Ketika Menipu Online Makin Canggih, Mengapa Kita Masih Mudah Percaya?
InspirasiKalbar, Jakarta — Sebuah pesan masuk ke ponsel. Pengirimnya mengaku dari bank, perusahaan jasa pengiriman, marketplace, bahkan lembaga pemerintah. Isinya terlihat sederhana, mulai dari pemberitahuan transaksi, paket yang tertahan, hingga tawaran hadiah. Di bagian akhir, terdapat tautan yang meminta penerima melakukan sesuatu. Dalam beberapa kasus, pesan tersebut hanya membutuhkan beberapa detik untuk dibaca. Namun, ketika tautan dibuka atau data diberikan, akibatnya dapat berlangsung jauh lebih lama.
Penipuan dalam jaringan atau online scam semakin menjadi persoalan di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang digital. Komunikasi, transaksi, pembayaran, hingga berbagai layanan sehari-hari kini dapat dilakukan melalui perangkat yang sama. Kondisi tersebut membuat modus penipuan ikut berkembang mengikuti kebiasaan pengguna internet.
Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menunjukkan besarnya skala persoalan tersebut. Sejak mulai beroperasi pada 22 November 2024 hingga 31 Agustus 2026, IASC menerima 668.441 laporan penipuan. Dari laporan tersebut, terdapat 1.276.688 rekening yang dilaporkan dan telah diverifikasi. Sebanyak 659.419 rekening di antaranya telah diblokir. Angka tersebut menunjukkan bahwa penipuan digital bukan lagi persoalan yang muncul sesekali melalui pesan mencurigakan. Modusnya dapat masuk melalui berbagai jalur yang sudah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
Modus yang Mengikuti Kebiasaan Pengguna
Penipu tidak selalu menawarkan sesuatu yang terlihat terlalu bagus untuk dipercaya. Sebagian modus justru dibuat menyerupai situasi yang biasa ditemui pengguna. Pesan mengenai paket yang belum diterima, misalnya, dapat muncul ketika seseorang memang sedang menunggu barang. Begitu pula pemberitahuan mengenai transaksi atau akun yang bermasalah dapat terlihat meyakinkan ketika dikirim dengan menggunakan nama dan identitas visual yang menyerupai perusahaan resmi. Perkembangan teknologi membuat penyamaran tersebut semakin mudah dilakukan. Penipu dapat memanfaatkan nama perusahaan, logo, tampilan laman, hingga gaya bahasa yang dibuat menyerupai komunikasi resmi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut modus penipuan digital terus berkembang dan dapat melibatkan berbagai sektor. Penanganannya pun tidak hanya berkaitan dengan sektor keuangan, tetapi juga komunikasi, platform digital, penyedia jasa pembayaran, hingga aliran dana hasil kejahatan.
Karena itu, satu bentuk penipuan dapat melibatkan beberapa tahapan sekaligus. Komunikasi awal digunakan untuk menarik perhatian korban, kemudian korban diarahkan ke platform tertentu sebelum akhirnya diminta memberikan informasi atau melakukan transaksi.
Angka Kerugian Tidak Berhenti pada Satu Korban
Besarnya jumlah laporan juga menggambarkan dampak ekonomi yang ditimbulkan. OJK mencatat, berdasarkan data IASC hingga Juni 2026, terdapat lebih dari 608 ribu kasus penipuan. Pada periode tersebut, lebih dari 557 ribu rekening telah diblokir, sementara dana sekitar Rp674 miliar berhasil diamankan atau diblokir. Hampir Rp200 miliar dana korban juga berhasil dikembalikan. Data tersebut terus bertambah pada periode berikutnya. Hingga akhir Agustus 2026, jumlah laporan yang masuk ke IASC telah mencapai 668.441 laporan.
Selain jumlah laporan, banyaknya rekening yang dilaporkan juga memperlihatkan bahwa aliran dana dari kasus penipuan dapat melibatkan banyak rekening. Dalam praktiknya, rekening yang digunakan untuk menerima dana tidak selalu menjadi satu-satunya bagian dari jaringan penipuan. Kementerian Komunikasi dan Digital pada September 2026 juga menyebut hampir 670 ribu laporan penipuan online telah diterima IASC hingga Agustus. Lebih dari 1,2 juta rekening turut dilaporkan dalam kasus-kasus tersebut.
Mengapa Pesan Palsu Bisa Terlihat Meyakinkan?
Salah satu cara penipuan digital bekerja adalah dengan menciptakan situasi yang membuat seseorang merasa harus segera mengambil keputusan.
Pesan seperti “akun akan diblokir”, “paket gagal dikirim”, atau “transaksi mencurigakan terdeteksi” dapat membuat penerima lebih fokus pada masalah yang disebutkan daripada memeriksa kebenaran pesan tersebut. Teknik semacam ini memanfaatkan situasi yang dekat dengan aktivitas sehari-hari. Ketika seseorang memang sedang menunggu paket atau baru melakukan transaksi, pesan palsu yang berkaitan dengan kegiatan tersebut dapat terlihat lebih masuk akal.
Penipu juga dapat menggunakan batas waktu untuk menciptakan tekanan. Penerima diarahkan agar segera mengeklik tautan, menghubungi nomor tertentu, atau memberikan informasi sebelum kesempatan dianggap berakhir. Dalam kondisi tersebut, pemeriksaan sederhana seperti melihat alamat pengirim atau membuka aplikasi resmi secara langsung dapat terlewat.
OJK mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh penawaran yang tidak wajar, memastikan legalitas pihak yang menawarkan produk atau layanan melalui kanal resmi, serta menjaga kerahasiaan data pribadi seperti kata sandi dan kode OTP.
Data Pribadi Menjadi Bagian Penting
Penipuan digital tidak selalu bertujuan mendapatkan uang secara langsung. Data pribadi juga dapat menjadi sasaran. Nama, nomor telepon, alamat surat elektronik, informasi rekening, kata sandi, hingga kode OTP dapat digunakan untuk mengakses layanan tertentu atau mendukung modus penipuan berikutnya. Karena itu, pesan yang meminta informasi pribadi perlu diperiksa terlebih dahulu. Perusahaan atau lembaga resmi memiliki saluran komunikasi dan layanan yang dapat digunakan untuk melakukan verifikasi.
Jika menerima pemberitahuan mengenai rekening atau transaksi, pengguna dapat memeriksanya melalui aplikasi atau situs resmi dengan mengetik alamat secara mandiri, bukan melalui tautan yang dikirimkan dalam pesan. Cara tersebut juga membantu menghindari laman tiruan yang dibuat menyerupai situs resmi.
Penipuan Tidak Hanya Terjadi Melalui Pesan Singkat
Ruang digital yang digunakan masyarakat semakin luas. Penipuan dapat muncul melalui pesan pribadi, media sosial, platform perdagangan elektronik, panggilan telepon, hingga berbagai layanan komunikasi lainnya.
Dalam sejumlah kasus, pelaku juga dapat menggabungkan beberapa saluran komunikasi. Percakapan yang dimulai melalui media sosial dapat dilanjutkan melalui aplikasi pesan, kemudian korban diarahkan ke rekening atau layanan pembayaran tertentu.
Kompleksitas tersebut membuat penanganan penipuan membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Komdigi pada September 2026 menyatakan penanganan scam membutuhkan koordinasi antara pemerintah, regulator, aparat penegak hukum, dan pelaku industri. Setiap pihak memiliki peran berbeda, mulai dari pencegahan, pendeteksian, pemblokiran, penelusuran transaksi, hingga penanganan laporan korban.
Apa yang Perlu Dilakukan Saat Menemukan Dugaan Penipuan?
Ketika menerima pesan yang mencurigakan, langkah pertama adalah tidak terburu-buru mengikuti instruksi yang diberikan.
Tautan dalam pesan dapat diabaikan terlebih dahulu. Informasi mengenai transaksi, akun, paket, atau layanan tertentu sebaiknya diperiksa melalui kanal resmi perusahaan atau lembaga terkait.
Kode OTP, PIN, kata sandi, dan data keamanan lainnya juga tidak boleh diberikan kepada pihak lain. Apabila seseorang mengaku sebagai petugas bank atau penyedia layanan, identitasnya tetap perlu diverifikasi melalui kanal resmi.
Jika sudah terjadi transaksi atau terdapat indikasi penipuan, laporan perlu dilakukan sesegera mungkin. OJK menyediakan Indonesia Anti-Scam Centre untuk penanganan laporan penipuan transaksi keuangan. Semakin cepat laporan diterima, semakin cepat pula proses penelusuran dan pemblokiran rekening terkait dapat dilakukan.
Ketika Kecepatan Digital Berhadapan dengan Kehati-hatian
Teknologi membuat banyak urusan menjadi lebih cepat. Pembayaran dapat dilakukan dalam hitungan detik, barang dapat dipesan tanpa datang ke toko, dan komunikasi dapat berlangsung tanpa mengenal jarak.
Pada saat yang sama, kecepatan tersebut menciptakan ruang baru bagi penipuan. Pesan dapat dikirim kepada banyak orang dalam waktu singkat, sementara transaksi dapat berpindah melalui berbagai rekening dan layanan pembayaran.
Data IASC hingga Agustus 2026 memperlihatkan bahwa persoalan tersebut memiliki skala yang luas. Sebanyak 668.441 laporan telah diterima sejak pusat penanganan tersebut beroperasi, dengan lebih dari 1,27 juta rekening dilaporkan dan diverifikasi.
Di tengah aktivitas digital yang semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari, mengenali pesan mencurigakan menjadi bagian dari keamanan dalam menggunakan layanan digital. Sebuah pesan yang terlihat resmi tetap perlu diperiksa sebelum informasi diberikan atau transaksi dilakukan.
Sebab, dalam penipuan online, beberapa detik untuk berhenti dan memeriksa dapat menjadi pembeda antara sebuah pesan yang hanya berakhir di layar ponsel dan kerugian yang harus ditangani setelahnya. (Jihan Syaswina Aprilia)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini














