Inspirasi Kalbar
Beranda Budaya Borobudur, Warisan Budaya Dunia yang Menyimpan Jejak Peradaban Jawa

Borobudur, Warisan Budaya Dunia yang Menyimpan Jejak Peradaban Jawa

Photo by Giant Asparagus from Pexels

InspirasiKalbar, Magelang — Di tengah lanskap perbukitan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, berdiri sebuah bangunan batu yang telah melewati perjalanan sejarah selama lebih dari seribu tahun. Candi Borobudur bukan hanya dikenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya Indonesia, tetapi juga menjadi peninggalan penting yang menyimpan jejak kehidupan, kepercayaan, seni, dan kemampuan arsitektur masyarakat Jawa pada masa lampau. Kemegahan Borobudur telah mendapat pengakuan dunia. UNESCO menetapkan Borobudur Temple Compounds sebagai Situs Warisan Dunia pada 1991. Kompleks tersebut terdiri atas Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon yang berada dalam satu rangkaian kawasan dan memiliki keterkaitan dalam konteks keagamaan Buddha

Nama Borobudur juga pernah muncul dalam kampanye New7Wonders of the World. Dalam daftar resmi New7Wonders, Borobudur tercatat sebagai salah satu dari 174 kandidat yang mengikuti kampanye tersebut. Namun, Borobudur tidak termasuk tujuh bangunan yang diumumkan sebagai pemenang pada 2007. Tujuh bangunan tersebut adalah Tembok Besar China, Petra, Colosseum, Chichén Itzá, Machu Picchu, Taj Mahal, dan Christ the Redeemer.

Pengakuan UNESCO menjadi salah satu penanda penting posisi Borobudur sebagai warisan budaya dengan nilai universal. Situs ini dinilai memiliki keistimewaan dalam arsitektur, seni monumental, serta hubungan antara tradisi lokal dan ajaran Buddha.

Dibangun pada Abad ke-8 dan ke-9

Borobudur diperkirakan dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, pada masa Dinasti Syailendra. UNESCO mencatat bangunan tersebut berada di kawasan Lembah Kedu, Jawa Tengah, dan menjadi salah satu monumen Buddha terbesar yang masih bertahan hingga sekarang.

Bangunan Borobudur memiliki bentuk yang berbeda dari candi pada umumnya. Struktur utamanya dibangun bertingkat dengan lima teras persegi di bagian bawah, tiga pelataran melingkar di bagian atas, serta sebuah stupa utama di puncaknya. Susunan tersebut bukan sekadar persoalan bentuk bangunan. Arsitektur Borobudur berkaitan dengan kosmologi Buddha yang membagi alam ke dalam tiga tingkatan, yaitu kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu.

Kamadhatu digambarkan melalui bagian dasar candi yang berkaitan dengan kehidupan manusia yang masih terikat keinginan duniawi. Rupadhatu direpresentasikan melalui lima teras persegi, sedangkan arupadhatu berada pada tiga pelataran melingkar dan stupa utama di bagian puncak. Dengan susunan tersebut, perjalanan menuju bagian atas candi memiliki hubungan dengan konsep perjalanan spiritual dalam ajaran Buddha.

Ribuan Relief di Dinding Candi

Salah satu kekayaan terbesar Borobudur terdapat pada relief yang menghiasi dinding dan pagar langkan candi. Menurut data Balai Konservasi Borobudur yang dipublikasikan melalui laman resmi pariwisata Indonesia, terdapat 2.672 panel relief di kompleks utama Borobudur. Jumlah tersebut terdiri atas 1.460 panel relief cerita dan 1.212 panel relief dekoratif. Keseluruhan relief tersebut mencakup permukaan sekitar 2.500 meter persegi.

Relief cerita yang terdapat di Borobudur antara lain menggambarkan Karmawibhangga, Lalitavistara, Jataka-Avadana, dan Gandavyuha. Lalitavistara berkaitan dengan kehidupan Siddhartha Gautama, sedangkan kisah Jataka dan Avadana memuat cerita yang berkaitan dengan kehidupan Buddha pada masa lampau serta berbagai nilai kebajikan. Gandavyuha menceritakan perjalanan Sudhana dalam mencari kebijaksanaan.

Relief tersebut tidak hanya memperlihatkan cerita keagamaan. Berbagai pahatan juga menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa lalu. Bentuk rumah, pakaian, kendaraan, tumbuhan, hewan, serta kegiatan sehari-hari menjadi bagian dari visual yang dapat ditemukan pada sejumlah panel. Karena itu, relief Borobudur menjadi salah satu sumber yang dapat digunakan untuk melihat gambaran kehidupan masyarakat Jawa pada masa pembangunan candi.

Relief juga memiliki aturan dalam pembacaannya. Peziarah mengikuti jalur searah jarum jam atau dikenal sebagai pradaksina. Perjalanan dimulai dari sisi timur dan mengikuti rangkaian cerita yang terpahat pada dinding candi.

504 Arca Buddha dan 72 Stupa

Selain relief, Borobudur memiliki ratusan arca Buddha. Kompleks utama tercatat memiliki 504 arca Buddha yang ditempatkan pada berbagai bagian bangunan.

Di bagian atas terdapat tiga pelataran melingkar yang dikelilingi 72 stupa berlubang. Setiap stupa tersebut berisi arca Buddha. Di bagian paling tinggi berdiri sebuah stupa utama yang menjadi titik pusat struktur Borobudur. Susunan stupa tersebut menjadi salah satu ciri khas yang membuat Borobudur mudah dikenali. Jika bagian bawah candi dipenuhi dinding, lorong, dan relief, bagian atas memiliki ruang yang lebih terbuka dengan susunan stupa yang mengelilingi stupa utama. Perubahan bentuk dari bagian bawah menuju bagian atas tersebut juga mengikuti konsep tiga tingkatan dalam kosmologi Buddha.

Pernah Ditinggalkan dan Ditemukan Kembali

Borobudur tidak selalu berada dalam kondisi yang dapat dilihat seperti sekarang. UNESCO mencatat bahwa candi tersebut digunakan sebagai tempat ibadah Buddha sejak pembangunannya hingga sekitar abad ke-10 sampai ke-15, sebelum kemudian ditinggalkan. Setelah ditinggalkan selama berabad-abad, bangunan Borobudur secara perlahan tertutup oleh material alam dan vegetasi. Candi ini kembali mendapat perhatian pada abad ke-19. Setelah ditemukan kembali, berbagai upaya dilakukan untuk membuka dan membersihkan struktur bangunan yang sebelumnya tertutup.

Perjalanan konservasi Borobudur kemudian berlanjut hingga abad ke-20. Salah satu pemugaran besar dilakukan melalui kerja sama internasional dengan UNESCO pada dekade 1970-an. UNESCO mencatat bahwa pemugaran tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menyelamatkan dan menjaga keberadaan kompleks candi.

Pada 1991, Borobudur akhirnya ditetapkan sebagai bagian dari World Heritage List UNESCO. Penetapan tersebut menjadikan Borobudur salah satu situs budaya Indonesia yang mendapatkan pengakuan internasional.

Tidak Berdiri Sendiri

Warisan budaya Borobudur tidak hanya berpusat pada bangunan utama. UNESCO mencatat Borobudur Temple Compounds terdiri atas tiga bangunan, yaitu Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon. Ketiganya berada pada satu garis dan memiliki hubungan dalam konteks perjalanan keagamaan menuju pencapaian nirwana.

Candi Mendut memiliki arca Buddha utama yang ditempatkan bersama dua Bodhisattwa. Sementara itu, Candi Pawon merupakan bangunan yang lebih kecil dan berada di antara Borobudur dan Mendut.

Keberadaan ketiga candi tersebut memperlihatkan bahwa Borobudur tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kawasan budaya di sekitarnya. Kompleks tersebut menjadi bagian dari lanskap sejarah yang lebih luas.

Masih Menjadi Bagian dari Kehidupan Keagamaan

Meskipun telah berusia lebih dari seribu tahun, Borobudur tidak hanya berfungsi sebagai situs arkeologi. Candi ini masih digunakan dalam kegiatan keagamaan umat Buddha. Salah satunya adalah perayaan Tri Suci Waisak yang setiap tahun menarik perhatian umat Buddha dari berbagai daerah dan negara.

Dalam konteks pariwisata, Borobudur juga menjadi tujuan bagi wisatawan yang ingin mengenal sejarah dan kebudayaan Indonesia. Pengunjung dapat melihat langsung struktur candi, relief, arca, dan stupa yang menjadi bagian dari peninggalan masa lalu.

Kawasan Borobudur juga memperlihatkan hubungan antara situs budaya dengan lingkungan sekitarnya. Lembah, perbukitan, dan lanskap Jawa Tengah menjadi bagian dari pengalaman ketika mengunjungi kawasan tersebut. Namun, status sebagai warisan dunia juga membawa tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan situs. Konservasi tidak hanya diperlukan agar batu dan relief tetap bertahan, tetapi juga untuk mempertahankan nilai sejarah, keagamaan, dan kebudayaan yang melekat pada Borobudur.

Warisan yang Melampaui Zaman

Lebih dari seribu tahun setelah dibangun, Borobudur masih menyimpan berbagai informasi mengenai peradaban yang pernah berkembang di Jawa. Susunan batu, relief, arca, dan stupa di dalamnya memperlihatkan kemampuan masyarakat masa lalu dalam membangun sebuah kompleks monumental sekaligus menghasilkan karya seni yang memiliki makna keagamaan. Pengakuan UNESCO pada 1991 memperkuat posisi Borobudur sebagai bagian dari warisan budaya dunia. Sementara itu, pencatatannya sebagai kandidat dalam kampanye New7Wonders menunjukkan bahwa bangunan ini juga pernah menjadi bagian dari perhatian publik internasional dalam pemilihan keajaiban dunia modern.

Borobudur kini tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu yang berdiri di Lembah Kedu. Di balik susunan batu dan ribuan reliefnya terdapat catatan mengenai sejarah, kepercayaan, seni, serta kehidupan masyarakat Jawa pada masa lampau. Setiap tingkat bangunan membawa bagian dari kisah yang berbeda. Setiap relief menyimpan cerita. Sementara setiap stupa menjadi bagian dari arsitektur yang membuat Borobudur tetap dikenali hingga kini.

Warisan tersebut menjadikan Borobudur bukan sekadar tempat untuk melihat bangunan bersejarah, tetapi juga ruang untuk memahami bagaimana sebuah peradaban meninggalkan jejaknya dan bagaimana jejak tersebut terus dipelajari lintas generasi. (Jihan Syaswina Aprilia)

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
https://mancingjitu.com/