Kenapa Ada Orang yang Jarang Sakit? Intip Kaitan Imunitas dan Genetik
InspirasiKalbar, Sains – Pernahkah Anda memperhatikan lingkungan sekitar Anda? Di tengah musim pancaroba atau saat virus flu sedang melanda kantor, selalu saja ada satu atau dua orang yang tampak sepenuhnya segar bugar. Mereka seolah memiliki “perisai gaib” yang membuat tubuh mereka kebal dari penularan penyakit, sementara orang-orang di sekitarnya harus tumbang bergantian mengenakan masker dan mengonsumsi obat-obatan.
Fenomena ini sering kali memicu rasa penasaran. Mengapa daya tahan tubuh setiap orang bisa berbeda begitu jauh? Apakah mereka yang jarang sakit sekadar beruntung, atau ada rahasia biologis tersembunyi di balik tubuh mereka?
Jawabannya ternyata tersimpan jauh di dalam inti sel tubuh manusia, yaitu pada faktor genetik atau DNA. Berbagai penelitian medis mutakhir membuktikan bahwa kemampuan tubuh dalam menghalau penyakit bukanlah hal acak, melainkan sebuah instruksi biologis yang diwariskan secara turun-temurun.
Cetak Biru Kekebalan Tubuh Manusia
Sistem imunitas manusia adalah jaringan kompleks yang terdiri dari sel, jaringan, dan organ yang bekerja sama untuk melindungi tubuh dari serangan luar seperti virus, bakteri, dan jamur. Sebuah studi berskala besar yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Nature Communications oleh para peneliti dari King’s College London mengungkapkan fakta mengejutkan.
Tim ilmuwan menganalisis lebih dari 23.000 sifat imun pada anak kembar dan menemukan bahwa hampir tiga perempat (75%) dari sifat kekebalan tubuh manusia dikendalikan oleh faktor genetik. Gen memegang kendali penuh, terutama pada imunitas adaptif, yaitu sistem pertahanan canggih yang bertugas mengingat, mengenali, dan memproduksi antibodi spesifik untuk menghancurkan musuh yang pernah masuk ke dalam tubuh. Artinya, sejak kita dilahirkan, DNA kita sudah membawa “cetak biru” yang menentukan seberapa cepat dan kuat pasukan imun kita dalam merespons ancaman luar.
Gen HLA, Resepsionis yang Mengatur Pertahanan
Salah satu aktor genetika paling krusial dalam menentukan kekuatan sistem imun adalah kelompok gen yang disebut Human Leukocyte Antigen (HLA). Kode genetik ini bertugas memproduksi protein yang menempel di permukaan sel-sel tubuh kita.
Bayangkan HLA sebagai “resepsionis” atau “antena radar” keamanan. Tugas utamanya adalah memindai setiap partikel yang masuk ke dalam tubuh, lalu memberikan laporan kepada sel T (sel pembunuh alami milik sistem imun) apakah partikel tersebut merupakan kawan atau lawan yang berbahaya.
Variasi genetik HLA pada setiap individu sangatlah unik. Orang-orang yang secara alami “jarang sakit” biasanya beruntung memiliki variasi gen HLA yang sangat sensitif dan efisien. Begitu ada virus flu atau bakteri merugikan yang menyelinap masuk, radar gen HLA mereka langsung mendeteksinya secara instan, mengaktifkan alarm tubuh, dan memerintahkan pasukan sel imun untuk membasmi ancaman tersebut sebelum sempat menimbulkan gejala infeksi.
Fenomena variasi genetik ini terbukti nyata secara ilmiah saat masa pandemi. Riset dari University of California, San Francisco (UCSF) menemukan bahwa orang yang memiliki variasi genetik spesifik bernama HLA-B*15:01 memiliki peluang hingga dua kali lebih besar untuk tidak bergejala (asimtomatik) saat terinfeksi virus SARS-CoV-2. Hal ini terjadi karena sel T di dalam tubuh mereka mampu mengenali dan menghancurkan virus dengan kecepatan luar biasa tinggi berkat instruksi gen tersebut.
Mutasi Langka, Si Pemilik “Super Imunitas”
Selain variasi gen HLA yang umum, dunia sains juga menemukan adanya individu-individu langka yang memiliki mutasi genetik ekstrem, membuat mereka kebal terhadap penyakit-penyakit mematikan.
Sebagai contoh nyata, ada mutasi genetik langka yang dinamakan CCR5-Δ32. Kelainan genetik ini justru membawa berkah tersembunyi bagi pemiliknya. Virus HIV memerlukan protein CCR5 sebagai pintu masuk untuk menginfeksi sel imun manusia. Namun, pada orang dengan mutasi CCR5-Δ32, struktur pintu tersebut rusak sehingga virus HIV terkunci di luar dan tidak bisa menginfeksi tubuh sama sekali. Pemilik mutasi ini secara alami menjadi kebal terhadap salah satu virus paling berbahaya di dunia.
Ada pula studi mengenai molekul ISG-15, di mana individu dengan mutasi tertentu pada molekul ini dilaporkan memiliki tubuh yang selalu berada dalam kondisi siaga antiviral tingkat rendah secara konstan. Dampaknya, mereka hampir tidak pernah mengalami sakit parah akibat infeksi virus musiman seperti influenza.
“Pedang Bermata Dua” dalam Kode Genetik Kita
Namun, memiliki gen penangkal penyakit yang terlalu aktif bukanlah tanpa risiko. Kelebihan ini sering kali digambarkan oleh para ilmuwan sebagai hukum kompensasi biologis atau “pedang bermata dua”.
Ketika variasi genetik membuat sistem imun seseorang menjadi sangat sensitif dan agresif terhadap serangan luar, sistem tersebut terkadang menjadi terlalu waspada. Dampaknya, pasukan pertahanan tubuh bisa mengalami kebingungan dalam membedakan mana zat asing yang berbahaya dan mana jaringan tubuh sehat yang harus dilindungi.
Riset genetik menunjukkan bahwa variasi gen imun yang kuat (seperti varian HLA-DR atau TYK2) yang membantu seseorang terhindar dari infeksi parah, di sisi lain, dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis, atau diabetes tipe 1. Tubuh mereka sangat hebat dalam melawan infeksi virus dari luar, tetapi rentan melakukan kesalahan fatal dengan menyerang organ tubuhnya sendiri.
Peran Penting Epigenetik
Membaca fakta bahwa 75% sifat imun dikendalikan oleh DNA mungkin membuat sebagian orang merasa berkecil hati, terutama mereka yang merasa terlahir dengan gen “gampang sakit”. Namun, sains membawa kabar baik: genetik bukanlah vonis mati yang tidak bisa diubah.
Di dalam dunia biologi molekuler, terdapat cabang ilmu yang disebut Epigenetik. Epigenetik mempelajari bagaimana faktor lingkungan dan perilaku manusia dapat mengaktifkan atau menonaktifkan saklar-saklar gen di dalam tubuh kita. Artinya, meskipun Anda membawa warisan genetik yang rentan terhadap penyakit, “saklar” penyakit tersebut tidak akan aktif selama Anda tidak memicunya dengan gaya hidup yang buruk.
Faktor-faktor harian seperti pola makan tinggi nutrisi (kaya vitamin C, D, dan Zinc), olahraga yang konsisten, manajemen stres yang baik, serta durasi tidur malam yang cukup, memegang peranan vital dalam memaksimalkan fungsi DNA kekebalan tubuh Anda. Gaya hidup sehat berfungsi layaknya pelatih yang mendidik pasukan imun bawaan lahir agar dapat bekerja lebih efisien, cerdas, dan tangguh.
Miisteri mengapa ada orang yang jarang sakit terjawab oleh kombinasi harmonis antara warisan genetik yang unggul dan investasi gaya hidup yang konsisten. Genetik memberikan modal dasar berupa struktur pertahanan tubuh, namun kebiasaan sehari-hari kitalah yang memelihara perisai tersebut agar tetap kokoh.
Bagi Anda yang merasa tidak memiliki keuntungan genetik ini, tidak perlu berkecil hati. Fokuslah pada hal-hal yang bisa Anda kendalikan secara mandiri: penuhi nutrisi harian, istirahat dengan cukup, aktif bergerak, dan biarkan sistem imun Anda bekerja optimal menjaga kesehatan Anda sepanjang waktu. (Rida Ulkibria)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini












