamu bisa menikmati transisi pemandangan dari terang ke gelap, mendapatkan foto dengan pencahayaan golden hour, lalu lanjut menikmati suasana malam dan kulineran.
2. Gunakan Pakaian dan Alas Kaki yang Nyaman: Karena kamu akan banyak berjalan kaki dari area parkir, menyusuri terowongan bawah tanah, hingga mengelilingi pelataran monumen yang luas, hindari memakai sepatu berhak tinggi. Pakailah sepatu kets atau sandal santai.
3. Bawa Kamera atau Pastikan Baterai Ponsel Penuh: Sudut foto di monumen ini sangat banyak. Jangan sampai kamu kehabisan daya baterai saat menemukan sudut pengambilan gambar yang pas.
4. Jaga Kebersihan Lingkungan: Area SLG adalah fasilitas umum milik bersama. Tempat sampah sudah disediakan di berbagai titik di sekeliling area monumen. Pastikan kamu tidak meninggalkan sampah plastik atau bekas makanan di pelataran.
5. Patuhi Peraturan Lokal: Hindari memanjat struktur monumen atau merusak relief batu. Selalu ikuti petunjuk petugas keamanan yang bersiaga di kawasan tersebut.

Simpang Lima Gumul Lebih dari Sekadar Bangunan Beton
Sering kali, sebuah kota dikenal bukan dari seberapa banyak gedung pencakar langit yang dimilikinya, melainkan dari sejauh mana kota tersebut menyediakan ruang yang hangat bagi warganya untuk bertemu, berinteraksi, dan merajut kenangan. Monumen Simpang Lima Gumul di Kediri adalah bukti nyata bagaimana sebuah ide megah bisa melebur harmoni dengan kehidupan sehari-hari warga lokal. Ia bukan sekadar tiruan bangunan Eropa yang berdiri di tengah ladang Jawa, melainkan sebuah ruang terbuka publik tempat anak-anak tertawa mengejar burung, tempat para muda-mudi merajut cerita, tempat para pedagang kecil menggantungkan harapan, dan tempat siapapun bisa menikmati indahnya malam tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam.

Jika suatu hari nanti perjalanan membawamu melintasi Jawa Timur, luangkanlah waktu beberapa jam untuk berhenti di persimpangan ini. Duduklah di pelatarannya, hirup udaranya, nikmati seduhan kopinya, dan biarkan Monumen Simpang Lima Gumul menceritakan kisah tentang bagaimana keindahan, sejarah, dan kehangatan lokal bisa menyatu di satu titik yang sama. (Siti Nurhayati)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
https://mancingjitu.com/