Menelusuri Jejak Purba dan Geliat Ekonomi: Dinamika Wisata Edukasi Erupsi di Lereng Gunung Merapi
InspirasiKalbar, Sleman — Deru mesin kendaraan penggerak empat roda (four-wheel drive) terdengar memecah keheningan lereng selatan Gunung Merapi di kawasan Kaliurang, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman. Kendaraan rakitan berbasis jip klasik ini melintasi jalur berbatu, menerjang genangan air, dan menyusuri alur sungai mati yang pernah dialiri material vulkanik. Pemandangan ini merupakan bagian dari operasional wisata petualangan Jeep Tour Merapi, salah satu atraksi wisata berbasis mitigasi bencana dan sejarah erupsi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pemanfaatan kawasan terdampak bencana menjadi destinasi wisata edukasi dan alam memperlihatkan transformasi kawasan lereng Merapi. Bekas lintasan awan panas (wedhus gembel) dan aliran lahar dari peristiwa erupsi beruntun, terutama erupsi besar pada tahun 2006 dan 2010 kini dikelola menjadi objek pariwisata yang memberikan dampak ekonomi secara berkelanjutan bagi warga lokal.
Pusat Informasi dan Edukasi Kebencanaan di Museum Gunungapi Merapi

Perjalanan penelusuran sejarah vulkanik umumnya dimulai dari Museum Gunungapi Merapi (MGM) yang terletak di Jalan Boyong, Hargobinangun, Kapanewon Pakem. Bangunan bermarsitektur menyerupai trapesium atau gunung api ini berdiri di atas lahan seluas 3,4 hektar dan berfungsi sebagai pusat informasi geologi, edukasi kebencanaan, serta konservasi lingkungan.
Di dalam museum, pengunjung disajikan berbagai fasilitas peraga edukatif, antara lain:
- Maket Areal Dinamis: Maket berskala besar yang mensimulasikan proses erupsi Gunung Merapi lengkap dengan pencahayaan dan efek suara simulasi.
- Artefak Terdampak Erupsi: Deretan benda peninggalan warga yang terkena dampak langsung awan panas, seperti bangkai sepeda motor yang meleleh, peralatan dapur, gawai, hingga jam dinding yang berhenti tepat pada waktu terjadinya erupsi tahun 2010.
- Ruang Teater Audiovisual: Pemutaran film dokumenter mengenai sejarah erupsi, karakteristik magmatis, serta pola pemantauan aktivitas gunung api yang dilakukan oleh Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Pencatatan statistik kunjungan mengindikasikan bahwa museum ini menjadi salah satu tujuan utama kegiatan studi lapangan (field trip) bagi kalangan pelajar, mahasiswa, dan peneliti geologi dari berbagai daerah di Indonesia.
Saksi Bisu Material Vulkanik: Fenomena Batu Alien

Melanjutkan perjalanan ke kawasan yang lebih tinggi di Kapanewon Cangkringan, wisatawan dipertemukan dengan situs Batu Alien yang berada di Dusun Jambu, Kalurahan Kepuharjo. Istilah “Alien” berasal dari dialek lokal alih-an (pindahan), yang merujuk pada batu berukuran sangat besar yang terlempar keluar dari kawah Gunung Merapi saat erupsi tahun 2010.
Batu berbobot puluhan ton ini memiliki permukaan yang tidak rata. Dari sudut pandang tertentu, lekukan dan tekstur batuan basal tersebut menyerupai bentuk wajah manusia dengan mata, hidung, dan mulut yang samar.
Kehadiran situs ini dikelola oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis) setempat dengan menyediakan anjungan pandang ke arah Puncak Merapi dan jurang Sungai Gendol yang menjadi jalur utama aliran lahar dingin.
Monumen Ketangguhan Warga: Bunker Kaliadem
Titik terdekat yang aman dijangkau wisatawan dalam skenario status normal adalah kawasan Kaliadem, Kalurahan Kinahrejo. Di lokasi ini berdiri struktur beton bawah tanah yang dikenal sebagai Bunker Kaliadem (Bunker Merapi).
Bunker ini dibangun pada tahun 2001 oleh Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai tempat perlindungan darurat bagi relawan dan warga setempat dari ancaman awan panas mendadak. Namun, dalam peristiwa erupsi besar tahun 2006, dua relawan gugur di dalam struktur tersebut akibat tertimbun material awan panas bersuhu ratusan derajat Celsius yang mengendap di atas pintu bunker selama berhari-hari.
Saat ini, pintu bunker tebal dari besi tersebut dibuka bagi umum. Pengunjung dapat memasuki bagian dalam ruang bunker yang kini berfungsi sebagai monumen sejarah ketangguhan masyarakat lereng Merapi dalam menghadapi bencana alam.
Ekosistem Wisata Jeep dan Penggerak Ekonomi Lokal
Dampak paling nyata dari komersialisasi pariwisata pasca-erupsi adalah tumbuhnya asosiasi pengemudi jip (Jeep Tour). Berdasarkan data Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM), saat ini terdapat puluhan komunitas pengelola jip dengan total armada mencapai ratusan unit yang beroperasi di wilayah Pakem dan Cangkringan. Paket wisata jip dibagi berdasarkan durasi dan rute lintasan (short, medium, long route), yang mencakup rute perjalanan ke Museum Sisa Hartaku, Batu Alien, Bunker Kaliadem, hingga atraksi manuver kendaraan di area off-road Kalikuning. Rantai nilai ekonomi dari operasional jip ini menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar, meliputi:
- Pengemudi dan Pemandu Wisata: Pembukaan lapangan kerja langsung bagi pemuda desa dan mantan peternak atau petani yang kehilangan lahan produktif akibat erupsi.
- Jasa Perawatan dan Otomotif: Pertumbuhan bengkel lokal untuk perawatan berkala sistem pengereman, mesin, dan ban kendaraan penggerak empat roda.
- Perekonomian Ritel dan Kuliner: Menjamurnya kedai kopi lokal (seperti Kopi Merapi), warung makan tradisional, serta toko oleh-oleh kerajinan batu candi di sepanjang rute perjalanan.
Keseimbangan Antara Pariwisata dan Mitigasi Bencana
Pengembangan pariwisata berbasis bencana di lereng Gunung Merapi menunjukkan bagaimana masyarakat lokal mampu beradaptasi dengan potensi risiko geologis di wilayah tempat tinggal mereka.
Meskipun memberikan manfaat ekonomi yang signifikan, operasional kegiatan pariwisata di kawasan rawan bencana (KRB) tetap terikat pada rekomendasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Pengelola wisata secara berkala memperbarui rute dan membatasi radius jarak aman sesuai dengan pemantauan tingkat aktivitas status Gunung Merapi. (Jihan Syaswina Aprilia)
Temukan Berita terbaru dari Inspirasi Kalbar, hanya disini!
Klik Disini









