Inspirasi Kalbar
Beranda Internasional Sisi Gelap AI yang Boros Energi dan Alasan Nuklir Jadi Solusi

Sisi Gelap AI yang Boros Energi dan Alasan Nuklir Jadi Solusi

InspirasiKalbar, Techno – Perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) telah membawa manusia ke era baru yang luar biasa. Dari membuat gambar otomatis hingga membantu riset medis, AI terasa seperti sihir digital. Namun, di balik kecanggihannya yang tidak kasat mata, ada harga fisik yang sangat besar yang harus dibayar oleh bumi. AI sangat haus energi.

Saat Anda mengetik sebuah perintah di ChatGPT atau meminta AI menghasilkan gambar, ada deretan komputer raksasa di pusat data (data center) yang bekerja keras dengan suhu super panas. Menurut analisis International Atomic Energy Agency (IAEA), konsumsi listrik pusat data global diperkirakan melonjak drastis hingga lebih dari 1.000 Terawatt-hour (TWh). Sebagai gambaran, jumlah energi sebesar itu setara dengan total konsumsi listrik seluruh negara Jepang.

Lonjakan kebutuhan energi ini memicu dilema besar bagi perusahaan teknologi raksasa (Big Tech) seperti Microsoft, Google, dan Amazon. Di satu sisi mereka ingin mendominasi pasar AI, di sisi lain mereka memiliki komitmen global untuk mencapai Net-Zero Emission (bebas emisi karbon).

Solusi apa yang mereka pilih? Jawabannya mengejutkan banyak pihak: “Energi Nuklir”

Mengapa AI Begitu Rakus Energi?

Pusat data konvensional yang digunakan untuk menyimpan email atau video streaming membutuhkan daya yang konstan. Namun, pusat data AI membutuhkan daya yang jauh lebih masif. Menurut pelacakan data industri dari iRecruit.co, sebuah fasilitas pusat data yang berfokus pada AI kini memerlukan daya hingga 80 Megawatt (MW), naik lebih dari dua kali lipat dibanding standar pusat data biasa yang “hanya” menghabiskan 32 MW.

Mengapa bisa demikian? Proses training (melatih) model bahasa raksasa membutuhkan ribuan kartu grafis (GPU) canggih yang bekerja tanpa henti selama berbulan-bulan. Selain menyedot listrik dalam jumlah luar biasa besar, mesin-mesin ini menghasilkan panas ekstrem yang membutuhkan sistem pendingin berbasis air bersih skala raksasa untuk mencegah kerusakan sistem.

Jika kebutuhan energi ini dipasok oleh pembangkit listrik berbahan bakar fosil (seperti batu bara atau gas alam), maka impian untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim akan hancur seketika. Sayangnya, energi terbarukan seperti angin dan matahari memiliki sifat musiman (intermittent) mereka tidak bisa menghasilkan listrik saat angin mati atau malam hari. Padahal, pusat data AI membutuhkan pasokan listrik stabil 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Di sinilah energi nuklir masuk sebagai penyelamat.

Solusi Baru Yaitu Reaktor Modular Kecil (SMR)

Bila mendengar kata “nuklir”, bayangan kita mungkin tertuju pada bencana Chernobyl atau reaktor raksasa dengan menara pendingin yang masif. Namun, industri teknologi saat ini tidak mengincar nuklir konvensional tersebut. Mereka beralih ke inovasi terbaru: Small Modular Reactors (SMR) atau Reaktor Modular Kecil.

SMR adalah reaktor nuklir generasi baru yang memiliki ukuran jauh lebih kecil dan fleksibel. Keunggulan utama SMR meliputi:

  • Ukuran Ringkas & Fleksibel: SMR tidak memerlukan lahan super luas dan dapat dibangun langsung di dekat lokasi pusat data AI.
  • Keamanan Tingkat Tinggi: Didesain dengan sistem keselamatan pasif. Jika terjadi kegagalan sistem atau mati listrik, reaktor akan mati secara otomatis tanpa campur tangan manusia, meminimalkan risiko kebocoran.
  • Daya Konstan: Memiliki faktor kapasitas di atas 93%, artinya nuklir bekerja penuh hampir sepanjang tahun tanpa terpengaruh cuaca.

Langkah Big Tech untuk mengadopsi nuklir bukan lagi sekadar rencana di atas kertas, melainkan investasi nyata bernilai miliaran dolar.

  1. Microsoft: Menandatangani kesepakatan besar untuk menghidupkan kembali salah satu reaktor di Pembangkit Listrik Nuklir Three Mile Island di Pennsylvania guna memasok daya pusat data mereka.
  2. Amazon: Mengamankan kesepakatan kampus data center berkapasitas 960 MW yang terhubung langsung dengan pembangkit listrik tenaga nuklir Susquehanna.
  3. Google: Menjalin kerja sama dengan Kairos Power untuk membangun beberapa reaktor modular kecil (SMR) pertama yang ditargetkan mulai beroperasi untuk menyuplai energi bersih bagi AI mereka.

Bagaimana dengan Indonesia?

Tren global ini juga menjadi refleksi penting bagi Indonesia. Saat ini, pemerintah Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang serius mengkaji teknologi SMR. Sebagai negara kepulauan, reaktor nuklir skala kecil dinilai sangat cocok untuk menyuplai energi bersih di wilayah-wilayah spesifik yang membutuhkan daya konstan di bawah 300 Megawatt. Seiring dengan masuknya investasi teknologi dan pembangunan pusat data baru di tanah air, pemanfaatan energi nuklir generasi baru bisa menjadi kunci agar digitalisasi Indonesia tidak merusak kekayaan alamnya.

Kecerdasan Buatan (AI) menjanjikan masa depan yang penuh dengan kemudahan dan lompatan inovasi. Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap jejak karbon tersembunyi dari setiap instruksi digital yang kita kirimkan.

Pemanfaatan energi nuklir generasi baru seperti SMR menjadi bukti nyata bahwa sains harus saling menopang. Untuk menghidupkan kecerdasan buatan paling mutakhir, kita membutuhkan salah satu pencapaian fisika terbesar manusia: energi dari inti atom yang aman, andal, dan bebas emisi karbon. Melalui sinergi ini, masa depan digital yang cerdas tidak harus mengorbankan masa depan planet bumi. (Rida Ulkibria) 

 

Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!

Klik Disini
Bagikan:

Iklan

// Tells WordPress to load the WordPress theme and inpput it.
https://mancingjitu.com/